Mencontoh Toleransi Beragama Di "Bumi Seribu Masjid"

id toleransi al azhar

Presiden RI, Joko Widodo menutup secara resmi Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional Alumni Al-Azhar Mesir di Indonesia yang diselenggarakan selama tiga hari, 17—19 Oktober 2017, di Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Ironisnya, umat Islam selalu dituding sebagai kelompok intoleran. Ini seolah-olah bertolakbelakang dengan label Islam sebagai agama rahmatan lil `alamin atau rahmat bagi sekalian alam.
Mataram,  (Antara) - Berbagai peristiwa memilukan akhir-akhir setidaknya menjadi bukti bahwa toleransi antarumat beragama di Bumi Pertiwi tercinta ini menghadapi ujian berat.

Ironisnya, umat Islam selalu dituding sebagai kelompok intoleran. Ini seolah-olah bertolakbelakang dengan label Islam sebagai agama rahmatan lil `alamin atau rahmat bagi sekalian alam.

Namun, tudingan bernada miring itu agaknya tak sepenuhnya benar. Setidaknya hal itu dibuktikan dengan kehidupan beragama di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mengedepankan toleransi antarumat beragama.

Gubernur NTB TGH M. Zainul Majdi menyampaikan ajaran Islam diterapkan dengan baik dalam kehidupan masyarakat di daerahnya. Harmonisasi hidup antarumat beragama berjalan dengan baik di NTB.

Di hadapan ratusan ulama yang hadir dalam Pembukaan Multaqa Nasional IV Alumni Al-Azhar Mesir, Gubernur Majdi yang juga jebolan Universitas Al Azhar Kairo, Mesir itu, mengatakan di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas muslim, terdapat kelompok masyarakat beragama Kristen, Katolik, Buddha, dan Konghucu.

Mereka semua hidup dalam suasana tolong menolong dan penuh kedamaian di "Pulau Seribu Masjid" ini.

Selain itu, penerapan ajaran Islam yang patut dibanggakan adalah keberhasilan NTB dalam membangun konsep wisata halal sebagai bagian dari upaya Pemprov NTB menunjukkan kepada dunia bahwa dalam Islam ada berbagai hal yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

Penerapan konsep wisata halal di NTB telah meningkatkan angka kunjungan wisata, mendorong perkembangan pembangunan hotel-hotel, dan segmen baru lainnya yang bermanfaat bagi kemajuan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sejatinya, terbentuknya konsep wisata halal merupakan bukti nyata bahwa ajaran-ajaran Islam itu membawa kebaikan dalam tataran kehidupan nyata. Hal itu juga diapresiasi oleh para ulama dari Universitas Al Azhar.

Kemanfaatan wisata halal bukan hanya untuk umat Islam akan tetapi juga kalangan pelaku wisata.

Gubernur yang biasa disapa Tuan Guru Bajang (TGB) itu, mengajak para ulama yang hadir dalam kegiatan tersebut untuk menikmati keindahan wisata di Pulau Lombok dan Sumbawa.

Kehidupan beragama di NTB yang dilandasi dengan toleransi beragama yang kuat menjadikan "Bumi Seribu Masjid" ini contoh bagi daerah lainnya.

Bahkan patut dijadikan acuan bagi pembinaan kehidupan kerukunan antarumat beragama di dunia.



Mengagumkan

Tidak mengherankan jika Wakil Ketua Alumni Al-Azhar Internasional yang juga mantan Menteri Waqaf Mesir, Prof Dr Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi, menyatakan kekaguman sekaligus menyerukan umat Islam di dunia untuk mencontoh kehidupan toleransi kehidupan beragama di NTB.

"Contoh di NTB ini, kami kehilangan di Arab," katanya saat pembukaan Multaqa Nasional Alumni Mesir di Ballroom Islamic Center Provinsi NTB.

Potret kehidupan umat Islam di NTB sebagai cerminan Islam di Indonesia yang penuh dengan moderasi dan toleransi, serta mengedepankan nilai-nilai kebersamaan, menjadi contoh terbaik bagi kehidupan beragama di dunia.

