Jalan itu nantinya akan menjadi jalan alternatif menuju ke kawasan wisata Senggigi di Lombok Barat, sedangkan jika ke arah selatan akan menuju Bandara Internasional Lombok
Mataram,(Antara) - Pemerintah Kota Mataram berkeinginan menjadikan pantai di bekas Pelabuhan Ampenan menjadi objek wisata unggulan sebagai upaya memberikan peluang bagi masyarakat sekitar meningkatan kesejahteraannya.

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh usai melakukan peletakan batu pertama pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) pantai di bekas Pelabuhan Ampenan, Kamis, mengatakan untuk mendukung objek wisata tersebut pemerintah kota sedang merintis pembangunan jalan sepanjang sembilan kilometer.

Jalan tersebut mulai dari Pantai Penghulu Agung di selatan hingga Pantai Meninting di perbatasan Kota Mataran di bagian utara.

"Jalan itu nantinya akan menjadi jalan alternatif menuju ke kawasan wisata Senggigi di Lombok Barat, sedangkan jika ke arah selatan akan menuju Bandara Internasional Lombok," katanya.

Ia mengatakan, dengan adanya pembangunan jalan tersebut akses transportasi masyarakat akan semakin mudah dan memudahkan masyarakat beraktivitas ekonomi.

Karena itu, katanya, masyarakat diharapkan mendukung program ini dengan menjaga kondusivitas di Kota Mataram.

"Jika kondisi masyarakat tetap kondusif, pembangunan dapat berjalana lancar, investor pun senang berinvestasi di Kota Mataram," katanya.

Wali kota juga menyampaikan permintaan maafnya kepada warga di pesisir Pantai Ampenan atas gagalnya reklamasi Pantai Ampenan oleh PT Gunung Lawu Mercubuana yang telah disosialisasikan sejak satu tahun terakhir.

"Namun pembangunan saat ini merupakan bukti keseriusan pemerintah dalam upaya menghidupkan kembali kota tua Ampenan," katanya.

Acara peletakan batu pertama pembanguan RTH Pantai Ampenan selain dihadiri Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh dan Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana, juga hadir tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dari tiga kelurahan di sekitar kawasan itu.

Selain itu hadir pula pimpinan SKPD Kota Mataram, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), serta perwakilan dari pedagang kaki lima (PKL).

Di Ampenan masih terdapat sejumlah bangunan tua peninggalan Belanda. Kawasan itu mulai dikembangkan sekitar tahun 1.800-an dan merupakan kota penting karena pernah menjadi pusat perdagangan di Lombok antara 1948-1950.

Pewarta :
Editor: Zulaeha
COPYRIGHT © ANTARA 2026