"Kami bukan berarti menolak tapi memberikan masukan agar sesuai teknis arah pemberian MBG, tidak menggagalkan program yang sudah ada selama ini,"
Mataram (ANTARA) - Ikatan Dokter Indonesia Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengatakan, rencana Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memberikan susu formula melalui program makan bergizi gratis (MBG) dikhawatirkan bisa mempengaruhi program ASI eksklusif bagi bayi selama enam bulan.
"Kami bukan berarti menolak tapi memberikan masukan agar sesuai teknis arah pemberian MBG, tidak menggagalkan program yang sudah ada selama ini," kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Mataram dr H Emirald Isfihan di Mataram, Kamis.
Hal tersebut disampaikan sebagai respons IDI Kota Mataram terhadap surat terbuka Ikatan Dokter Anak (IDAI) pusat kepada BGN terkait rencana pemberian susu formula masuk ke dalam program MBG.
Menurutnya, surat terbuka yang dibuat IDAI itu karena melihat rencana pemberian susu formula masuk dalam program MBG itu mengganggu pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif bagi bayi sebab pemberian ASI tidak bisa digantikan 100 persen oleh susu formula.
"Ada hal-hal atau kandungan ASI yang memang tidak bisa digantikan oleh susu formula," katanya.
Pada prinsipnya, lanjut Emirald yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram, IDI siap mendukung penuh berbagai program pemerintah.
Misalnya MBG ditujukan bagi anak-anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui . Akan tetapi, dalam pelaksanaannya melibatkan semua unsur dan dapat mendengarkan masukan, saran dari berbagai pihak termasuk IDAI.
Karena itu, lanjut Emirald, jangan sampai rencana pemberian susu formula tersebut membuat multi-tafsir di tengah masyarakat. Di mana, masyarakat menganggap susu formula yang dibagikan untuk menggantikan ASI.
Hal itu bisa saja terjadi dalam pelaksanaannya pemberian menjadi multi-tafsir bagi orang-orang yang mungkin diberikan susu dan ada yang kurang literasi sehingga menganggapnya pengganti ASI.
"Kondisi itu tentu akan menjadi beban kami ke depannya," katanya.
Selama ini sambungnya, program pemberian ASI eksklusif khususnya di Kota Mataram terus digencarkan sehingga BGN juga harus paham ke siapa saja susu formula tersebut harus dibagikan.
"Kami berharap, BGN dapat melihat masukan IDAI secara positif dan melakukan untuk menerjemahkan sosialisasikan apa yang layak diberikan kepada masyarakat," katanya.
Untuk pengawasan sendiri, katanya, IDI sebagai organisasi profesi tidak mempunyai kewenangan melakukan hal tersebut dan hanya yang bisa dilakukan hanya memberikan masukan dan rekomendasi kepada penyelenggara.
"Kami akan melihat fenomena selanjutnya dan kami akan memberikan rekomendasi. Apa yang dikeluarkan IDAI sebagai bagian dari IDI merupakan rekomendasi untuk dikaji sebelum dilaksanakan," katanya.
Baca juga: Muktamar ke-32 IDI di Mataram lahirkan lima resolusi kesehatan nasional
Baca juga: Muktamar XXXII IDI momentum perkuat profesionalisme dokter
Baca juga: Menko Yusril: Organisasi profesi kedokteran seperti IDI idealnya satu di Indonesia
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026