Mataram (ANTARA) - Kepala Dinas Perdagangan Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Wiranata mengatakan kopi lokal dari wilayah NTB butuh panggung agar dikenal luas oleh masyarakat secara nasional maupun internasional.

"Secara umum kopi NTB sudah memenuhi standar pasar internasional hanya saja sekarang diperlukan panggung untuk menampilkan kopi," ucap dia di Mataram, Senin.

Wiranata mengatakan kualitas kopi lokal Nusa Tenggara Barat telah mengalami banyak perkembangan mulai dari budidaya, proses produksi, hingga pemasaran.

Para pelaku usaha kopi mulai melakukan peremajaan tanaman kopi sejak beberapa tahun terakhir. Mereka mengganti pohon-pohon kopi warisan Belanda dengan bibit-bibit kopi yang lebih produktif dan adaptif terhadap lingkungan.

Bahkan, beberapa pemilik kedai kopi punya lahan kopi sendiri dan mulai terjun langsung menanam bibit unggul untuk mempertahankan kualitas serta cita rasa seduhan kopi.

Wiranata menceritakan cita rasa kopi NTB telah mendapat respon positif dari berbagai tamu dan investor luar negeri yang berkunjung ke Nusa Tenggara Barat. Salah satunya investor asal China yang terkesan dengan seduhan kopi cold drip saat berkunjung pendopo Gubernur NTB.

"Calon investor itu mengaku cita rasa kopi NTB enak dan belum pernah dirasakan di tempat lain. Artinya kopi NTB sudah standar internasional, tapi belum ada panggung," ujar dia.

Lebih lanjut Wiranata menyinggung racikan biji kopi asal NTB masih jarang masuk nominasi festival maupun kompetisi nasional dan internasional.

Baca juga: Desa penyangga Mandalika mengembangkan tanaman kopi

Kondisi itu membuat kopi lokal Nusa Tenggara Barat kurang populer dibandingkan daerah lain penghasil kopi di Indonesia, seperti Aceh yang terkenal dengan biji arabika Gayo.

Pemerintah NTB mulai mendorong hilirisasi produk kopi agar tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah. Selama ini kopi NTB banyak dijual dalam bentuk kopi mentah ke Dubai dan Korea Selatan.

Wiranata menuturkan hilirisasi kopi mulai dilakukan oleh pelaku usaha kopi setempat melalui pengembangan produk turunan kopi kaleng siap minum yang dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Baca juga: Hati-hati! 5 minuman ini bisa 'bunuh' jantung anda

"Kopi NTB yang dijual ke luar negeri itu dalam bentuk mentahan. Kami tidak mau lagi, kami olah dulu di sini sampai jadi produk turunan baru dijual ke luar," pungkas dia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024, luas perkebunan kopi di Nusa Tenggara Barat mencapai 14.038 hektare dengan jumlah produksi seberat 6.460 ton.

Daerah perkebunan kopi paling luas berada di Kabupaten Sumbawa yang mencapai 4.789 hektare, Lombok Timur sebanyak 2.210 hektare, dan Kabupaten Bima dengan luas lahan 1.670 hektare.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026