Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperluas akses energi masyarakat pedesaan melalui pengembangan pangkalan elpiji berbasis Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes.

"Kami mendorong desa agar tidak lagi sekadar menjadi titik distribusi, melainkan bertransformasi menjadi pelaku aktif dalam rantai ekonomi melalui pengelolaan pangkalan elpiji mandiri," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB Lalu Wiranata di Mataram, Kamis.

Wiranata mengatakan pangkalan elpiji berbasis BUMDes tidak hanya menjamin ketersediaan energi, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi masyarakat desa.

Integrasi program Desa Berdaya yang dicanangkan Pemerintah NTB dengan dukungan Pertamina menjadi langkah konkret dalam menghadirkan akses energi yang merata hingga ke tingkat desa.

Menurutnya, langkah tersebut juga diposisikan sebagai bagian dari strategi percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Barat.

"Kami menyakini integrasi sektor energi, perdagangan, dan pemberdayaan masyarakat mampu menciptakan dampak langsung berupa peningkatan kesejahteraan, pembukaan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi berbasis potensi lokal," ujar Wiranata.

Pemerintah NTB mendorong setiap desa untuk menyesuaikan skema pengelolaan pangkalan elpiji dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah, sehingga manfaat bisa dirasakan secara maksimal.

Wiranata berharap kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, BUMDes, dan Pertamina mampu membuat desa-desa di Nusa Tenggara Barat berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan.

Pada 2026, NTB mendapatkan alokasi kuota elpiji sebanyak 130.802 metrik ton yang tersebar di seluruh kabupaten/kota dengan rincian Lombok Barat 20.343 metrik ton, Lombok Tengah 24.784 metrik ton, Lombok Timur 30.591 metrik ton, Lombok Utara 6.207 metrik ton, Kota Mataram 17.798 metrik ton.

Sedangkan Kabupaten Sumbawa sebanyak 11.003 metrik ton, Dompu 5.495 metrik ton, Bima 7.914 metrik ton, Sumbawa Barat 3.112 metrik ton, dan Kota Bima mencapai 3.555 metrik ton.