Bima (ANTARA) - Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Nusa Tenggara Barat bersama INOVASI dan STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima, merancang penguatan pendidikan karakter melalui program ASLI BERADAB sebagai model kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar.
Program tersebut dibahas dalam rapat konsolidasi bertajuk Rembuk Penguatan Pendidikan Karakter yang bertujuan membangun ekosistem sekolah yang aman, inklusif, dan beradab di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Kepala BPMP Nusa Tenggara Barat, Katman mengatakan penguatan karakter peserta didik harus dibangun melalui proses pembiasaan yang konsisten di lingkungan sekolah.
"Proses penguatan karakter dimulai dari kebiasaan yang berpola, kemudian menjadi pembiasaan, hingga akhirnya mengkristal menjadi karakter. Tantangan di masyarakat harus ditarik ke dalam konteks pengajaran agar siswa memiliki ketahanan berpikir dan hubungan sosial yang kuat," ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan karakter juga didorong melalui optimalisasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat serta pengembangan pembelajaran mendalam (deep learning) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Menurut Katman, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya sistemik untuk memperkuat ekosistem pendidikan sejalan dengan prioritas pembangunan pendidikan nasional, termasuk peningkatan kualitas pembelajaran dan resiliensi sosial peserta didik.
Baca juga: INOVASI NTB gandeng STKIP Taman Siswa Bima gelar konsolidasi pendidikan
Sementara itu, Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Assoc. Prof. Dr. H. Ibnu Khaldun Sudirman, menyatakan perguruan tinggi yang dipimpinnya siap mendukung percepatan penguatan pendidikan karakter melalui program ASLI BERADAB.
Ia menjelaskan, sejak 2015 institusinya menempatkan penguatan literasi, karakter, dan lingkungan hidup sebagai fokus pengembangan pendidikan.
"Saat ini STKIP Tamsis Bima didukung oleh belasan tenaga pengajar bergelar doktor serta tengah mengembangkan program studi magister pedagogi pertama di Kabupaten Bima," ujarnya.
Menurut dia, kampus tersebut juga telah ditunjuk sebagai proyek percontohan pengembangan mata kuliah pendidikan karakter oleh INOVASI.
Baca juga: Kualitas atlet tenis meja Indonesia tidak kalah jauh
"Kami telah membangun ekosistem dan layanan digitalisasi, termasuk penguatan kemampuan berbicara publik serta pengelolaan perpustakaan digital yang siap diimplementasikan untuk mendukung sekolah-sekolah," katanya.
Dari sisi satuan pendidikan, sejumlah sekolah dasar menyatakan kesiapan untuk mengimplementasikan program tersebut. Perwakilan SDN 15 Sarae Kota Bima, Asikin, menyebut pihaknya siap menerapkan materi pendidikan karakter berbasis digitalisasi.
Sementara itu, Wahida dari SDN Inpres 2 Tangga menilai kebutuhan tenaga pendidik muda yang menguasai teknologi informasi menjadi penting untuk menjawab tantangan pembelajaran di era digital.
Di sisi lain, isu kapasitas guru dalam menangani siswa inklusif juga mengemuka. Perwakilan SDN 03 Tente, Mariam, menyampaikan sekolah masih menghadapi keterbatasan kompetensi guru dalam memberikan layanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus.
Menanggapi hal tersebut, pihak penyelenggara menegaskan bahwa sekolah tetap harus membuka akses bagi siswa inklusif dengan dukungan pembinaan dan penguatan kapasitas guru.
Sebagai tindak lanjut, tim institusi khusus dibentuk dan dipimpin oleh Ketua Program Studi PGSD STKIP Taman Siswa Bima untuk menyusun rincian implementasi program di lapangan, termasuk penerapan awal empat kebiasaan utama dari Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat secara kolaboratif antara sekolah dan perguruan tinggi.