BUDAYAWAN : WARGA TENGGER SULIT DIPISAHKAN DENGAN BROMO

id



Jember (ANTARA) - Budayawan Prof Ayu Sutarto menyatakan bahwa warga Tengger sulit dipisahkan dengan Gunung Bromo karena gunung yang memiliki ketinggian 2.329 meter dari permukaan laut (mdpl) itu memiliki sejarah penting bagi Suku Tengger.

"Warga Tengger memiliki kedekatan dari berbagai aspek dengan Gunung Bromo, sehingga wajar banyak warga Tengger enggan mengungsi dari lereng Gunung Bromo," kata Ayu Sutarto saat ditemui di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa.

Hal tersebut disampaikan Ayu Sutarto menanggapi keengganan warga Tengger untuk mengungsi, meski status Gunung Bromo meningkat dari "Siaga" menjadi "Awas".

Menurut Ayu, warga Tengger memiliki kedekatan emosional dengan Gunung Bromo karena mitos yang dipercaya bahwa kata "tengger" berasal dari pasangan suami istri yang bernama Roro Anteng dan Joko Seger yang rela mengorbankan anaknya di kawah Gunung Bromo.

"Gunung Bromo memberikan berkah berupa tanah yang subur kepada warga Tengger, sehingga hasil pertanian warga Tengger cukup melimpah," kata penulis Kamus Budaya dan Religi Tengger itu.

Menurut dosen sastra Universitas Jember itu, Gunung Bromo dianggap tempat paling suci karena dipercaya sebagai tempat tinggal Dewa Brahma dan merupakan pusat upacara adat bagi masyarakat Tengger, khususnya upacara Kasada.

"Warga Tengger percaya bahwa di kawah Gunung Bromo terdapat putra bungsu Roro Anteng dan Joko Seger bernama Raden Kusuma, yang menjadi persembahan untuk Bromo," ucap anggota tetap majelis sastra Asia Tenggara itu.

Ia menjelaskan, warga Tengger masih menyakini bahwa Gunung Bromo tidak akan marah dan mengeluarkan letusan dahsyat karena setiap tahun warga Tengger memberikan persembahan hasil ternak dan pertanian melalui upacara adat yang dikenal dengan Upacara Yadnya Kasada.

"Mereka yakin Gunung Bromo tidak akan marah lagi setelah persembahan Raden Kusuma. Setiap tahun mereka juga memberikan persembahan sesaji hasil bumi mereka ke kawah Bromo," tutur penulis mitos Gunung Bromo dan warga Tengger itu.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa status Gunung Bromo meningkat dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV) sejak Selasa (23/11) pukul 15.30 WIB.

Aktivitas Gunung Bromo menunjukkan peningkatan selama beberapa hari terakhir dan sempat terjadi peningkatan amplitudo hingga 40 milimeter pada Senin (29/11). (*)

Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar