Mataram (ANTARA) - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram mengintensifkan pengawasan terhadap minuman viral kopi keliling yang menjamur di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketua Tim Kerja Infokom BBPOM Mataram Rosita Mardiani mengatakan pengawasan itu guna memastikan produk kopi keliling aman dikonsumsi oleh masyarakat.
"Kami berupaya memastikan produk tersebut sebagai pangan siap saji aman untuk dikonsumsi masyarakat," ujarnya di Mataram, Kamis.
Rosita menjelaskan tren kopi keliling yang viral dan diminati masyarakat menjadi perhatian khusus BBPOM Mataram, karena produk kopi keliling termasuk pangan segar siap saji yang tidak dapat disimpan dalam waktu lama.
Baca juga: BAZNAS NTB resmikan gerai kopi sosial 'Z Coffee' di Unram
Ia menegaskan, pengawasan dilakukan sebagai langkah preventif untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat agar produk minuman viral tetap terjamin mutu dan keamanan selama beredar di pasaran.
Tahun 2024 merupakan awal mula perkembangan pesat usaha kopi keliling di Pulau Lombok. Bisnis itu dipelopori anak muda dan pendatang yang mengadopsi tren gerobak kopi sepeda motor listrik dari kota besar ke Mataram.
Kopi keliling lantas semakin populer karena menyuguhkan kopi cita rasa kafe dengan harga murah. Harga kopi keliling dibandrol mulai Rp8.000 hingga paling mahal Rp13.000 per gelas.
"Sekarang kopi keliling hampir bisa ditemui di seluruh kabupaten/kota. Dulu hanya satu atau dua merek, sekarang sudah banyak sekali merek," ucap Rosita.
Baca juga: Pemkab Lombok Timur mendukung produksi kopi lokal
BBPOM Mataram menggelar inspeksi terhadap sarana produksi guna memastikan aspek kebersihan dan sanitasi, penggunaan bahan baku yang aman, serta pengelolaan peralatan dan penyajian minuman yang sesuai dengan ketentuan.
Petugas BBPOM Mataram bersama Dinas Kesehatan Kota Mataram melakukan sampling produk untuk diuji di laboratorium, termasuk pengujian mikrobiologi guna mendeteksi kemungkinan adanya cemaran biologis.
"Kami juga memeriksa proses distribusi minuman kopi keliling, terutama terkait suhu dan penyimpanan," pungkas Rosita.
Baca juga: Kemenkumham NTB minta petani kopi Sembalun daftarkan kekayaan intelektual
Baca juga: Menjajaki potensi Kopi Sembalun dari kaki Gunung Rinjani di pasar global