Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja industri pengolahan menjadi penopang kuat bagi laju pertumbuhan ekonomi di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada triwulan I 2026 yang mencapai 13,64 persen secara tahunan.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan angka tersebut menempatkan NTB dalam posisi kedua dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi secara nasional setelah Maluku Utara.
"Secara year on year, triwulan I 2026 dibandingkan triwulan I 2025 terjadi kenaikan cukup fantastis mencapai 13,64 persen," ujar dia di Mataram, Selasa.
Wahyudin menjelaskan laju pertumbuhan ekonomi yang melesat tinggi tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas produksi pada seluruh lapangan usaha, terutama industri pengolahan, pertambangan, dan jasa keuangan.
Kinerja lapangan usaha dari industri pengolahan mengalami pertumbuhan paling signifikan sebesar 60,25 persen secara tahunan seiring dengan peningkatan produksi dari fasilitas pemurnian mineral atau smelter.
Hasil produksi smelter berupa tembaga, perak, asam sulfat, hingga emas tersebut lantas mendorong kenaikan nilai tambah industri pengolahan, sehingga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026.
Lapangan usaha pertambangan dan penggalian juga mencatat pertumbuhan yang tinggi sebesar 31,80 persen secara tahunan akibat peningkatan produksi hasil pertambangan konsentrat.
Aktivitas ekspor tambang sempat meredup akibat tidak ada penjualan konsentrat dari Nusa Tenggara Barat ke luar negeri selama delapan bulan terhitung dari Januari hingga akhir Oktober 2025.
Pada 31 Oktober 2025 hingga April 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan relaksasi ekspor konsentrat terhadap perusahaan tambang yang beroperasi di Kabupaten Sumbawa Barat.
Relaksasi selama enam bulan itu lantas berpengaruh cukup signifikan terhadap capaian nilai ekspor tambang dan berkontribusi dalam mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain itu, lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi turut mendorong pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 13,48 persen akibat peningkatan output perbankan umum.
"Ini adalah pertumbuhan ekonomi tertinggi selama lima tahun terakhir. Pada triwulan IV 2025, laju pertumbuhan ekonomi NTB secara tahunan hanya 12,49 persen, tapi ternyata pada triwulan I 2026 lebih tinggi lagi mencapai 13,64 persen," pungkas Wahyudin.
Baca juga: Ekspor NTB meningkat ribuan persen secara tahunan pada Maret 2026
BPS mencatat secara kuartal ke kuartal, ekonomi Nusa Tenggara Barat mengalami kontraksi sebesar 1,3 persen pada triwulan I 2026 dibandingkan triwulan IV 2025.
Kondisi itu merupakan pola musiman yang lazim terjadi setiap triwulan pertama lantaran realisasi belanja pemerintah belum optimal, baik dari segi APBD maupun sumber pendanaan lain
Baca juga: Inflasi Kota Bima lampaui batas aman capai 4,23 persen