Tatanan kehidupan umat Islam di "Bumi Seribu Masjid" ini sekaligus dapat meluruskan persepsi tentang Islam yang selama ini disalahpahami oleh banyak kalangan.

Umat Islam yang selalu hidup rukun dan saling tolong menolong dengan umat beragama lain, seperti di NTB ini, begitu dirindukan oleh umat di dunia, bahkan di Arab.

Ia menyebut bahwa Islam bukan potongan-potongan tubuh manusia yang terlempar akibat bom bunuh diri. Islam bukanlah kehidupan yang saling membenci atau saling menjauhkan diri dengan umat lain.

Namun, Islam itu saling berkontribusi, saling membangun hidup dan saling memberi kemanfaatan dalam kedamaian dengan seluruh umat beragama, seperti yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Besar Muhammad SAW saat membangun Kota Madinah.

Hanya saja, ia masih merasa heran kenapa toleransi yang baik di Indonesia, termasuk di NTB, belum ditularkan ke seluruh belahan dunia.

Padahal, umat Islam di seluruh dunia merindukan kehidupan umat beragama yang damai dan penuh toleransi, seperti di NTB.

Hal yang dibutuhkan umat Islam saat ini, ucapnya, bukanlah wacana atau apa yang tertulis di buku-buku atau kertas-kertas, namun pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengapresiasi kiprah Al Azhar Mesir dalam moderasi Islam ketika menutup Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional IV Alumni Al Azhar Mesir.

Oleh karena itu menurut Kepala Negara, kedatangannya ke NTB tidak sekadar untuk menutup Konferensi dan Multaqa Alumni Al Azhar Mesir.

Akan tetapi, lebih dari itu karena dirinya merasa bahwa Al Azhar adalah sebuah institusi besar dengan pemikiran-pemikiran yang besar.

"Saya hadir di sini, karena saya tahu Al Azhar adalah sebuah institusi besar dengan pemikiran-pemikiran yang besar. Itulah kenapa saya hadir di sini," kata Presiden Jokowi

Presiden lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Grand Syekh Al Azhar Prof Dr Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb pada 2016.

Saat itu, Grand Syekh Mesir menyampaikan tentang pentingnya moderasi Islam dan pengamalan toleransi dalam Islam.

Presiden Jokowi mengaku makin memahami pemikiran-pemikiran besar Al Azhar tentang moderasi Islam setelah berjumpa dengannya.

Untuk itu, Jokowi menyatakan sangat mendukung tema konferensi yang berkaitan dengan moderasi Islam dan mengenai toleransi Islam.

Sementara itu, Ketua Alumni Al Azhar Indonesia, Quraish Shihab, mengatakan Al Azhar adalah sebuah institusi yang mengedepankan moderasi Islam.

Hal itu, sebagaimana tertuang dalam Deklarasi Al Azhar yang dikeluarkan pada Maret 2017.

Deklarasi Al Azhar itu menegaskan bahwa kewarganegaraan tanpa membedakan suku, ras, agama, dan keyakinan adalah salah satu prinsip ajaran Islam dan bukan hasil dari impor.

Ia menyatakan juga bahwa non-Muslim mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan kaum Muslimin dalam kedudukannya sebagai warga negara.

Menurut Quraish Shihab, Al-Azhar adalah suatu institusi ilmiah, dakwah, yang selalu mengedepankan prinsip wasatiyah dan moderasi, tidak hanya dalam pemikiran-pemikirannya, akan tetapi dalam praktik amalnya.

Menteri Agama pada era Pemerintahan Presiden Soeharto (1998) itu menilai Islam di Nusa Tenggara Barat bisa menjadi contoh yang baik tentang Islam moderat.

Ia sependapat dengan apa yang dikemukakan Wakil Ketua Alumni Al-Azhar Internasional tentang Islam di NTB yang dinilai baik.

Untuk itu, ia berharap persatuan dan kesatuan umat harus terus terjaga, termasuk saling hormat menghormati semua pendapat selama pendapat itu bercirikan kedamaian.

"Kita harap ini perlu di contoh di dunia untuk menampik segala tuduhan yang tidak benar terhadap Islam," tegasnya. (*)
Pewarta :
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar