"Gubernur sudah menginstruksikan penyelesaian masalah itu. Asisten II dan Kepala BKPM-PT NTB untuk mengkoordinir penyelesaiannya," kata Sekretaris Daerah (Sekda) NTB H Muhammad Nur.Mataram (Antara Mataram) - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH M Zainul Majdi menginstruksikan penyelesaian konflik lahan di kawasan pengembangan pariwisata terpadu Mandalika Resort, di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.
"Gubernur sudah menginstruksikan penyelesaian masalah itu. Asisten II dan Kepala BKPM-PT NTB untuk mengkoordinir penyelesaiannya," kata Sekretaris Daerah (Sekda) NTB H Muhammad Nur, di Mataram, Selasa, usai pertemuan koordinasi di ruang kerja Gubernur NTB.
Pertemuan koordinasi di ruang kerja Gubernur NTB itu terkait aksi penyerangan oleh kelompok warga bersenjata tajam terhadap warga yang menguasai tanah di kawasan pariwisata terpadu Mandalika Resort, terjadi pada Senin (20/1) siang.
Penyerangan itu dilakukan sekelompok warga yang membawa senjata tajam seperti tombak, dan mengatasnamakan Forum Masyarakat Peduli Mandalika Resort (FMPMR).
Sempat terjadi pertikaian disertai lemparan batu hingga seorang warga Daman (65) luka memar akibat terkena lemparan batu, dan aparat kepolisian terpaksa melontarkan tembakan gas air mata.
Kronologi penyerangan itu, yakni sekitar pukul 09.00 Wita, warga yang menguasai tanah dan mengklaim sebagai pemilik tanah berkumpul di ujung pembangunan jalan di kawasan Mandalika Resort itu, tepatnya di Dusun Songgong, Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.
Satu jam kemudian, sejumlah warga yang tergabung dalam FMPMR (pendukung BTDC) terlibat pertengkaran dengan dengan kelompok pemilik lahan, hingga mencuat desakan agar segera meninggalkan lahan tersebut karena pembangunan jalan akan dilakukan, namun desakan FMPMR itu tidak diindahkan.
Ruas jalan yang hendak dibangun itu menghubungkan Mandalika dengan Teluk Awang menuju Gerupuk, yang berporos di dusun tersebut.
Sekitar pukul 11.30 Wita, massa FPMPR melakukan penyerangan sambil mengancam dengan senjata tajam, bahkan melakukan pengejaran terhadap warga yang berbeda paham, hingga mencuat aksi saling lempar batu.
Aparat kepolisian kemudian melontarkan tembakan gas air mata untuk melerai pertikaian antarkelompok warga itu.
Kini, kelompok warga yang mengklaim sebagai pemilik tanah memilih tetap bertahap, menanti aksi serangkan kelompok FMPMR berikutnya.
Nur mengatakan, Gubernur NTB mengharapkan semua pihak membangun citra positif dalam pengembangan kawasan pariwisata terpadu di Mandalika Resort itu.
"Nanti, Asisten II dan Kepala BKPM-PT (Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu) NTB yang memfasilitasi dialog, guna menyelesaikan persoalan tersebut. Diharapkan semua pihak tetap tenang, dan menyikapi masalah yang mencuat dengan kepala dingin," ujarnya.
Nur menambahkan, Gubernur NTB juga mengimbau semua pihak agar memberi kesempatan kepada manajemen BTDC untuk mengembangkan kawasan pariwisata terpadu Mandalika Resort itu.
BTDC merupakan BUMN Indonesia yang dipercayakan mengembangkan kawasan pariwisata terpadu di Pulau Lombok bagian selatan itu, karena dinilai sukses dalam pengembangan kawasan Nusa Dua, Bali.
BTDC pun telah bermitra dengan MNC, dan Gobel Internasional untuk mengembangkan kawasan terpadu di Mandalika, dan dua perusahaan nasional itu kemudian menggandeng Club Med, untuk membangun dan mengelola hotel eksotik di kawasan Mandalika, yang mereka namai Mandalika Smart Resort.
Perusahaan Perancis yang bergerak di bidang resor dan memiliki cabang di seluruh dunia, dan biasanya terdapat di lokasi eksotis.
MNC dan Gobel Internasional mendanai pembangunan hotel berbintang dan fasilitas pendukungnya, yang nantinya dikelola Club Med.
Saat ini, MNC dan Gobel serta Club Med tengah menyusun desain detail pembangunan hotel berbintang, lapangan golf dan fasilitas pendukungnya dengan dukungan anggaran Rp600 miliar itu. Diperkirakan desain itu rampung paling cepat akhir tahun ini, sehingga awal 2014 sudah ada realisasi fisiknya. (*)
Pewarta : Oleh Anwar Maga
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026