Dompu (ANTARA) - Peralatan pemantauan aktivitas Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan hilang akibat pencurian oleh oknum masyarakat di wilayah Oi Katupa, Kecamatan Tambora dan Desa Sorinomo, Kecamatan Pekat.

Baca juga: Aktivitas vulkanik Gunung Tambora masih tinggi, status masih waspada

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Tambora, Syatrin Kharis, kepada ANTARA, Kamis, mengatakan pencurian tersebut terjadi hingga dua kali dan diduga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan melaut dan pertanian.

"Peralatan seperti aki dan konverter diambil. Ini sangat mengganggu sistem pemantauan karena alat tidak bisa mengirimkan data," ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu kasus pencurian terjadi pada Rabu (17/12/2025) sekitar pukul 11.19 Wita di Dusun Ointala Atas, Desa Sorinomo. Pelaku diduga merusak gembok ruang penyimpanan aki sebelum membawa kabur dua unit panel surya dan dua unit aki milik Kantor Pengamatan Gunung Api Tambora.

"Akibat kejadian tersebut, alat seismometer dan GPS di lokasi tidak dapat berfungsi optimal dalam mendeteksi aktivitas vulkanik Gunung Tambora. Kerugian ditaksir mencapai Rp17 juta," paparnya.

Baca juga: Aktivitas meningkat, Gunung Tambora naik status ke level waspada

Syatrin menambahkan, pihaknya harus menunggu pengadaan alat pengganti dari Bandung dengan waktu pengiriman sekitar satu minggu agar sistem pemantauan kembali normal.

"Untungnya status Gunung Tambora belum mengalami peningkatan. Namun, jika alat tidak berfungsi, tentu berisiko karena aktivitas gunung tidak bisa terpantau secara maksimal," katanya.

Ia juga menyebutkan, kasus pencurian serupa terjadi sebelumnya pada Oktober 2025 di lokasi Oi Katupa. 

"Kasus ini telah dilaporkan ke Polsek Tambora pada November lalu dan Polsek Pekat pada Desember lalu," tegasnya.

Pihaknya berharap, aparat kepolisian dapat segera menindaklanjuti laporan tersebut serta meminta masyarakat turut menjaga fasilitas negara yang berkaitan dengan keselamatan publik.

"Kami minta tolong agar semua pihak ikut menjaga, karena alat ini penting untuk mitigasi bencana," ujar Syatrin.

​​​​​​​