Mataram (ANTARA) - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, meningkatkan kegiatan normalisasi sungai dan saluran selama musim hujan untuk mengantisipasi luapan air saat cuaca ekstrem.
"Selama musim hujan, normalisasi sungai dan saluran kami prioritaskan agar ketika terjadi hujan lebat dan merata sungai dan saluran bisa berfungsi maksimal," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Lale Widiahning di Mataram, Selasa.
Sejumlah wilayah aliran sungai dan saluran yang dilakukan normalisasi oleh sekitar 300 petugas Dinas PUPR pada titik rawan banjir seperti di wilayah Sekarbela, Kali Unus, Kali Ancar, Kali Ning, Sungai Jangkuk, saluran di Pagutan, Lingkar Selatan, dan saluran Pasar Pagesangan,
Normalisasi menjadi program prioritas saat ini karena sampah dan sedimen pada titik-titik tersebut cukup banyak. Bahkan, sampah yang diangkut dari saluran bisa mencapai tiga kubik lebih dengan jenis sampah didominasi sampah plastik dan styrofoam.
Baca juga: Pemkot Mataram dan BWS siap bahas normalisasi sungai antisipasi banjir
Sementara untuk di Sungai Unus, petugas Dinas PUPR melakukan pengangkatan sampah serta pengerukan sedimentasi, agar air sungai bisa mengalir lancar hingga ke muara.
"Tumpukan sampah dan sedimen bisa menghambat aliran air sungai sehingga dapat memicu luapan ke permukaan jalan bahkan ke permukiman warga ketika terjadi hujan," katanya.
Apalagi, perubahan cuaca saat ini tidak bisa diprediksi meskipun pagi terang benderang, pada siang hari tiba-tiba terjadi hujan deras dengan disertai angin kencang.
"Untuk itulah, kondisi saluran dan sungai harus terus kami pantau agar bisa berfungsi maksimal ketika terjadi hujan lebat," katanya.
Lale sebelumnya mengatakan, sebelum musim hujan volume sampah di saluran memang hampir sama, karena semakin digali dan ditangani sampah saluran semakin banyak terhimpun.
Baca juga: PUPR NTB: Sungai yang melintasi Mataram perlu normalisasi
Begitu juga dengan kondisi sungai, semakin bersih sungai semakin senang masyarakat membuang sampah ke sungai.
"Pokoknya, masalah sampah saluran dan sungai ini tidak ada habis-habisnya. Ini karena masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan serta dampak membuang sampah sembarangan," katanya.
Khusus untuk wilayah Ampenan, pihaknya sudah membuat aliran dari kolam penampungan air drainase di Sobrok di Kampung Bugis Ampenan, untuk kemudian di buang ke laut.
Dengan dibuatkan kolam penampungan, kemudian di pompa ke laut sebab air dari drainase di sekitar tidak bisa langsung ke laut karena ketinggian pantai lebih tinggi dari drainase yang ada.
"Air drainase kami tampung di Sobrok, setelah itu baru dipompa buang ke laut," katanya.
Karena itulah, tambah Lale, wilayah Ampenan tidak pernah terjadi genangan dan banjir, kecuali banjir rob akibat gelombang pasang.
Baca juga: Sungai di Mataram bakal dilebarin untuk atasi banjir
Baca juga: Normalisasi saluran dan sungai di Mataram antisipasi anomali cuaca
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026