Tingkatkan infrastruktur charging kendaraan listrik di NTB, PLN - PT Santomo teken kerjasama strategis

id PLN,Energi terbarukan,Energi baru terbarukan,PLN NTB

Tingkatkan infrastruktur charging kendaraan listrik di NTB, PLN - PT Santomo teken kerjasama strategis

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menyampaikan sambutannya pada salah satu sesi COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab. (ANTARA/Ho-ist)

Mataram (ANTARA) - PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (UIW NTB) menegaskan komitmennya dalam mendukung perkembangan kendaraan listrik di NTB.

Hal ini terlihat dari upaya PLN menyediakan infrastruktur alat charging terbaru dan ditandai dengan penandatanganan Kerjasama (MoU) dengan PT Santomo Green Power Management di Kota Mataram, pada Selasa (15/12).

Presiden Direktur PT Santomo Green Power Management, Mr. Shuntaro Yamaguchi menjelaskan bahwa pihaknya ingin  berkontribusi untuk ikut serta dalam mencapai target besar yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia yaitu Net Zero Emission pada tahun 2060, khususnya di provinsi NTB.

"Kami menyadari faktor penting dari segmen transportasi, dimana kita ketahui sepeda motor adalah kendaraan yang paling banyak di Indonesia. Itulah mengapa kami ingin terlibat dalam bisnis ini, terutama dalam pasar sepeda motor listrik dengan infrastruktur pendukungnya, karena produk kami adalah produk elektronik," kata Shuntoro.

Ia pun gembira menyambut kolaborasi dengan PLN UP3 Mataram, dan melihat lebih jauh ke depan untuk tetap menjaga lingkungan di Lombok dan menyatakan potensi pembuatan pilot project seperti wisata ramah lingkungan di Lombok.

Shuntoro mengaku optimis dengan perkembangan electrifying lifestyle yang ada di NTB. Di mataram sendiri sangat banyak energi baru terbarukan, tidak hanya di kota Mataram, namun di lokasi lain yang ada di NTB, sejalan dengan transformasi energi yang semakin meningkat.

"Sebagai langkah pertama kami adalah menjalin sinergi dengan PLN UP3 Mataram. Untuk selanjutnya, kami sangat terbuka untuk berdiskusi dalam hal apa saja, menambah jumlah kendaraan, menambah infrastrukur, dan banyak hal lainnya, sekali lagi, kami sangat terbuka untuk berkolaborasi," ujarnya.

Pada acara ini ikut juga bergabung ROMLI (Rombongan Motor Listrik) Cabang Mataram. Rezha, salah perwakilan dari ROMLI menyambut baik kerjasama antara PLN UP3 Mataram dan PT Santomo Green Power Management.

"Kami sangat menyambut baik kerjasama ini. dan semoga pengguna motor Listrik semakin bertambah dan ini sangat mendukung pengurangan emisi akibat proses pembakaran bahan bakar minyak," ujar Rezha.

Sementara itu, General Manager PLN UIW NTB, Sudjarwo menjelaskan pihaknya melalui PLN UP3 Mataram melakukan kerjasama dengan PT Santomo untuk menyediakan alat charging terbaru bagi warga di pulau Lombok khususnya pengguna baterai SWAP yang sangat membantu dalam perkembangan ekosistem kendaraan listrik.

"Kami melihat perkembangan ekosistem kendaraan listrik di NTB cukup masif dan kerjasama ini kami harapkan dapat berjalan dengan baik," katanya.

Kerjasama ini direncanakan berlaku selama 1 tahun pertama dengan opsi perpanjangan. Pengguna kendaraan listrik di pulau Lombok saat ini tercatat mencapai 1.000 unit, dimana jumlah mobil listrik sebanyak 18 unit, motor listrik sebanyak 175 unit dan sepeda listrik ada lebih dari 500 unit.

Sementara, SPKLU yang ada saat ini sejumlah 8 titik SPKLU dan 3 titik CAK KOLIS untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik di Pulau Lombok.

"Titik charging baterai SWAP saat ini disiapkan di kantor UP3 Mataram dengan opsi ke depannya akan disiapkan juga di daerah Praya, Selong, dan Cakranegara dengan alternatif kerjasama dengan salah satu toko ritel modern sebagai tempat penyediaan baterai SWAP ke depannya. Semoga upaya ini mampu mengakselerasi pengguna kendaraan listrik di NTB," ucap Sudjarwo.
Manager PLN UP3 Mataram, Mahadhir menandatangani kerjasama dengan PT Santomo Green Power Management pada Selasa (15/12). MoU ini penting untuk mendorong akselerasi pengguna kendaraan listrik di NTB.
siap mas
PLN berhasil jaring 14 kerja sama global dalam COP28

Selama gelaran Conference of the Parties (COP) 28 di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) pada 30 November-12 Desember 2023, PT PLN (Persero) berhasil menjaring 14 kerja sama dalam agenda transisi energi.

