Budaya literasi warisan Hamzanwadi

id Antaranews NTB,Hamzanwadi

Hizib Nahdlatul Wathan, karya monumental Hamzanwadi. (Muhammad Nazri)

Mataram (ANTARA) - Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (Hamzanwadi), siapa yang tidak mengenal beliau, ulama kharismatik kelahiran Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, tahun 1904. Pendiri Nahdlatul Wathan (NW), organisasi masyarakat terbesar di NTB.

Kiprah dan kontribusinya dalam mencerdaskan masyarakat Lombok tidak ada yang bisa memungkiri.
Saat paham animisme dianut masyarakat Lombok, beliau datang bak lentera yang menerangi kegelapan. Beliau meninggalkan pengembaraannya menuntut ilmu selama 12 tahun di Negara Arab, tepatnya di Madrasah As-Saulatiyah Makkah Al-Mukarramah untuk kembali pulang membawa cahaya islam kepada umat atas perintah gurunya Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyat.

Kini ribuan madrasah NW tersebar hampir di seluruh penjuru Nusantara adalah salah satu bukti nyata bagaimana ia berkontribusi pada umat, sehingga ia dijuluki Abul Madaris atau bapaknya madrasah serta Abul Masajid yang mempunyai arti bapaknya Masjid.

22 tahun berlalu ia berpulang ke hadirat Sang Pencipta dengan meninggalkan warisan yang tidak terhitung banyaknya. Hampir di segala lini kehidupan ia meninggalkan cerita yang baik, yang patut dan harus ditiru oleh tidak hanya warga NW tapi juga bagi seluruh warga Indonesia.

Beliau dalam salah satu ungkapannya pernah mengatakan, “Sesungguhnya seseorang akan menjadi cerita bagi generasi sesudahnya, maka jadilah cerita yang baik bagi mereka yang benar-benar memahami arti sejarah”.

Beliau sudah menjadi cerita yang paling indah bagi masayarakat Lombok, sehingga tidak heran ketika beliau mulai diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional, masyarakat Lombok kompak untuk mendukung.
Selain mendirikan ribuan madrasah di segala penjuru nusantara sebagai warisan nyata, ia juga merupakan seorang penulis hebat, penyair luar biasa dengan puluhan karya tulisnya.


Hamzanwadi sang sastrawan

Hamzanwadi tak hanya terkenal dengan keulamaannya yang kharismatik. Puluhan karya tulis telah beliau torehkan dalam berbagai disiplin ilmu, juga tidak dalam satu bahasa saja. Karyanya ada yang berbahasa Indonesia (melayu), Arab, dan Sasak, sebagai salah satu upaya dalam mendukung dakwahnya.
Tulisan-tulisan beliau syarat dengan nilai-nilai sastra yang tinggi akan makna.

Dalam banyak tulisannya beliau menggunakan syair guna bisa dipahami dengan mudah oleh siapapun yang membacanya. Salah satu karya beliau yang keseluruhannya menggunakan syair berbahasa Indonesia adalah Wasiat Renungan Masa I dan II, yang kemudian beliau sebut dengan Wasiat Renungan Masa Pengalaman Lama dan Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru.

Wasiat Renungan Masa baik yang lama maupun yang baru merupakan kumpulan nasihat-nasihat  dan petunjuk perjuangan untuk para Nahdliyin dan Nahdliyat (sebutan untuk warga NW), yang berdasar pada pengalaman hidup yang beliau alami dan pandangan akan kehidupan di masa mendatang.

Selain Wasiat Renungan Masa I dan II, dalam disiplin Ilmu Tajwid beliau mempunyai “Batu Ngompal” dan “Anak Nunggal Taqrirat Batu Ngompal” yang kesemuanya berbentuk Nazham atau Syair, yang syarat dengan nilai-nilai kesastraan.

Hizib Nahdlatul Wathan, karya monumental Hamzanwadi

Hizib Nahdlatul Wathan merupakan karya paling monumental Hamzanwadi. Pembacaannya pun sampai sekarang tetap lestari hingga ke pelosok-pelosok. Di mana ada warga Nahdlatul Wathan di sana ada pembacaan Hizib.

Kata hizib diambil dari kata bahasa arab yakni hizb, yang mempunyai arti doa, wirid, senjata, bagian, kelompok, partai, golongan. Jadi, Hizib berarti kumpulan doa-doa atau wirid yang sistematika bacaannya teratur dan terpilih dari ayat-ayat al-Quran dan hadits Nabi Muhammad, serta amalan-amalan rutin para ulama dan aulia (kekasih) Allah yang diamalkan dengan tujuan tertentu dan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan kata lain, bahwa hizib adalah kumpulan doa-doa yang teratur dan terpilih dengan sasaran yang teratur.

Dalam tradisi tasawuf Nahdlatul Wathan dikenal tiga macam hizib, yakni Hizib Nahdlatul Wathan, Hizib Nahdlatul Banat, dan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan. Ketiga jenis amaliah tasawuf ini merupakan karya-karyanya yang disadur dari sekitar 70 macam hizib para Wali Allah.

Karya-karya Hamzanwadi

Karya-karya Hamzanwadi  memang tidak berbentuk kitab-kitab yang besar, yang berisi kajian-kajian yang panjang lebar pembahasannya (muthawwalat), tetapi karya lebih merupakan kajian-kajian dasar yang sebagian besar berupa syair-syair berbahsa Arab dan berbahasa Melayu (Indonesia). Karyanya juga ada yang berbentuk syarah atau penjelasan lebih lanjut terhadap suatu kitab serta dalam bentuk saduran dari kitab-kitab lain.

Diantara judul-judul karya tulis yang telah beliau hasilkan yang berbahasa Arab dengan berbagai disiplin ilmu adalah Risalah at-Tauhid dalam bentuk soal jawab (Ilmu Tauhid), Sullam al-Hija Syarh Safinah an-Naja (Ilmu Fiqih), Nahdhah az-Zainiyyah dalam bentuk nazham atau syair (Ilmu waris atau Faraidh).

At-Tuhfah al-Anfananiyah Syarh Nahdhah az-Zainiyyah (Ilmu Faraidh), Al-Fawaqih an-Nahdhiyah dalam bentuk soal jawab (Ilmu Faraidh), Mi’raj ash-Sibyan Ila Sama’ Ilm al-Bayan (Ilmu Bahasa atau Balaghah), An-Nafahat Ala at-Taqrirah as-Saniyah (Ilmu Musthalah al-Hadits), Nail al-Anfal (Ilmu Tajwid).

Hizib Nahdlatul Wathan (Doa dan Wirid), Hizib Nahdlatul Banat (Doa dan Wirid kaum wanita), Thariqah Hizib Nahdhah al-Wathan, Ikhtishar Hizib Nahdhah al-Wathan (Wirid harian), Shalat an-Nahdlatain (shalawat), Shalat Nahdhah al-Wathan (shalawat), Shalat Miftah Bab Rahmah Allah (Doa dan Wirid), Shalat al-Mab’uts Rahmah li al-Alamin (Doa dan Wirid), dan lain-lain.

Adapula karya-karya beliau yang berbentuk Nasyid atau lagu perjuangan dan dakwah berbahasa Arab, Indonesia (melayu), dan Sasak yakni Ta’sis NWDI (Anti Ya Pancor Biladi), Imamuna Syafii, Ya Fata Sasak, Ahlan bi Wafd Zairin, Tanawwar, Mars Nahdlatul Wathan, Bersatulah Haluan, Nahdlatain, Pacu Gama’, dan lain-lain.

 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar