Banjarmasin (ANTARA) - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Selatan (DJPb Kalsel) mencatat neraca perdagangan internasional di provinsi itu surplus Rp15,8 triliun didorong peningkatan ekspor batu bara sepanjang triwulan I 2026.
Kepala Kanwil DJPb Kalsel Catur Ariyanto Widodo di Banjarmasin, Senin, mengatakan surplus Rp15,8 triliun tersebut tumbuh sebesar 12,56 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
“Capaian tersebut didorong peningkatan ekspor daerah yang mencapai sekitar Rp18,7 triliun atau tumbuh 15,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama berasal dari peningkatan volume ekspor batu bara sebagai komoditas utama penopang perdagangan daerah,” ujarnya.
Catur menjelaskan kontribusi batu bara terhadap total ekspor Kalimantan Selatan masih mendominasi lebih dari 50 persen, sehingga menjadi penopang utama surplus perdagangan daerah sepanjang awal 2026.
Di sisi lain, ia menyebutkan nilai impor Kalsel pada triwulan I juga mengalami kenaikan cukup tinggi sebesar 36,3 persen menjadi sekitar Rp2,9 triliun yang dipengaruhi meningkatnya kebutuhan minyak petroleum dan mesin pengolahan hasil tambang.
Selain mencatat surplus perdagangan yang signifikan, tekanan inflasi di Kalimantan Selatan juga mulai menunjukkan tren melandai pada Maret 2026 meskipun masih berada di atas rata-rata nasional.
Ia menyampaikan inflasi tahunan Kalimantan Selatan pada triwulan I tercatat sebesar 4,83 persen yoy dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,80 atau lebih rendah dibandingkan posisi Februari 2026 yang sempat mencapai 5,97 persen.
Baca juga: Neraca dagang RI tak menyempit akibat tarif AS
Meski mengalami perlambatan, Catur mengungkapkan tingkat inflasi Kalimantan Selatan masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada pada level 3,48 persen yoy pada periode yang sama.
Secara bulanan atau month to month (mtm), Kalimantan Selatan mengalami inflasi 0,50 persen dengan Kabupaten Tanjung menjadi wilayah dengan tekanan inflasi tertinggi di regional mencapai 5,18 persen secara tahunan.
Catur mengatakan tekanan inflasi tahunan masih didominasi komoditas emas perhiasan, tarif listrik dan beras, sedangkan secara bulanan terjadi pergeseran komoditas penyumbang inflasi utama menjadi ikan nila, telur ayam ras, dan cabai merah.
Baca juga: Menkeu sebut kinerja indeks manufaktur dan neraca dagang bagus
Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalimantan Selatan terus memperkuat sinergi melalui operasi pasar murah yang hingga Maret 2026 telah menyalurkan sebanyak 810.000 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
“Selain penyaluran beras SPHP, pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan juga menjalankan fasilitasi distribusi pangan dan penyediaan voucher pada Pasar Raya TPID VI sebagai upaya menjaga keterjangkauan harga di Kalimantan Selatan,” ujar Catur.
Pewarta : Tumpal Andani Aritonang
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026