Lombok Tengah (ANTARA) - Puluhan pemuda yang tergabung dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan dukungan untuk penertiban tarian erotis yang tampil pada kesenian kecimol (musik jalanan), karena meresahkan masyarakat.

"Kami mendukung keberadaan Peraturan Desa (Perdes) karena selama ini desa sudah mulai jenuh atas sikap beberapa grup kecimol yang dianggap sudah membuat keresahan di tengah masyarakat," kata salah seorang pengurus KNPI Lombok Tengah Ahmad Jamharir saat hering di kantor DPRD Lombok Tengah, Kamis.

Selama ini keberadaan kecimol dengan tarian erotis sudah sangat meresahkan, karena dianggap sangat merusak moral anak bangsa. Terlebih aksi tarian erotis itu dipertontonkan di khalayak ramai yang tidak jarang juga ditonton oleh anak-anak.

“Kami meminta agar pemerintah membuatkan aturan yang tegas soal kecimol ini agar bisa lebih tertib lagi," katanya.

Baca juga: DPRD Lombok Tengah respons positif tuntutan asosiasi musik kecimol

Tidak hanya masalah tarian erotis, tapi pakaian yang digunakan juga agar bisa lebih rapat. 

"Ini malah mau membubarkan Perdes yang sudah jelas pembuatannya memiliki dasar hukum yang kuat,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa persoalan yang ditimbulkan oleh tarian erotis ini menjadi tanggung jawab moral seluruh masyarakat. Ia meminta agar ada regulasi yang mengatur kecimol itu, karena jangan sampai generasi muda atau anak-anak moralnya menjadi rusak akibat tarian anco-anco (goyang pinggul)

“Kita berusaha meningkatkan pariwisata halal tapi tarian erotis di kecimol dan disaksikan oleh masyarakat dan mempergunakan hal yang jauh dari nilai islam," katanya.

Baca juga: Pro kontra Kecimol, Antar warga Gereneng Lotim bentrok di kantor desa

Ini malah mau mencabut Perdes, mereka tidak sadar bahwa Perdes dibuat karena ulah kecimol maka semestinya introspeksi diri baru komentar para pelaku seni kecimol ini.

Sementara itu, Anggota DPRD Lombok Tengah, Nurul Adha mengatakan tidak bisa dibenarkan tarian erotis terus berkembang di tengah masyarakat terutama yang ditampilkan oleh beberapa grup kecimol. Ia juga mengaku miris bahwa tidak jarang joget yang tidak senonoh ditampilkan di publik dan dilihat oleh anak-anak. 

“Maka sepakat kita carikan regulasi dan saya paling tidak sepakat ketika saya melihat seorang perempuan mempertontonkan auratnya," katanya.

" Saya risih sebagai seorang perempuan, ketika ada yang mempertontonkan auratnya," katanya.

Ia mengatakan hal itu tidak selayaknya dipertontonkan di jalan ramai, karena ada anak sekolah, semua anak melihat, sehingga sepakat untuk membuat regulasi.

"Kami sepakat membuat regulasi terkait kecimol maupun kesenian lainnya," katanya.

Baca juga: DPRD Lombok Tengah-NTB minta tarian kecimol diatur

Baca juga: Bupati Lombok Tengah meminta grup musik kecimol tak ganggu masyarakat



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026