Lombok Tengah harus bekerja keras di usia 74 tahun

id hut 74 lombok tengah, infrastruktur lombok tengah,anggota dprd ntb,m akri

Lombok Tengah harus bekerja keras di usia 74 tahun

Ketua Fraksi PPP DPRD Nusa Tenggara Barat, M. Akri. (ANTARA/Nur Imansyah).

Lombok Tengah, NTB (ANTARA) - Ketua Fraksi PPP DPRD Nusa Tenggara Barat, M. Akri meminta Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah harus lebih bekerja keras di usianya 74 tahun, karena persoalan kemiskinan dan kesehatan masih menjadi beban perih masyarakat di daerah itu.

"Lombok Tengah terlihat maju karena dibungkus oleh program pemerintah pusat yang terus menggelontorkan anggaran ke Kabupaten Lombok Tengah," kata Akri di Mataram, Minggu.

Ia menilai, di usia yang Ke-74 sudah tidak lagi Lombok Tengah berkembang, melainkan sudah sepantasnya menjadi daerah maju di NTB daripada daerah lainnya.

"Selama ini kita lihat masih stagnan, belum begitu nampak pembangunan di Lombok Tengah dari segi pengentasan kemiskinan dan kesehatannya. Beberapa waktu lalu Rumah Sakit di Lombok Tengah juga tingkat akreditasinya selalu menurun. Tentu ini menjadi PR bersama kita bersama," ungkap Sekretaris DPW PPP NTB itu.

Lombok Tengah memang kata dia, tidak bisa dipungkiri kemajuannya dari segi pembangunan infrastruktur dan SDM nya selalu meningkat.

"Tapi kita tidak bisa bersantai-santai dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada, melainkan semua kita antara eksekutif dan legislatif harus terus kerja keras demi majunya Lombok Tengah kedepan," terangnya.

Apalagi tambah anggota Komisi II DPRD NTB itu, dengan Lombok Tengah dijadikan tempat event dunia sekelas MotoGP, menjadi angin segar bagi masyarakat sekitar untuk bisa merubah diri, mulai dari ekonomi dan pembangunan di segala bidang.

"MotoGP ini menjadi angin segar bagi masyarakat Lombok Tengah, kita semua masyarakat sekitar harus ambil momentum itu. Karena dunia hari ini sudah tertuju pada Lombok Tengah. Pemerintah pun harus sigap dan mampu melihat peluang ini demi terciptanya masyarakat Lombok Tengah yang maju dan beradab," katanya.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar