Mataram (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat menyebutkan volume sampah selama bulan suci Ramadhan mengalami kenaikan hingga sekitar 5 ton per hari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Jumat, mengatakan, rata-rata volume sampah harian di Kota Mataram berkisar di angka 250 ton.

"Namun, saat bulan puasa angka tersebut melonjak hingga 5 ton per hari," katanya.

Lonjakan itu didominasi oleh sampah dari aktivitas pedagang musiman dan pedagang kaki lima (PKL) yang menjamur selama bulan puasa. Sampah takjil dan sisa dagangan menjadi penyumbang terbesar.

Karena itu, DLH tetap menyiagakan petugas untuk melakukan pengangkutan di titik-titik keramaian PKL, terutama pada malam hari setelah aktivitas berbuka puasa dan pasar takjil selesai.

Baca juga: Menteri LH minta Mataram tingkatkan pengolahan sampah

Skema pengangkutan pagi dan malam hari akan tetap berjalan secara rutin untuk memastikan wajah kota tetap bersih meski aktivitas warga meningkat.

"Selama Ramadhan, momen pawai ogoh-ogoh, pawai takbiran, hingga pelaksanaan Idul Fitri, penanganan sampah kami optimalkan," katanya.

Namun demikian, pihaknya optimistis operasional pengangkutan sampah akan kembali normal pada pertengahan bulan puasa. Hal itu menyusul informasi dari Pemerintah Provinsi NTB, bahwa pengerjaan landfill baru di Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok di Lombok Barat mencapai progres yang signifikan.

"Perkiraan kami saat ini progresnya sudah di angka 60-70 persen. Begitu tuntas, kami bisa langsung membuang ke TPAR dan ritase pengangkutan Insya Allah kembali normal," katanya.

Baca juga: Tiga unit insinerator tangani masalah sampah di Mataram

Selama masa pengerjaan landfill, lanjut Denny, ritase pengangkutan sampah di Mataram mengalami penyesuaian. Namun, dengan akan difungsikan lahan baru ditargetkan kendaraan pengangkut bisa kembali melayani hingga empat kali ritase per hari.

Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, DLH telah menyiapkan skema cadangan jika sewaktu-waktu TPA mengalami kendala teknis. Denny menyebut, TPS Bintaro masih disiagakan sebagai lahan antisipasi (buffer zone).

"Jika ada kelebihan volume yang tidak tertangani segera, kami akan oper atau tampung sementara di TPS Bintaro," katanya.

Sementara untuk TPS di wilayah Sandubaya, tambahnya, kondisinya saat ini sudah penuh dan tidak memungkinkan lagi untuk diisi.

Baca juga: Wow!! Volume sampah di Mataram selama Fornas naik hingga lima ton per hari
Baca juga: Volume sampah di TPS Sandubaya Mataram capai 1.000 ton lebih



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026