Mataram (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat menyebutkan 18 rumah nelayan di Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro mengalami rusak berat akibat gelombang pasang dengan ketinggian 2-3 meter pada Kamis dini hari.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Akhmad Muzaki di Mataram, Kamis, mengatakan 18 rumah yang rusak tersebut ditempati 25 kepala keluarga (KK) atau sekitar 100 jiwa.
"Mereka kini sudah mengungsi di masjid terdekat dan rumah keluarga," katanya.
Baca juga: Warga Mataram diimbau waspadai cuaca ekstrem hingga 26 Januari
Untuk mengoptimalkan layanan dan pemantauan terhadap warga pengungsi, BPBD Kota Mataram mendirikan dua tenda komando di Bintaro sebagai lokasi pengungsian sementara.
Selain itu, akan didirikan dapur umum dari Dinas Sosial Kota Mataram untuk memenuhi kebutuhan pengungsi selama beberapa hari ke depan.
"Pengungsi yang akan diberikan bantuan makanan di dapur umum sekitar 100 orang," katanya.
Ia mengatakan kegiatan asesmen terus dilakukan terhadap rumah warga yang terdampak, sedangkan untuk penanganan rumah yang rusak akan menjadi ranah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram.
"Apakah akan dibuatkan hunian sementara (huntara) atau seperti apa, kami belum bisa jelaskan," katanya.
Baca juga: Dinsos distribusi paket bantuan ke 191 KK terdampak cuaca ekstrem di Mataram
Selain membangun dua posko komando untuk para pengungsi, BPBD Kota Mataram juga mendirikan posko logistik di Kampung Bugis. Posko tersebut untuk dapur umum dan penyaluran logistik bantuan kepada pada korban dan tepat sasaran.
"Siapa tahu ada juga pihak-pihak yang ingin membantu, bisa melalui posko logistik. Untuk posko logistik di komandani Dinas Sosial, dan BPBD sifatnya membantu," katanya.
Untuk bantuan hari ini, katanya, sudah disalurkan 100 paket bantuan kepada para korban terdampak gelombang pasang dan rob di Kelurahan Bintaro.
Baca juga: Mataram siagakan dana BTT Rp5 miliar antisipasi bencana 2026
Paket bantuan itu berisi beras, minyak goreng, air mineral, mi instan, tikar, selimut, dan lainnya.
"Untuk menjamin kondisi kesehatan warga terdampak, Dinas Kesehatan akan segera turun melakukan pemeriksaan kesehatan warga termasuk kesehatan lingkungan," katanya.
Berdasarkan prediksi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), katanya, perubahan cuaca berupa hujan deras disertai petir, angin kencang, dan gelombang tinggi, akan berlangsung sampai 26 Januari 2026.
Terkait dengan itu, pihaknya meminta agar masyarakat terus waspada dan memantau kondisi perubahan cuaca guna mengurangi risiko bencana.
Baca juga: Dinkes jemput bola layani warga Mataram terdampak cuaca ekstrem
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026