Gunung Agung Bali Erupsi, Lombok Waspada

id Gunung Agung

Sejumlah warga menikmati liburan dengan latar belakang Gunung Agung meletus, di Pantai Jemeluk, Karangasem, Bali, Minggu (26/11/2017). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan telah terjadi letusan freatik kedua pada pukul 17.20 Wita

Mataram (Antara NTB) - Setelah beberapa minggu tenang, Gunung Agung di Kabupaten Karang Asem, Bali, kembali erupsi freatik dengan ketinggian semburan abu vulkanis 1.500 meter dari puncak kawah pada hari Sabtu (25/11) sekitar pukul 17.30 WITA.

Erupsi terus terjadi secara beruntun. Pada hari Minggu (26/11) sekitar pukul 06.20 WITA, tinggi erupsi mencapai 3.000 hingga 4.000 meter dari puncak kawah gunung.

Gunung berapi yang memiliki ketinggan 3.031 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu sebelumnya meletus pada tanggal 24 September 2017. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kemudian menetapkan status Awas pada hari Jumat (22/9) dengan radius berbahaya 12 kilometer.

Meskipun pada letusan kali ini, status Gunung Agung masih Siaga (Level 3), warga dari Dusun Tihingseka, Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali, yang masuk dalam radius Kawasan Rawan Bencana (KRB) II mengungsi ke tempat aman.

Tidak hanya warga di Bali yang dalam posisi siaga bencana, tetapi warga di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, juga dalam posisi waspada akan dampak dari erupsi gunung api yang pernah meletus dahsyat pada tanggal 18 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964 itu.

Erupsi freatik yang terjadi kali ini menyebabkan semburan abu vulkanis mengarah ke timur  hingga tenggara menuju Pulau Lombok dengan kecepatan 18 km per jam.

Hal itu didasarkan pada analisis sebaran abu vulkanis dari satelit Himawari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sifat dan arah sebaran abu vulkanis tergantung pada arah angin.

Dengan adanya potensi sebaran abu vulkanis menuju Pulau Lombok, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mengimbau warga untuk tenang namun tetap waspada. Jangan keluar rumah jika tidak penting dan gunakan masker jika terpaksa bepergian.

Kepala BPBD NTB H. Muhammad Rum juga menginstruksikan BPBD Kabupaten Lombok Barat, BPBD Kabupaten Lombok Utara, dan BPBD Kota Mataram untuk terus melaporkan situasi dan kondisi di wilayahnya.

Seluruh kepala BPBD se-Pulau Lombok juga diminta memastikan ketersediaan masker dan mengantisipasi gelombang pengungsi dari Bali.

Berdasarkan data BPBD NTB, stok masker yang tersedia sebanyak 55.000 lembar. Dari jumlah tersebut, akan didistribusikan ke Kabupaten Lombok Barat sebanyak 10.000 lembar, sedangkan di Kabupaten Lombok Utara masih tersedia 10.000 masker.

Jumlah masker yang tersedia saat ini sangat jauh dari cukup karena idealnya stok yang harus ada sebanyak 500.000 lembar. Oleh sebab itu, peran dari berbagai pihak, termasuk swasta, sangat dibutuhkan untuk menyediakan masker.

Masyarakat juga disarankan menyediakan masker secara mandiri sebagai alat pelindung dari menghirup udara tidak sehat dan abu vulkanis yang disebabkan letusan Gunung Agung.

    Mengganggu Kesehatan Manusia

Letusan gunung berapi disertai semburan abu vulkanis ke udara berpotensi mengganggu kesehatan manusia, terutama saluran pernapasan (paru), iritasi mata dan penyakit kulit.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara Khairul Anwar, debu vulkanis bisa menyebabkan gangguan organ pernapasan dan hidung pada manusia dan hewan jika dihirup secara terus-menerus. Hal ini termasuk polusi udara.

Penyakit lain yang bisa ditimbulkan oleh abu vulkanis adalah iritasi mata dan gangguan pada kulit manusia. Kondisi tersebut sangat rentan terjadi pada manusia yang jaraknya relatif dekat dengan pusat letusan gunung berapi.

Dikutip dari laman https://bisakimia.com/, abu vulkanis merupakan leburan bagian dalam gunung yang terdiri atas batu-batu yang hancur, mineral, dan kaca vulkanis yang dikeluarkan saat letusan gunung berapi, berdiameter kurang dari 2 milimeter (0,079 inci).

Jenis-jenis mineral yang terkandung dalam abu vulkanis tergantung pada kimia magma letusan gunung berapi. Unsur yang paling berlimpah ditemukan dalam magma adalah silika (SiO2) dan oksigen.

Letusan basal energi rendah (basal adalah batuan beku berwarna gelap, berbutir halus yang umumnya merupakan pembekuan lava dari gunung api) menghasilkan abu berwarna gelap khas yang mengandung 45 s.d. 55 persen silika yang umumnya kaya akan zat besi (Fe) dan magnesium (Mg).

Letusan riolit paling eksplosif menghasilkan abu felsic yang tinggi silika sekitar 69 persen, sedangkan jenis lain abu dengan komposisi menengah, misalnya andesit atau dasit, memiliki kandungan silika antara 55 s.d. 69 persen.

