Polisi Selandia Baru: delapan orang hilang setelah letusan gunung berapi

id Polisi Selandia Baru,Delapan orang hilang,White Island

Polisi Selandia Baru: delapan orang hilang setelah letusan gunung berapi

Wisatawan mengabadikan letusan gunung berapi Whakaari atau Pulau Putih di Selandia Baru, Senin (9/12/2019). Letusan tersebut melukai sejumlah warga dan wisatawan di sekitarnya. ANTARA FOTO/INSTAGRAM @ALLESSANDROKAUFFMANN/via REUTERS/foc.

Sydney, Australia (ANTARA) - Polisi Selandia pada Selasa mengatakan delapan orang masih belum ditemukan dan dikhawatirkan tewas setelah letusan gunung berapi di sebuah pulau yang terkenal di kalangan wisatawan.

"Saya dengan tegas menyatakan tak ada satu orang pun yang telah bertahan hidup di pulau tersebut," kata Wakil Komisaris Selandia Baru John Tims kepada wartawan di Wellington, sebagaimana dikutip Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa.

Perdana Menteri Selandia Jacinda Ardern mengatakan pesawat pengawas tak memperlihatkan tanda kehidupan di White Island, sementara saksi mata merinci luka bakar mengerikan yang diderita oleh sebagian penyintas.

"Luasnya tragedi ini menghancurkan," kata Ardern.

Ardern mengatakan wisatawan dari Australia, Amerika Serikat, Inggris, China dan Malaysia termasuk di antara yang tewas, hilang dan cedera, bersama dengan warga negara Selandia Baru. Ia telah mengatakan akan ada penyelidikan pemerintah mengenai peristiwa tersebut.

"Buat mereka yang telah hilang atau teman dan keluarga orang yang hilang, kami berbagi kepedihan yang tak dapat diukur pada saat ini dan dalam kesedihan kalian," kata Arderng dalam satu taklimat di Whakatane, kota kecil di pantai timur daratan utama, sekitar 50 kilometer dari White Island.

Satu kamera yang dimiliki dan dioperasikan oleh lembaga bahaya geologi Selandia Baru, GeoNet, memperlihatkan sekelompok orang sedang berjalan menjauhi bagian luar kawah cuma satu menit sebelum letusan. Gambar lain memperlihatkan letusan yang menyemburkan abu setinggi 12.000 kaki (3.658 meter) ke udara.

Sumber: Reuters
 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar