Lombok Tengah (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menyatakan status darurat bencana masih ditetapkan hingga Maret 2026 dan diharapkan warga tetap waspada dampak cuaca ekstrem yang terjadi pada akhir Februari 2026.

"Lombok Tengah masih tetap status darurat bencana mulai November 2025 hingga Maret 2026," kata Kepala BPBD Lombok Tengah Ridwan Maruf di Lombok Tengah, Selasa.

Ia mengatakan kondisi cuaca awalnya normal, namun pada akhir Februari 2026 ini cuaca hujan yang disertai angin masih terjadi. Hal itu berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Hujan saat ini masih terjadi pada akhir Februari 2026," katanya.

Oleh karena itu pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak cuaca ekstrem yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.

"Kami imbau masyarakat tetap waspada saat terjadi hujan lebat yang disertai angin kencang," katanya.

Baca juga: Cuaca ekstrem terjang Lombok Tengah, Dandim 1620 kerahkan babinsa siaga penuh

Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan penguatan Monsun Asia yang kini terjadi berpotensi meningkatkan curah hujan dalam beberapa hari ke depan di wilayah NTB.

"Kami mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem," kata Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid BMKG NTB Ari Wibianto saat dihubungi di Mataram, Minggu.

Ari menjelaskan penguatan Monsun Asia membawa Angin Baratan yang cukup kuat dan mempercepat proses pembentukan awan konvektif, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia.

Kondisi Monsun Asia yang menguat tersebut berkontribusi terhadap peningkatan intensitas dan sebaran hujan di NTB.

Baca juga: Damkartan lakukan penanganan tiang listrik roboh di Lombok Tengah

Selain Monsun Asia, imbuh Ari, dinamika atmosfer juga dipengaruhi oleh aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) yang masih aktif dan diprakirakan terus mempengaruhi kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan.

Kombinasi faktor tersebut ditambah kelembapan udara yang masih tinggi serta penguatan labilitas atmosfer, lanjutnya, mendukung terjadinya hujan lebat pada skala lokal hingga luas.

"Peningkatan cuaca (ekstrem) di wilayah NTB masih berpotensi hingga tiga hari ke depan," ujar Ari.

Lebih lanjut ia menyampaikan potensi cuaca ekstrem yang terjadi akibat gangguan fenomena atmosfer tersebut dapat berupa banjir, tanah longsor, dan gangguan aktivitas transportasi darat, laut, maupun udara.

Ari mengingatkan masyarakat agar menyesuaikan perencanaan aktivitas, terutama kegiatan luar ruang, serta secara berkala memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem melalui kanal resmi BMKG.

Baca juga: Tiga desa di Lombok Tengah dilanda banjir akibat cuaca ekstrem
Baca juga: Dampak cuaca ekstrem di Lombok Tengah telah ditangani


Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026