"Meskipun tantangan di lapangan cukup dinamis, kami menyatakan optimistis untuk mencapai realisasi di atas 80 persen,"
Mataram (ANTARA) - Dinas Perdagangan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menyatakan optimistis target pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi pasar dan sewa ruang di pasar tradisional tahun 2026, bisa mencapai 80 persen.
"Meskipun tantangan di lapangan cukup dinamis, kami menyatakan optimistis untuk mencapai realisasi di atas 80 persen," kata Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram H Irwan Harimansyah di Mataram, Rabu.
Target retribusi pasar tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp8,2 miliar, angka ini mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan target tahun 2025 yang berada di angka Rp7,5 miliar dengan realisasi 76 persen.
"Sementara kami, tahun ini optimistis bisa capai 80 persen dari target Rp8,2 miliar. Untuk realisasi sampai bulan Maret 2026, tercatat baru 17 persen," katanya.
Menurutnya, realisasi retribusi pasar tidak dapat ditargetkan 100 persen karena banyaknya tantangan di lapangan, antara lain fluktuasi jumlah pedagang sangat dipengaruhi oleh momentum tertentu, seperti bulan Ramadhan.
Berbeda dengan persepsi umum bahwa pasar semakin ramai saat puasa, tapi justru jumlah pedagang yang aktif di pagi hari berkurang dan lebih banyak terkonsentrasi pada sore hari.
Selain itu, sektor konveksi di pasar tradisional mulai lesu akibat menjamurnya sistem belanja daring (online) dan layanan COD (cash on delivery). Hal ini terlihat di beberapa pasar seperti Pasar Pagesangan yang mulai sepi pedagang pakaian.
Untuk mengejar target tersebut, Dinas Perdagangan juga fokus membenahi kebocoran retribusi dari dalam karena dari hasil inspeksi mendadak (sidak) langsung ke lapangan terindikasi terjadi kebocoran terhadap pungutan retribusi.
Selain itu, persoalan infrastruktur juga menjadi perhatian, seperti yang terjadi di Pasar Mandalika. Pembangunan lapak beton sejak tahun 2017 nilai kurang diminati pedagang karena tidak sesuai dengan budaya pedagang lokal yang lebih nyaman berjualan dengan sistem lesehan atau "gelepak".
"Akibatnya, banyak pedagang yang memilih pindah ke lokasi lain," katanya.
Irwan mengatakan, di Kota Mataram saat ini terdapat 19 pasar tradisional dengan 4 pasar besar sebagai penyumbang utama retribusi yakni Pasar Induk Mandalika
Pasar Kebon Roek, Pasar Pagesangan, dan Pasar Sayang-Sayang.
Pasar Sayang-Sayang, katanya, memiliki potensi besar karena lokasinya yang strategis di perbatasan kota, sehingga menarik banyak pembeli bahkan dari luar daerah seperti Kabupaten Lombok Barat.
"Kami berkomitmen untuk terus menarik kembali minat pedagang agar berjualan di dalam pasar dengan memperbaiki konsep bangunan dan manajemen pasar ke depannya, agar retribusi bisa tercapai sesuai target," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026