Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai membangun ekosistem produksi lokal berbasis koperasi untuk mengurangi ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah dan memperkuat posisi ekonomi masyarakat desa.
"Pemerintah daerah siap membantu pengembangan teknologi dan penyusunan rencana bisnis agar koperasi maupun unit usaha desa dapat berjalan optimal," kata Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dalam pernyataan di Mataram, Senin.
Iqbal menegaskan, koperasi harus berperan sebagai pelaku bisnis yang terintegrasi dari hulu sampai ke hilir agar memberikan nilai tambah langsung bagi petani dan pelaku usaha desa.
Pemprov NTB memberikan pendampingan kepada koperasi desa untuk memfasilitasi akses permodalan melalui lembaga perbankan.
"Kami bantu susun rencana bisnis supaya koperasi bisa mengakses pinjaman perbankan. Hal paling penting koperasi punya bisnis, bukan sekadar punya gerai," ujar Iqbal.
Baca juga: Gubernur NTB: Kopdes Merah Putih jadi pemasok utama MBG
Lebih lanjut ia menyampaikan selama ini rantai distribusi hasil pertanian terlalu panjang, sehingga petani tidak menikmati keuntungan maksimal.
Hasil panen dari petani berpindah tangan ke berbagai perantara sebelum sampai ke pasar yang berdampak terhadap rendahnya nilai tukar petani.
Konsep koperasi yang kini digagas pemerintah bertujuan memangkas rantai distribusi tersebut. Petani dapat menjual langsung hasil produksi ke pasar atau pembeli akhir melalui koperasi, sehingga memiliki posisi tawar lebih kuat dalam menentukan harga.
Baca juga: Enam pasar di Lombok Tengah jadi lokasi Kopdes merah putih
Gubernur Iqbal mendorong pengembangan usaha produktif desa, seperti peternakan ayam petelur skala rumah tangga dan budidaya hortikultura melalui sistem rumah kaca atau greenhouse.
Usaha peternakan telur di NTB saat ini baru mampu memenuhi 30 persen kebutuhan daerah dan sisanya sebanyak 70 persen dipasok dari luar daerah terutama Pulau Jawa.
Iqbal menilai model usaha tersebut cukup realistis untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Kadang ayam yang dikelola secara kolektif membuat desa bisa menghasilkan ribuan butir telur per minggu yang dipasarkan melalui koperasi, termasuk komoditas hortikultura.
"Saat ini sebagian besar kebutuhan pangan NTB masih dipasok dari luar daerah. Karena itu, penguatan ekosistem produksi lokal menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga," pungkasnya.
Baca juga: Warga Aik Dewa Lotim demo tolak lapangan desa dijadikan Kopdes Merah Putih
Baca juga: Koperasi desa di NTB dapat kucurkan modal Rp50 juta
Baca juga: Gubernur NTB instruksikan Bank NTB Syariah percepat transformasi koperasi desa
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026