"Kami perlu memperingatkan Kota Bima karena inflasi tahunan mencapai 4,23 persen atau sudah di luar ring,"
Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi tahunan atau year on year di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) melampaui batas aman dari regulasi pemerintah dengan angka mencapai 4,23 persen pada April 2026.
Kepala BPS NTB Wahyudin di Mataram, Senin, mengatakan batas aman inflasi rentang 1,5 hingga 3,5 persen.
"Kami perlu memperingatkan Kota Bima karena inflasi tahunan mencapai 4,23 persen atau sudah di luar ring," ujar dia.
Kondisi itu menjadikan Kota Bima sebagai daerah dengan inflasi tertinggi di Nusa Tenggara Barat melampaui Kota Mataram yang mencatat inflasi tahunan 3,37 persen dan Kabupaten Sumbawa sebesar 2,82 persen.
Wahyudin memperingatkan otoritas moneter dan pemerintah daerah untuk segera menekan laju kenaikan harga berbagai komoditas agar tidak semakin membebani masyarakat.
"Bank Indonesia agar koordinasi dengan Pemerintah Kota Bima untuk menekan laju inflasi supaya tidak naik lagi ke depan," ucap dia.
BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Bima berada pada angka 112,69 dengan inflasi bulanan sebesar 0,28 persen. Sedangkan, inflasi secara tahunan menyentuh angka 4,23 persen.
Laju inflasi tahunan Kota Bima cenderung fluktuatif dari Januari hingga April 2026 yang masing-masing sebesar 4,82 persen, lalu menjadi 6,40 persen, turun ke angka 5,09 persen, dan kembali turun ke level 4,23 persen.
Wahyudin memaparkan komoditas pendorong utama inflasi secara bulanan adalah angkutan udara yang menyumbang 0,24 persen.
Kenaikan harga juga dipicu oleh bahan bakar rumah tangga, telepon seluler, air kemasan, dan biaya taman kanak-kanak yang masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,05 persen.
Tekanan inflasi tersebut sempat tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga. Ikan bandeng tercatat menyumbang deflasi sebesar 0,10 persen, diikuti emas perhiasan 0,09 persen, cabai rawit 0,07 persen, ikan tuna 0,06 persen, serta cumi-cumi 0,05 persen.
"Untung masih ada komoditas-komoditas yang menarik ke bawah (deflasi), sehingga inflasi tidak lebih tinggi lagi," pungkas Wahyudin.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026