Pria berkulit legam itu nampak tersenyum memandangi hamparan kebun jagungnya yang tinggal menunggu waktu panen. Sesekali ia mengusap keringat yang membasahi wajahnya sembari membayangkan hasil panennya tahun ini melimpah.
  Sulaiman (43), petani jagung asal Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu mengaku cukup puas karena harga jagung musim panen tahun ini juga cukup tinggi. Dari  hasil penjualan jagung itu ia bisa membiayai pendidikan anak-anaknya.
  "Dengan hasil panen jagung itu kami bisa membelikan sepatu, tas sekolah dan pakaian seragam yang lebih baik untuk anak-anak agar mereka lebih rajin belajar dan sekolah," kata pria setengah baya itu sambil menyulut rokok kretek kesukaannya.
  Rezeki melimpah dari hasil pengembangan komoditas jagung itu juga dinikmati puluhan bahkan ratusan petani jagung di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sejak beberapa tahun ini berlomba-lomba menanam jagung.
  Minat para petani di Kabupaten Dompu sejak beberapa tahun terakhir terus meningkat, karena komoditas perkebunan itu cukup menguntungkan. Kini para petani tidak terlalu susah mencari biaya untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
  Bupati Dompu H Bambang M Yasin berkomitmen membangun pendidikan di daerah ini menjadi lebih maju dengan mengembangkan jagung sebagai komoditas unggulan yang mendorong peningkatan kesejahteraan para petani.
  "Mungkin terdengar aneh. Tapi jagung memiliki keterkaitan dengan pendidikan di wilayah Dompu. Saya berharap dari hasil jagung itu petani bisa membelikan sepatu mewah, buku pelajaran yang banyak dan perlengkapan sekolah lainnya untuk mendukung sekolah anak," katanya.
  Hal itu dikatakan di hadapan 453 guru yang mengikuti acara "road show" program kemitraan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) se kabupaten/kota di Dompu.
  Sebagian besar penduduk di Kabupaten Dompu berprofesi sebagai petani dengan luas kepemilikan lahan bervariasi. Hampir seluruh lahan pertanian, terutama lahan kering dimanfaatkan untuk menanam jagung pada musim hujan, sedangkan sawah irigasi teknis ditanami padi, namun pada musim kemarau diupayakan bisa ditanami palawija.
  Para petani di Dompu seakan sudah mengidolakan jagung sebagai tanaman yang mendatangkan rezeki karena sudah menikmati harga yang relatif layak yakni sebesar Rp2.200 hingga 2.900 per kilogram dalam bentuk pipilan dengan kadar air 18-20 persen. Akhir-akhir ini harga jagung terus membaik, meskipun pada saat panen raya.
  Cukup tingginya harga komoditas pertanian itu  menjadi motivasi para petani untuk terus mengembangkan jagung sebagai komoditas yang bisa meningkatkan taraf hidup mereka dan menunjang pendidikan anak hingga ke perguruan tinggi.
  Bahkan hamparan perbukitan mulai dari perbatasan Kabupaten Sumbawa dengan Kabupaten Dompu hingga perbatasan dengan Kabupaten Bima, yang sebelumnya rimbun oleh semak belukar dan rumput ilalang disulap petani menjadi kebun jagung. Sungguh sebuah pemandangan yang indah dipandang mata. Bukit nan hijau yang dipadu bunga jagung yang baru tumbuh.
  Karena dinilai memiliki komitmen tinggi mengembangkan komoditas yang dalam bahasa latinnya disebut "Zea mays" itu, Pemerintah Kabupaten Dompu diberikan beban oleh Pemerintah Provinsi NTB untuk memproduksi jagung pada tahun 2012 sebanyak 73.040 ton pipilan kering pada luas areal panen mencapai 14.967 hektare.
  Produksi jagung yang dihasilkan petani di Kabupaten Dompu diharapkan bisa menunjang mendukung upaya Pemprov NTB yang mentargetkan produksi jagung sebanyak 471.920 ton pipilan kering pada 2012 dengan luas areal panen mencapai 95.926 hektare.
  Target tersebut lebih tinggi dibandingkan produksi pada tahun 2011 yang mencapai 407 ribu ton pipilan kering yang diproduksi dari areal panen seluas 92.226 hektare dengan luas tanam 97.120 hektare, dengan tingkat produktivitas 4,9 ton per hektare, sesuai data versi Badan Pusat Statistik (BPS) NTB.
  Selain Kabupaten Dompu, target produksi jagung sebanyak 471.920 ribu ton itu menyebar di delapan kabupaten/kota lainnya, kecuali Kota Mataram.
  Areal panen jagung terluas berada di Kabupaten Sumbawa dengan target luas panen 28.320 hektare yang akan memproduksi sebanyak 141.598 ton pipilan kering.
  Selanjutnya, Kabupaten Lombok Timur dengan areal panen diperkirakan mencapai 19.855 hektare yang akan memproduksi sebanyak 99.275 ton pipilan kering.
  Enam kabupaten/kota lainnya yakni Kota Bima, Kabupaten Bima, Sumbawa Barat, Lombok Tengah, Lombok Barat dan Lombok Utara, areal panennya  berkisar antara 1.000 hektare lebih hingga 10 ribu hektare lebih.
  Pemprov NTB optimis target produksi jagung tahun 2012 bisa tercapai dengan harga yang ditingkat petani yang layak, meskipun pada saat panen raya.

