Surabaya (ANTARA) - Dalam percaturan kesadaran spiritual umat manusia, tidak ada yang lebih mengoyak batin daripada perilaku yang menyatakan diri dekat dengan Allâh namun menjauh dari hakekat tauhid itu sendiri—yakni apa yang bisa disebut iblisisme religius. Fenomena ini tidak sekadar jebakan sosial, tetapi lupa batin yang berakar di relung jiwa. Fenomena ini bukan sekadar kemunafikan normatif, tetapi kemunafikan yang memakai bahasa langit sembari mengokupasi ruang kedalaman batin.

Mari kita eksplorasi ini dengan merujuk pada pikiran beberapa cendekiawan Muslim—perpaduan intelektualitas dan emosi batin yang menyentuh kesadaran kita.

1. Dari Batin ke Tindakan: Kenapa Iblisisme Religius Bisa Terjadi?

Pemikir seperti Hamid Fahmy Zarkasyi dan koleganya di INSISTS melihat bahwa dunia pemikiran Islam kontemporer tengah dihadapkan pada masalah serius: distorsi realitas religius melalui pendekatan sekuler, liberal, atau hermeneutik yang tak disiplin secara epistemologis. Agama direduksi menjadi fenomena sosial, teks historis, atau produk budaya—sementara dimensi hakikat, adab, dan tazkiyatun-nafs tersisih.

Dalam berbagai tulisan dan kuliahnya, Zarkasyi menekankan bahwa intelektualitas tanpa adab melahirkan kecerdasan yang liar. Pengetahuan menjadi tajam, tetapi tidak jinak. Argumen menjadi kuat, tetapi tidak tunduk. Maka lahirlah tipe religius yang fasih berbicara tentang kebenaran, namun tidak siap diperbaiki oleh kebenaran.

Di sinilah benih iblisisme religius: ketika tahu tidak lagi melahirkan taat, dan taat digantikan oleh bangga diri. Logika bergerak, tetapi hati tidak bersujud.

2. Krisis Adab dan Kehilangan Makna Ilmu

Akar persoalan ini lebih dalam lagi telah lama dibedah oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas melalui konsep loss of adab. Menurutnya, krisis utama umat bukan pertama-tama krisis ekonomi, politik, atau teknologi—melainkan krisis adab dalam ilmu. Ilmu tidak lagi menempatkan sesuatu pada tempatnya. Otoritas tidak lagi dikenali. Hirarki makna runtuh. Yang dangkal diperlakukan setara dengan yang prinsipil. Yang opini disejajarkan dengan wahyu.

Ketika adab runtuh, terjadi pembalikan halus: yang vokal dianggap alim, yang populer dianggap benar, yang kontroversial dianggap mendalam, yang tawadhu dianggap lemah. 

Dalam kerangka ini, iblisisme religius adalah bentuk paling ekstrem dari loss of adab: mengetahui Allâh sebagai konsep, tetapi tidak menempatkan diri sebagai hamba. Mengenal dalil, tetapi tidak mengenal diri. Iblis tidak ateis. Ia teologis. Ia mengenal Allâh—tetapi menolak perintah. Di situlah tragedinya.

3. Hermeneutika, Tafsir, dan Relativisme Makna

Kritik terhadap relativisme penafsiran banyak disuarakan oleh Adian Husaini dan Adnin Armas. Mereka menyoroti bahaya adopsi hermeneutika Barat secara mentah dalam studi al-Qur’an. Masalahnya bukan sekadar metode, tetapi muatan filsafat di balik metode.

Jika teks wahyu diperlakukan sama dengan teks manusia, maka: otoritas ilahi larut dalam negosiasi makna, kepastian berubah menjadi kemungkinan, hidayah berubah menjadi wacana

Adian Husaini berulang kali menegaskan bahwa kerusakan epistemologi akan berujung pada kerusakan aksiologi. Cara mengetahui yang keliru akan melahirkan cara hidup yang keliru. Dari sini, iblisisme religius menemukan jalur intelektualnya: membenarkan penyimpangan dengan perangkat teori.

Dosa tidak lagi diakui—ia dinegosiasikan. Larangan tidak lagi ditaati—ia ditafsir ulang. Batas tidak lagi dihormati—ia diperdebatkan sampai hilang.