Gas-gas utama dilepaskan selama aktivitas gunung berapi adalah air, karbon dioksida, sulfur dioksida, hidrogen, hidrogen sulfida, karbon monoksida, dan hidrogen klorida.

Sulfur, gas halogen, dan logam dikeluarkan dari atmosfer oleh proses reaksi kimia, deposisi kering dan basah, dan oleh adsorpsi ke permukaan abu vulkanis.

Efek kesehatan dari abu vulkanis tergantung pada ukuran butir, komposisi mineralogi, dan pelapis kimia pada permukaan partikel abu. Faktor tambahan yang berkaitan dengan gejala pernapasan adalah frekuensi dan lama pemaparan, konsentrasi abu di udara, dan fraksi abu terhirup.

Efek kesehatan kronis dari abu vulkanis yang mungkin, seperti paparan kristal silika bebas yang diketahui dapat menyebabkan silicosis. Mineral yang terkait dengan ini, termasuk kuarsa, kristobalit dan tridimit, yang semuanya mungkin ada dalam abu vulkanis.

Sejauh ini, kata Khairul, belum ada debu vulkanis yang jatuh di Kabupaten Lombok Utara meskipun sudah ada hasil analisis satelit Himawari BKMG yang memperkirakan bahwa letusan abu vulkanis mengarah ke tenggara dan timur menuju Pulau Lombok.

Meskipun demikian, upaya antisipasi tetap dilakukan sejak dini. Pasalnya, pergerakan debu vulkanis hasil letusan Gunung Agung dipengaruhi oleh arah angin yang sering berubah-ubah.

Antisipasi yang sudah dilakukan adalah menginstruksikan Kepala Puskesmas di kawasan wisata Gili Trawangan untuk terus melaporkan perkembangan terkait dengan dampak letusan Gunung Agung.

Jarak kawasan wisata itu dengan Pulau Bali relatif dekat sehingga perlu upaya antisipasi terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, terutama bagi para wisatawan.

Kepala Puskesmas Nipah dan tim medisnya juga sudah diimbau untuk waspada. Pasalnya, wilayah pantai tersebut berhadapan langsung dengan Gunung Agung.

Selain menyiapkan masker, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara juga memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan penyakit pada saluran pernapasan akibat menghirup debu vulkanis letusan gunung berapi.


Berdampak pada Penerbangan

Selain dampak kesehatan, letusan Gunung Agung juga berdampak pada aktivitas jasa penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Lombok di Kabupaten Lombok Tengah.

Meskipun erupsi Gunung Agung mencapai 3.000 s.d. 4.000 meter dari puncak kawah gunung, status Bandara Internasional Lombok, hingga Minggu (26/11) pukul 17.30 WITA masih aman karena belum ada jatuhan debu vulkanis di area bandara.

Hanya saja, dua maskapai penerbangan melakukan pembatalan keberangkatan dan penerbangan dari dan menuju Lombok. Kebijakan tersebut diambil oleh maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan AirAsia dengan pertimbangan keselamatan penerbangan.

General Manager Angkasa Pura I Bandara Internasional Lombok I Gusti Ngurah Ardita mengatakan bahwa Garuda Indonesia melaporkan pembatalan delapan kedatangan dan tujuh keberangkatan pada hari Minggu (26/11) pukul 11.00 WITA. Semuanya adalah rute penerbangan domestik.

Sementara itu, AirAsia membatalkan kedatangan dari Kuala Lumpur, Malaysia.

Maskapai penerbangan lainnya, yakni Lion Air, Batik Air, dan Citylink, masih tetap melayani penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Lombok.

Semua pihak tentu berharap letusan Gunung Agung, Bali, tidak sampai menyebabkan kelumpuhan pada aktivitas penerbangan dalam jangka waktu lama yang bisa merembet pada sektor ekonomi lainnya, terutama pariwisata NTB. Apalagi, kerugian ekonomi yang ditimbulkan tidak sedikit. Misalnya, peristiwa letusan Gunung Barujari anak Gunung Rinjani di Pulau Lombok yang terjadi pada bulan November 2015.

Ketika itu, operasional empat bandara di NTB, sempat dihentikan sementara demi keselamatan penerbangan. Empat bandara itu, yakni Bandar Udara Internasional Lombok (BIL), Bandara Selaparang di Mataram yang digunakan untuk kegiatan pelatihan penerbangan, Bandar Udara Sultan Muhammad Kaharuddin III (Brangbiji), Kabupaten Sumbawa, dan Bandar Udara Sultan Muhamad Salahudin di Kabupaten Bima.

Penutupan aktivitas Bandara Internasional Lombok selama beberapa hari menyebabkan PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Lombok merugi hingga Rp3 miliar dari pembatalan aktivitas keberangkatan dan kedatangan penumpang yang mencapai 3.000 s.d. 4.000 orang per hari.

Dampak lainnya berupa penurunan jumlah kunjungan wisatawan ke NTB hingga 50 persen. Kondisi tersebut berimplikasi pada pendapatan "guide" atau pramuwisata karena terbatasnya orang yang membutuhkan jasa mereka.

Semoga kondisi Gunung Agung segera pulih dan aktivitas masyarakat di dua pulau besar yang sedang membangun dan menjaga dunia pariwisatanya (Bali dan NTB) kembali seperti sediakala.

Pewarta: Awaludin

Editor : D Kliwantoro
(*)

Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar