Lombok Barat (ANTARA) - Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat, Hj. Erni Suryana S.Si., MM, menegaskan peran strategis bidan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak dalam menekan angka stunting, kematian ibu, dan kematian bayi di daerah tersebut.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan pembekalan dan monitoring bagi bidan asuh yang menangani balita berisiko stunting di Aula Dinas Kesehatan Lombok Barat, Rabu (4/2).
Kegiatan yang diikuti pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Lombok Barat hingga tingkat ranting tersebut menjadi ruang konsolidasi antara organisasi profesi dan pemerintah daerah dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis lapangan.
Erni menilai, bidan tidak hanya berperan sebagai tenaga kesehatan, tetapi juga sebagai pelaksana program strategis pemerintah di tingkat paling dekat dengan masyarakat.
“Bidan ini punya peran ganda. Selain sebagai anggota organisasi profesi IBI, teman-teman juga menjadi pelaksana program di lapangan. Artinya, bidan adalah garda terdepan sekaligus penjaga utama dalam pencapaian target kesehatan ibu dan anak,” kata Erni.
Baca juga: Tak cukup susu, Wabup Lombok Barat dorong pendampingan total keluarga stunting
Ia mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat telah menandatangani perjanjian kinerja dengan kepala daerah yang memuat sejumlah target prioritas bidang kesehatan.
Salah satu fokus utama adalah penurunan angka kematian ibu (AKI) yang pada 2025 tercatat berada di angka 12. Target pada 2026 ditetapkan turun menjadi 10, bahkan diharapkan mendekati nol.
“Awal tahun ini sudah tercatat dua kasus. Ini menjadi alarm bagi kita semua. Sistem pemantauan harus diperkuat, mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga proses persalinan,” ujarnya.
Selain AKI, target penurunan angka kematian bayi (AKB) juga menjadi perhatian serius. Saat ini, angka kematian bayi di Lombok Barat berada di kisaran 70, dengan target turun menjadi 60 pada 2026.
Baca juga: Memutus akar persoalan sosial di NTB
Erni menegaskan seluruh jajaran, mulai dari dinas kesehatan, kepala puskesmas, hingga bidan di lapangan, memiliki komitmen bersama untuk mencapai target tersebut.
Tak kalah penting, penurunan prevalensi stunting menjadi agenda utama yang harus dikerjakan secara kolaboratif. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting Lombok Barat masih berada di angka 27 persen. Menurut Erni, upaya percepatan penurunan stunting membutuhkan sinergi lintas sektor dan konsistensi pendampingan keluarga oleh bidan.
“Bidan sudah sangat paham persoalan kesehatan ibu dan anak. Dengan pendampingan yang kuat, pemantauan rutin, dan intervensi tepat, saya yakin target penurunan stunting bisa kita kejar bersama,” katanya.
Melalui pembekalan dan monitoring ini, Dinas Kesehatan Lombok Barat berharap kapasitas bidan semakin kuat, peran organisasi profesi semakin solid, dan pelayanan kesehatan ibu serta anak dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Lombok Barat.
Baca juga: Anggota DPR RI ajak warga Kuripan Lombok Barat dukung program MBG
Baca juga: Wagub NTB mengapresiasi penurunan stunting di Lombok Barat
Baca juga: Pemkab Lombok Barat salurkan telur dan susu entaskan stunting
Pewarta : M. Akbar
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026