Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat mengimbau warga agar menunda rencana berangkat ibadah umrah dengan mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang saat ini tidak menentu dan eskalasinya semakin tinggi.

Asisten I Setda Kota Mataram H Lalu Martawang di Mataram, Selasa, mengatakan, eskalasi konflik yang melibatkan serangan ke wilayah Iran memicu kekhawatiran bagi keselamatan warga negara Indonesia yang berencana melaksanakan ibadah umrah di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.

"Meski antusiasme masyarakat untuk beribadah ke Tanah Suci sangat tinggi, tapi kondisi geopolitik saat ini menuntut kewaspadaan ekstra. Karena itu, umrah sebaiknya ditunda hingga kondisi aman," katanya.

Ia mengatakan, peristiwa saling serang yang melibatkan kekuatan militer besar di kawasan tersebut telah berdampak pada sejumlah jadwal penerbangan internasional sehingga menimbulkan gangguan jadwal penerbangan.

Baca juga: Seluruh pekerja migran dan jamaah umrah NTB aman terpantau

Apalagi berdasarkan pantauan di sejumlah media, dinamika konflik mulai memengaruhi arus transportasi udara. Beberapa poin penting terkait kondisi penerbangan saat ini antara lain terjadi penundaan di Bandara Soekarno-Hatta baik penerbangan dari Indonesia menuju Timur Tengah maupun sebaliknya.

"Bahkan, beberapa jamaah dilaporkan sempat tertahan di Bandara Jeddah, meskipun ada juga sebagian yang berhasil kembali ke tanah air tanpa hambatan berarti," katanya.

Terkait dengan itu, pihaknya berharap masyarakat dan biro perjalanan umrah lebih intensif menjalin komunikasi dengan mitra mereka di Makkah dan Madinah guna memantau situasi terkini dan terus memantau perkembangan situasi dari waktu ke waktu.

Baca juga: Sebanyak 1.415 jamaah umrah asal NTB aman di Arab Saudi

Eskalasi yang terus meningkat di media massa dan media sosial menjadi dasar pertimbangan untuk mengutamakan faktor keselamatan.

"Menjaga keselamatan itu harus yang utama. Jangan sampai karena euforia ingin beribadah, kita tidak mempertimbangkan risiko keamanan di sana," katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, masyarakat yang berencana berangkat dari Indonesia diharapkan mencari informasi yang utuh dan tidak terburu-buru mengambil keputusan jika situasi di lapangan dinilai masih membahayakan.

"Koordinasi yang kuat antara calon jamaah, biro perjalanan, dan otoritas terkait sangat diperlukan guna menghindari kesulitan di kemudian hari," katanya.

Baca juga: DPR meminta KBRI ambil langkah darurat guna lindungi jemaah umrah
Baca juga: Serbanyak 58 ribu jamaah umrah RI di Arab Saudi saat Timur Tengah memanas



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026