    

   Khawatir jagung impor

  Dibalik kesuksesan mengembangkan jagung, terpendam rasa khawatir Bupati Dompu H Bambang M Yasin terhadap adanya jagung impor dalam jumlah relatif banyak dari berbagai negara yang masih menyerbu Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris dengan potensi lahan kering yang cukup luas untuk ditanami komoditas famili "Poaceae" itu.
  Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, tercatat nilai impor jagung sepanjang periode Januari-November 2011 mencapai 967,33 juta dolar Amerika Serikat (AS). Nilai impor itu melampaui realisasi impor jagung selama jangka waktu yang sama ada 2010 sebesar 1,52 juta ton dengan nilai 369,07 juta dolar AS.
  Adanya jagung impor tersebut menjadi dilema bagi para petani di daerahnya yang menanam komoditas tersebut setiap tahun pada saat musim hujan tiba.
  "Impor jagung menjadi dilema bagi daerah kami. Petani di Dompu sukses menanam jagung, tapi tiba-tiba begitu panen, pemerintah pusat membuka kran impor. Itu bisa jadi bumerang bagi petani," tutur Bambang yang berbadan tinggi tegap itu.
  Karena itu, ia mencoba berjuang dengan membujuk pemerintah pusat untuk mau mengakui keberhasilan daerah dalam memproduksi komoditas yang dibutuhkan oleh industri olahan hasil pertanian di dalam negeri dengan tidak mengimpor komoditas tertentu terutama jagung.
  Pemerintah pusat harus memperhatikan jerih payah petani dalam berproduksi jagung dengan mengurangi volume dan menghentikan impor secara bertahap, sehingga komoditas yang dihasilkan petani bisa diserap oleh pasar dengan harga yang layak.
  Kekhawatirannya terhadap jagung impor juga disampaikan secara tegas kepada Wakil Presiden Boediono dan meminta orang nomor dua di Indonesia itu mau membuat kontrak kerja dengan para bupati/wali kota dalam hal penyediaan bahan baku untuk kebutuhan industri nasional yang bergerak di bidang olahan hasil pertanian.
  Dengan kontrak kerja tersebut, para bupati/wali kota dan gubernur fokus untuk menjalankan komitmennya membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan petani.
  "Bupati dan gubernur selama ini ribut dengan urusan masing-masing tanpa peduli  masalah secara nasional. Kita lihat sendiri, jagung diimpor, garam diimpor. Padahal kita punya sumber daya alam yang bisa dikelola dengan optimal," ujarnya.
  Bambang yang juga seorang pengusaha sukses tersebut bersyukur hingga saat ini petani di wilayahnya sudah memiliki komitmen untuk menjadikan Dompu sebagai salah satu lumbung jagung di NTB, bahkan di tingkat nasional dengan luas areal tanam yang terus bertambah dan tingkat produksi rata-rata delapan ton per hektare (ha).
  Pemerintah Kabupaten Dompu akan terus menambah luas areal tanam jagung. Pada 2010, luas areal tanamam jagung mencapai 15 ribu hektare. Angka itu meningkat menjadi hampir 30 ribu ha pada 2011. Sementara pada 2012 ditargetkan meningkat menjadi 50 ribu hektare atau jauh lebih tinggi dari yang ditargetkan Pemprov NTB seluas 28.320 hektare.
  Peningkatan luas areal tanam menjadi 50 ribu hektare akan menjadi skenario tiap tahun. Upaya itu dilakukan dengan cara mengoptimalkan lahan sawah irigasi untuk menanam jagung setelah musim panen padi, di samping memaksimalkan potensi lahan kering yang memang hanya bisa ditanami palawija pada musim hujan.
  Bertambahnya luas lahan tanam jagung sebagai dampak dari membaiknya harga yang diterima petani meskipun ketika musim panen raya. Harga jagung terendah yang diterima petani saat musim panen raya tahun 2011 sebesar Rp2.200 per kilogram dalam bentuk pipilan.
  Harga beli jagung yang berlaku pada saat panen raya tahun 2011 memberikan keuntunggan kepada petani sebesar 300 hingga 400 persen, sehingga terjadi penambahan luas areal tanam yang cukup signifikan.
  Potensi lahan untuk pengembangan jagung di Kabupaten Dompu cukup besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal karena berbagai kendala, seperti kepastian pasar dan dukungan kebijakan dari pemerintah pusat.
  Semangat petani di Kabupaten Dompu untuk menanam jagung yang begitu menggelora mudah-mudahan tidak pupus akibat kebijakan impor jagung yang diterapkan pemerintah hanya karena membela kepentingan pemilik modal. Semoga. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026