Jakarta (ANTARA) - Industri alat konstruksi PT Multicrane Perkasa (MCP) menegaskan peran strategis alat berat dalam memperkuat keberhasilan proyek waste to energy (WtE) atau pengolahan limbah menjadi energi listrik yang dijalankan pemerintah.

Presiden Direktur MCP Adrianus Hadiwinata dalam pernyataan di Jakarta, Rabu menyampaikan di tengah dorongan pemerintah untuk mempercepat pengembangan WtE sebagai solusi atas timbunan sampah nasional yang telah melampaui ratusan ribu ton per hari, perusahaan memandang sistem operasional di lapangan menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan proyek.

“Sebagai bagian dari komitmen kami mendukung agenda pemerintah dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, kami melihat bahwa keberhasilan proyek waste to energy tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga dari kesiapan sistem operasional di lapangan," katanya.

Adapun pemerintah saat ini mendorong pengembangan WtE dan Refuse Derived Fuel (RDF) di berbagai daerah, sebagai bagian dari strategi pengelolaan sampah dan penguatan bauran energi nasional.

Keberhasilan proyek tersebut menurutnya, tidak hanya ditentukan oleh teknologi pembangkit atau tungku pembakaran, melainkan juga oleh sistem penanganan dan pergerakan limbah yang menopang operasional fasilitas setiap hari.

Ia menyampaikan, tanpa dukungan alat berat dan sistem feeding sampah yang tepat, fasilitas WtE berisiko mengalami aliran limbah yang tidak stabil, downtime tinggi, serta lonjakan biaya operasional yang berdampak pada kelayakan ekonomi proyek.

Baca juga: KPK mendorong Pemprov DKI Jakarta tingkatkan tolok ukur pengendalian korupsi

Ia menyampaikan salah satu proyek yang tengah didukung MCP adalah WtE di Sukabumi, Jawa Barat, serta inisiatif RDF yang telah berjalan sejak Juli 2025.

Di proyek tersebut pihaknya menghadirkan solusi berbasis crane melalui Hiab 19000 sebagai electric waste feeder yang menggantikan metode konvensional berbasis excavator diesel.

Sistem feeding sampah berbasis listrik ini kata dia, dinilai mampu menjaga stabilitas aliran limbah ke lini WtE atau RDF, menekan biaya operasional harian, serta meminimalkan risiko gangguan teknis yang dapat memicu downtime.

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengungkapkan sejumlah sektor yang dinilai memiliki potensi untuk berkontribusi besar ke realisasi investasi pada 2026, yakni energi baru terbarukan (EBT), ekonomi digital, kawasan industri, serta waste to energy.

Baca juga: Bupati Sumbawa Barat dapatkan penghargaan MCP KPK

Menurut Rosan di Jakarta, Kamis (15/1/2026) program waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi listrik saat ini sudah memasuki proses tender yang mulai berjalan, serta menegaskan mendapat respons baik dari investor.

Rosan mengungkapkan proyek waste to energy lewat pembangunan stasiun Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di 33 kota di seluruh wilayah Indonesia membutuhkan investasi dengan total nilai sekitar Rp91 triliun, dengan kapasitas pengelolaan 1.000 ton sampah per hari.

 

 

 


 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026