Hal itu selaras dengan komitmen mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.

Sebanyak 14 kerja sama yang berhasil dilakukan mencakup pengembangan ekosistem akselerasi energi baru terbarukan (EBT) di tanah air, program capacity building, utilisasi limbah FABA, finansial, hingga pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Kerja sama tersebut tak hanya dilakukan dengan entitas nasional tapi juga multinasional.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, perubahan iklim adalah persoalan global, karena 1 ton emisi CO2 di Dubai akan menimbulkan dampak kerusakan yang sama dengan 1 ton emisi CO2 di Jakarta. Maka, satu-satunya cara untuk menghadapi tantangan perubahan iklim adalah lewat kolaborasi.

"Sebagai lokomotif transisi energi di tanah air, PLN menyadari upaya mitigasi perubahan iklim tidak akan mampu dijalankan PLN sendiri. Komunitas global perlu bersatu, karena ini adalah masalah bersama, untuk itu dengan adanya acara COP28 ini, memberi kami rasa bangga dan keyakinan, komunitas global yang tadinya terpecah-pecah kini bersatu untuk mengatasi perubahan iklim dunia," katanya.

Darmawan optimis, lewat jalinan kerja sama yang telah diperoleh pada gelaran COP28, akan memuluskan langkah PLN dalam mencapai NZE lebih dini dari target yang ditentukan.

Adapun ke-14 kerja sama yang dilakukan PLN dalam agenda COP28 adalah sebagai berikut.

Pertama, PT PLN (Persero) menyepakati kerja sama dengan The US National Renewable Energy Laboratory (NREL) terkait studi pengembangan control center PLN.

Kedua belah pihak juga akan mengkaji integrasi sistem jaringan Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Tiga wilayah tersebut memiliki potensi EBT yang besar sehingga diperlukan sistem jaringan integrasi agar seluruh pasokan listrik bisa dialirkan kepada seluruh masyarakat.

Kedua, PT PLN (Persero) menyepakati kerja sama dengan Global Energy Alliance for People and Planet (GEAPP) dalam pengembangan proyek potensial dalam penurunan emisi karbon secara signifikan dalam sektor ketenagalistrikan.

PLN bersama GEAPP akan mengakselerasi pencapaian transisi energi yang berkeadilan dan target net zero, infrastruktur kendaraan listrik dan juga pengembangan EBT di Indonesia.

Ketiga, PT PLN (Persero) menyepakati kerja sama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) dan KfW untuk memanfaatkan Project Development Facility (PDF) yang dikelola oleh PT SMI untuk proyek-proyek Pumped Storage Hydroelectric Power Plant dalam rangka percepatan transisi energi di Indonesia.

Nantinya KfW bersama PT SMI akan memberikan dukungan dalam bentuk Feasibility Study dan Environmental & Social Scoping pada tahapan persiapan proyek PLTA Grindulu Pumped Storage 4×250 MW dan PLTA Sumatera Pumped Storage 2×250 MW.

Keempat, PT PLN (Persero) bersama Cirebon Electric Power (CEP), Asian Development Bank (ADB), dan Indonesia Investment Authority (INA) bersinergi dalam percepatan pemensiunan operasional PLTU Cirebon pada Desember 2035, lebih awal daripada Juli 2042. Upaya ini mampu menghindarkan emisi hingga 30 juta ton CO2.

Kelima, PT PLN (Persero) bersama Masdar perusahaan energi asal Uni Emirat Arab (UEA) sepakat untuk memperkuat kerja sama dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.

Setelah sukses membangun PLTS Terapung Cirata, keduanya sepakat untuk melakukan kajian menambah kapasitas PLTS Terapung Cirata dan pengembangan bisnis energi untuk pasar internasional.

Keenam, PT PLN (Persero) bersama Pupuk Indonesia melakukan studi pengembangan ekosistem green hydrogen dan green ammonia untuk membangun Green Hydrogen Plant (GHP) yang akan disuplai dari PLTS dan listrik dari grid PLN yang didukung layanan Renewable Energy Certificate (REC).

Green hydrogen yang dihasilkan direncanakan akan dikonversi di Ammonia Plant Pupuk Kujang menjadi green ammonia.

Ketujuh, PT PLN (Persero) bersama Pupuk Indonesia menggandeng ACWA Power, perusahaan asal Arab Saudi untuk berkolaborasi dalam pengembangan industri hidrogen hijau dan amonia hijau terintegrasi di Gresik.

Dalam kolaborasi ini, Green Hydrogen Plant (GHP) akan mendapatkan pasokan listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Green Hydrogen kemudian dikonversi menjadi Green Ammonia di Ammonia Plant di Petrokimia Gresik. Green Ammonia dapat digunakan untuk menjadi bahan baku pupuk dan pemanfaatan lainnya.

Kedelapan, PT PLN (Persero) menyepakati kerja sama dengan ACWA Power dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di wilayah Jawa Barat dan Sumatera Barat.

