Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menyebutkan, pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo, Ampenan, segera terbangun dan akan mengolah sampah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) yakni bahan bakar alternatif sejenis briket.

"Sampah di TPST Kebon Talo akan kami olah menjadi RDF yang bisa jual ke PLN sebagai bahan bakar pendamping pembangkit listrik," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Selasa.

Menurutnya, saat ini proyek tersebut sedang dalam proses tender yang ditargetkan selesai pada 29 Mei 2026. Adapun proses pembangunan fisik direncanakan mulai berjalan pada 9 Juni 2026 dengan total nilai anggaran mencapai Rp97 miliar yang bersumber dari pemerintah pusat.

Pembangunan TPST Kebon Talo, kata dia, diharapkan rampung pada Desember 2026 sehingga dapat beroperasi penuh mulai tahun 2027.

Proyek strategis yang bertujuan mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, itu menerapkan teknologi pengolahan sampah modern dengan menggunakan teknologi dry jet dan menghasilkan RDF.

Melalui proses itu, setelah dipilah antara sampah organik dan anorganik, sampah akan dikeringkan dan diproses melalui pemanasan, bukan pembakaran seperti insinerator biasa untuk menghasilkan RDF atau bahan bakar alternatif.

"Kapasitas pengolahan di TPST Kebon Talo kami proyeksikan mencapai 60 hingga 70 ton per hari," katanya.

Jika digabungkan dengan inovasi pengolahan sampah lain yang telah dilakukan selama ini, kata dia, ke depan Kota Mataram mampu mengolah sampah secara mandiri lebih dari 135 ton per hari, dengan rincian pengolahan di TPST Kebon Talo mencapai 60-70 ton per hari, TPST Sandubaya 45 ton per hari, program insinerator di TPS Sandubaya mencapai 20 ton per hari.

Baca juga: TPST Kebon Talo Mataram ditambah kapasitasnya jadi 400 ton

Belum lagi program Tampah Dedoro diestimasi dapat dilakukan pengurangan minimal 10 ton sampah organik.

Dengan sinergi berbagai fasilitas itu, pihaknya optimis dapat memangkas volume sampah yang dikirim ke TPA Kebon Kongok hingga menyisakan sekitar 100 ton saja dari total produksi sampah kota yang mencapai 250 ton per hari.

Selain infrastruktur besar, pihaknya terus menggenjot program berbasis lingkungan di tingkat kelurahan melalui unit Tempah Dedoro atau wadah sampah yang terbuat dari buis.

Hingga saat ini, katanya, tercatat sekitar 270 unit telah terbangun di enam kecamatan se-Kota Mataram yang dibangun baik melalui swadaya masyarakat maupun dana CSR.

Baca juga: Kota Mataram kembali terancam darurat sampah

Ke depannya Pemkot Mataram berencana mengalokasikan anggaran melalui APBD Perubahan 2026, untuk setiap kelurahan guna menambah unit Tempah Dedoro yang lebih estetis dan fungsional.

"Termasuk penempatan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) seperti Udayana, Pagutan, RTH Sayang-Sayang, dan Taman Sangkareang," katanya.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026