Mataram, NTB (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami deflasi bulanan atau month to month sebesar 0,11 persen pada April 2026 dibandingkan Maret 2026.
"NTB masuk dalam delapan provinsi di Indonesia yang mengalami deflasi," kata Kepala BPS NTB Wahyudin di Mataram, NTB, Senin.
Wahyudin menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi 1 persen dengan andil mencapai 0,37 persen terhadap deflasi April 2026.
Kemudian, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya turut berkontribusi terhadap deflasi 1,21 persen dengan andil sebesar 0,09 persen.
Menurut dia, kenaikan tarif transportasi terutama tiket pesawat terbang membuat angka deflasi tidak terlalu dalam di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Sektor transportasi menyumbang inflasi 1,17 persen dengan andil mencapai 0,13 persen.
"Secara keseluruhan dari kelompok-kelompok pengeluaran tersebut setelah dikalikan dengan faktor bobot, maka terjadi deflasi 0,11 persen," papar Wahyudin.
Lebih lanjut, dia menjabarkan komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap deflasi adalah cabai rawit sebesar 0,21 persen, daging ayam ras 0,10 persen, emas perhiasan 0,10 persen, kol putih atau kubis 0,07 persen, dan udang basah 0,06 persen.
Sebanyak lima komoditas tersebut mengalami penurunan lantaran sudah memasuki masa panen, sehingga pasokan tercukupi di level masyarakat dan pasar.
Baca juga: Pemkab Lombok Tengah dan BPS perkuat sinergi data
Adapun dari sisi permintaan, imbuh Wahyudin, konsumsi masyarakat relatif menurun setelah berakhirnya momen bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
"Saat musim hujan cabai rawit agak susah, namun ketika memasuki musim kemarau mulai ada panen. Suplai cabai sudah banyak ke pasaran, sehingga harga turun," ucap Wahyudin.
Baca juga: Sumbawa Barat perkuat tata kelola data sektoral
BPS juga mencatat masih terdapat sejumlah komoditas yang menyumbang inflasi pada April 2026, seperti angkutan udara dengan andil 0,14 persen, tarif air minum PAM sebesar 0,11 persen, tomat 0,05 persen, minyak goreng 0,04 persen, serta bahan bakar rumah tangga 0,04 persen.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026