Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencanangkan Program Trans Bening (transportasi anak sekolah menggunakan bemo kuning) gratis untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan meningkatkan keselamatan pelajar di jalan.

Kegiatan pencanangan tersebut ditandai dengan penempelan stiker Trans Bening ke salah satu bemo kuning oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram H Lalu Alwan Basri, didampingi Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram Zulkarwain di depan Pendopo Wali Kota Mataram, di Mataram, Jumat.

Sekda mengatakan, Program Trans Bening merupakan inovasi dari Dinas Perhubungan Kota Mataram sudah diuji coba sejak Oktober 2024, dan mendapatkan respons positif dari kalangan pelajar dan masyarakat pada umumnya.

Baca juga: Siswa di Mataram segera nikmati transportasi gratis

Apalagi program tersebut, selain mengurangi penggunaan kendaraan pribadi juga dapat mengurangi beban orang tua, menciptakan lingkungan sekolah yang tertib, serta meningkatkan kesadaran penggunaan transportasi umum. 

Karena itu, lanjut Sekda, program yang sudah berjalan di SMP Negeri 7 Mataram akan dikembangkan lagi ke sekolah lain, dengan menambah armada dan jalur lain agar siswa di sekolah lain juga bisa mendapat manfaat program tersebut. 

"Untuk anggaran kami sudah siap. Selama itu untuk kepentingan dan pelayanan masyarakat kami siap mendukung," katanya.

Sementara Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram Zulkarwin mengatakan, Program Trans Bening juga bertujuan untuk mengenalkan angkutan publik yang lama vakum.

"Selain itu, sebagai upaya pemberdayaan bagi sopir bemo kuning untuk penjemputan anak sekolah," katanya.

Baca juga: Transportasi publik tenaga listrik siap dikembangkan di Mataram

Dalam pelaksanaan Program Trans Bening, lanjutnya, pihaknya bekerja sama dengan 10 sopir angkutan kota berupa bemo kuning yang sudah dinyatakan lolos uji KIR guna memastikan kendaraan tersebut memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan di jalan raya.

Selain itu, untuk menjaga keselamatan pelajar dan pengguna jalan, memastikan kepatuhan terhadap standar lingkungan, dan mencegah kendala operasional.

"Dari sekitar 98 bemo kuning yang tercatat di data kami, baru 10 bemo kuning dinyatakan layak jalan," katanya.

Dikatakan, selama uji coba Program Trans Bening dinilai efektif dan capaian penumpang mencapai di atas 90 persen bahkan tidak jarang melampaui 100 persen atau kelebihan penumpang.

"Itu sebagai bagian sinyal program tersebut butuh pengembangan dan tambahan armada. Kalau ada tambahan armada, kami harus pastikan armada tersebut lulus uji KIR," katanya.

Sebanyak 10 armada yang disiapkan di program tersebut, bertugas menjemput siswa sesuai dengan jalur masing-masing.

Sementara kerja sama dengan para sopir bemo kuning itu dilakukan dengan memberikan insentif sebesar Rp1,5 juta per bulan.

"Insentif tersebut sebagai tambahan untuk para sopir, sebab di luar jam jemput anak sekolah mereka bisa bebas cari penumpang," katanya.

Baca juga: Pemkot Mataram menyiapkan konsep Cidomo jadi transportasi unik wisatawan



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026