Taliwang, Sumbawa Barat, 19/8 (ANTARA) - Pada hari pertama Lebaran 1433 H, kusir dokar di Desa Labuan Lalar, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, panen rezeki karena banyak penumpang terutama anak-anak yang keliling desa menggunakan angkutan perdesaan tersebut.
Nasruddin, salah seorang kusir dokar di Desa Labuan Lalar, Kecamatan Taliwang, Minggu mengatakan, pada hari pertama Lebaran anak-anak biasanya keliling desa menggunakan dokar, tradisi turun temurun sejak puluhan tahun silam.
Karena itu, katanya, pada orangtua sengaja menyiapkan uang pecahan Rp2.000 untuk membayar ongkos naik dokar. Keliling Desa Labuan Lalar menempuh jarak sekitar dua kilometer hingga perbatasan desa Labuan Lalar dan Desa Dasan Kecamatan Jereweh.
Dia mengatakan, sekali jalan muatan yang diangkut berjumlah belasan orang, karena penumpang umumnya anak-anak tiga hingga tujuh tahun, sehingga sekali jalan diperoleh ongkos sekitar Rp11.000 hingga Rp12.000.
Kadang-kadang anak yang masih kecil didampingi orang tuanya "berwisata" keliling desa naik dokar guna mencegah kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diiinginkan.
Kusir dokar lain di Desa Labuan Lalar, Muhammad Rifai juga mengakui bahwa pada setiap Lebaran kebanjiran penumpang, karena banyak anak yang naik dokar keliling desa.
Pendapatan sebagai kusir dokar pada setiap perayaan Lebaran jauh lebih banyak dibandingkan dengan pada hari-hari biasa. Penumpang yang diangkut hanya ibu-ibu yang pergi ke pasar atau pulang setelah berbelanja.
Rata-rata pendapatan kusir dokar di Desa Labuan Lalar pada setiap Labaran mencapai Rp400.000 hingga Rp500.000 per hari, sementara pada hari-hari biasa paling tinggi Rp50.000 hingga Rp75.000 per hari.
Moda transportasi antara Desa Labuan Lalar dengan desa terdekat, seperti Desa Lalar Liang dan Desa Dasan Anyar menggunakan gerobak yang pada hari-hari biasa muatnya lima sampai enam orang, pada saat lebaran bisa mencapai belasan orang, karena penumpang umumnya anak-anak.
Labuan Lalar merupakan salah satu desa nelayan di Kabupaten Sumbawa Barat yang sebagian penduduknya berasal dari etnis Bajo dan umumnya mereka bekerja sebagai nelayan.
Dari sekitar 1.200 penduduk Desa Labuan Lalar, sekitar 85 persen bekerja sebagai nelayan. Rumah penduduk di desa ini umumnya rumah panggung.(*)