4. Ketegangan Pluralitas dan Klaim Kebenaran

Syamsuddin Arif mengingatkan bahwa dalam diskursus modern tentang pluralisme dan kebenaran, ada kecenderungan untuk mencairkan klaim kebenaran demi toleransi. Niatnya tampak mulia, tetapi secara teologis bisa berbahaya bila tidak dibatasi dengan disiplin akidah.

Mengakui keberadaan agama lain adalah fakta. Mengakui semua kebenaran sama adalah masalah. Ketika batas ontologis kebenaran dihapus, komitmen akidah melemah. Dari situ muncul religiusitas cair: ramah secara sosial, tetapi rapuh secara teologis. Dalam kondisi ini, iblisisme religius bisa berwujud halus—bukan keras dan kasar—melainkan lunak tapi longgar, toleran tapi kehilangan tulang punggung tauhid.

5. Psikologi Topeng Kesalehan

Di tingkat psikologis, iblisisme religius bekerja seperti mekanisme pertahanan ego. Ia membangun tiga lapis topeng: Topeng simbolik — pakaian, istilah, slogan, identitas. Topeng retoris — dalil, kutipan, jargon keilmuan. Topeng moral — citra pejuang kebenaran

Di baliknya, tersembunyi dorongan yang sangat manusiawi tapi berbahaya: ingin unggul, ingin diakui, ingin dominan. Agama dijadikan kendaraan sublimasi ego. Ciri batinnya bisa dikenali: sulit mengakui salah alergi kritik selektif memakai dalil keras ke luar, lunak ke diri. Ini bukan sekadar cacat akhlak. Ini deformasi kesadaran.

6. Kata-Nyata di Bawah Permukaan Ritual dan Identitas

Apa yang membedakan iblisisme religius dari kesalahan moral biasa? 

Seseorang masih berbicara tentang Allâh, tetapi jiwanya kosong dari rasa diawasi. Seseorang masih berdiri di mimbar, tetapi hatinya berdiri di depan cermin popularitas. Seseorang masih membaca ayat, tetapi ayat tidak pernah “membaca” dirinya.

Tradisi ulama sejak dahulu mengingatkan: dosa yang disadari lebih dekat kepada ampunan daripada kesalehan yang dibanggakan. Karena yang pertama melahirkan tangis, yang kedua melahirkan keras hati.

7. Jalan Keluar: Tajdid Batin, Bukan Sekadar Tajdid Wacana

Perbaikan tidak cukup di level diskursus. Ia harus masuk ke wilayah tazkiyah. Pembaruan pemikiran tanpa pembersihan hati hanya melahirkan generasi cerdas yang kering.

Beberapa disiplin batin yang menjadi penangkal iblisisme religius: muhasabah harian: audit niat sebelum audit orang lain taubat intelektual: siap mencabut pendapat jika keliru adab terhadap ilmu: belajar untuk berubah, bukan menang latihan tunduk: membiasakan diri menerima koreksi

Tauhid bukan hanya proposisi teologis. Ia adalah posisi eksistensial: tahu tempat, tahu batas, tahu siapa hamba dan siapa Robb.

Penutup: Ujian Terhalus di Bulan Penyucian

Dalam menyongsong Romadhon, ujian terbesar bukan menahan lapar—tetapi menahan kepura-puraan. Bukan sekadar memperbanyak amal—tetapi membersihkan motif amal. Iblisisme religius tidak roboh oleh debat. Ia roboh oleh kejujuran. Ia tidak runtuh oleh retorika. Ia runtuh oleh kerendahan hati.

Mari bertanya dengan getir tapi jernih: Apakah ibadah kita melembutkan hati — atau menajamkan ego? Apakah ilmu kita menambah takut — atau menambah rasa paling tahu? Apakah dakwah kita mengajak — atau memukul?

Jika hati mulai bergetar saat pertanyaan itu dibaca, di situlah harapan masih hidup. Semoga yang disucikan bukan hanya jadwal kita—tetapi jiwa kita. Marhaban yaa Romadhon.


*) Penulis adalah Founder Islamic Lombok Forum dan CEO Kaffa Business Coach





COPYRIGHT © ANTARA 2026