Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menyebutkan pelaksanaan peletakan batu pertama pembangunan Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo, Ampenan, paling lambat akhir Juni 2026.
"Jika tidak ada kendala, peletakan batu pertama pembangunan TPST Kebon Talo dijadwalkan pertengahan Juni atau paling lambat akhir Juni 2026," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram Lalu Alwan Basri di Mataram, Selasa.
Hal tersebut disampaikan sesuai dengan hasil komunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Saat ini proyek pembangunan TPST Kebon Talo masih dalam tahap tender dengan nilai proyek Rp97 miliar yang bersumber dari anggaran pemerintah pusat.
"Ditargetkan, awal bulan Juni sudah ada pemenang. Kami berdoa semoga pertengahan Juni atau paling lambat akhir Juni dilakukan peletakan batu pertama," katanya.
Pembangunan TPST Kebon Talo akan mengolah sampah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) yakni bahan bakar alternatif sejenis briket sehingga bisa jual ke PLN sebagai bahan bakar pendamping pembangkit listrik.
"Pembangunan TPST Kebon Talo diharapkan rampung pada Desember 2026 sehingga dapat beroperasi penuh mulai tahun 2027," katanya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi sebelumnya mengatakan proyek strategis itu bertujuan mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat.
TPST tersebut menerapkan teknologi pengolahan sampah modern dengan menggunakan teknologi dry jet dan menghasilkan RDF.
Melalui proses itu, setelah dipilah antara sampah organik dan anorganik, sampah akan dikeringkan dan diproses melalui pemanasan, bukan pembakaran seperti insinerator biasa untuk menghasilkan RDF atau bahan bakar alternatif.
"Kapasitas pengolahan di TPST Kebon Talo kami proyeksikan mencapai 60 hingga 70 ton per hari," katanya.
Baca juga: Pemanfaatan bank sampah tunggu TPST Kebon Talo beroperasi
Jika digabungkan dengan inovasi pengolahan sampah lain yang telah dilakukan selama ini, lanjut Nizar, ke depan Kota Mataram mampu mengolah sampah secara mandiri lebih dari 135 ton per hari.
Dengan rincian pengolahan di TPST Kebon Talo mencapai 60-70 ton per hari, TPST Sandubaya 45 ton per hari, dan program insinerator di TPS Sandubaya mencapai 20 ton per hari.
Baca juga: Jakarta lakukan arahan Menteri LH soal pembenahan TPST Bantargebang
Belum lagi Program Tampah Dedoro diestimasi dapat dilakukan pengurangan minimal 10 ton sampah organik.
"Dengan sinergi berbagai fasilitas itu, Pemkot Mataram optimis dapat memangkas volume sampah yang dikirim ke TPA Kebon Kongok hingga menyisakan sekitar 100 ton, dari total produksi sampah kota yang mencapai 250 ton per hari," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026