Memanfaatkan Danau Singkarak, Sumatera Barat dan Waduk Saguling Jawa Barat, PLN akan mereplikasi kesuksesan PLTS Terapung Cirata. Hal ini dilandasi oleh potensi surya di Indonesia yang besar dan luasan permukaan danau di Indonesia yang bisa digunakan untuk mengakselerasi EBT.

Kesembilan, PT PLN (Persero) menyepakati kerja sama dengan Elsewedy Electric, perusahaan listrik asal Mesir, untuk mengembangkan teknologi smart grid yang bisa mengintegrasikan sistem kelistrikan, menghubungkan sumber-sumber energi baru terbarukan (EBT) ke pusat beban listrik dan menjadi solusi intermitensi pada pembangkit listrik EBT, seperti angin dan surya.

Selain itu, di sisi hilir, kolaborasi ini mengakselerasi penerapan teknologi smart meter untuk meningkatkan customer experience.

Kesepuluh, PT PLN (Persero) menyepakati kerja sama dengan perusahaan asal Prancis, Hydrogen De France (HDF Energy) dalam pengembangan Hydrogen Fuel Cell Hybrid Power Plant di Indonesia.

Setelah berhasil memproduksi hidrogen hijau di Indonesia, PLN akan mengembangkan pembangkit listrik berbasis hidrogen dengan asistensi dari HDF Energy.

Lewat kerja sama ini, PLN akan mengembangkan utilisasi hidrogen melalui proses elektrolisa dan mengolahnya menjadi listrik untuk melayani daerah pelosok.

Tak hanya itu, kedua belah pihak juga bersepakat untuk bersama-sama dalam studi pengembangan pembangkit listrik baseload dan non-intermittent berbasis EBT, baterai, dan hidrogen.

Termasuk potensi pembentukan Join Venture Company dalam pengembangan proyek EBT di daerah 3T (Terluar, Terdepan, Terpencil) khususnya di wilayah Indonesia Timur, dengan penekanan awal di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Kesebelas, PT PLN (Persero) juga menyepakati kerja sama dengan Abu Dhabi National Energy Company, PJSC (TAQA), untuk mengembangkan transmission grid interconnection dan smart grid di Indonesia.

Kolaborasi antara PLN dan TAQA merupakan upaya mempercepat transisi energi melalui pengembangan peningkatan jaringan transmisi dan interkoneksi, dan mengembangkan dan menerapkan teknologi smart grid untuk memungkinkan pengelolaan dan distribusi sumber energi terbarukan yang efektif dan stabil.

Kedua belas, PT PLN (Persero) melalui sub holding PLN Nusantara Power (PLN NP) menyepakati kerja sama dengan perusahaan asal Singapura, Sembcorp Utilities Pte Ltd dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 50 Megawatt (MW) di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Ketiga belas, PT PLN (Persero) melalui Sub Holding PLN Nusantara Power (PLN NP) menyepakati kerja sama dengan PT Bukit Asam Tbk dalam utilisasi Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) milik PLTA Bukit Asam sebagai bahan penetralisir air asam bekas tambang di wilayah konsesi pertambangan batu bara PT Bukit Asam.

Keempat belas,  PT PLN (Persero) melalui Sub Holding PLN Nusantara Power (PLN NP) menyepakati kerja sama dengan Korean Hydro & Nuclear Power (KHNP) Co. Ltd dalam menjajaki pra kajian kelayakan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia dengan teknologi small modular reactor.

Darmawan memaparkan, emisi yang dihasilkan dari sektor ketenagalistrikan Indonesia saat ini sekitar 260 juta metrik ton. Jika dibiarkan, maka jumlah tersebut akan meningkat menjadi 1 miliar metrik ton pada tahun 2060.

Untuk itu, PLN mengambil langkah agresif dengan mendesain ulang Rancana Usaha Pengadaan Tenaga Listrik (RUPTL) nasional dan menghapus rencana penambahan 13 Gigawatt (GW) pembangkit berbasis batubara. Langkah ini mampu menghindarkan emisi hingga 1,8 miliar metrik ton CO2.

"Seperti kita ketahui bersama, saat ini kami bersama dengan Pemerintah Indonesia telah menyelaraskan Rencana Usaha Penambahan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN dengan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) paling hijau sepanjang sejarah di Indonesia. Kami bersyukur rencana heroik ini mendapatkan dukungan penuh dari komunitas global, sehingga dengan kolaborasi ini kami yakin akselerasi transisi energi Indonesia akan berjalan dengan signifikan," ujar Darmawan.

PLN juga mengembangkan Accelerated Renewable Energy Development (ARED) untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Skema ARED secara agresif akan menambah kapasitas pembangkit PLN 75 persen dari energi terbarukan dan 25 persen dari gas.

"Dengan langkah yang apik serta dukungan penuh dari dunia internasional, PLN Optimis mampu mewujudkan trilema transisi energi, di mana energi yang kita hasilkan memiliki harga yang terjangkau oleh masyarakat (affordability), keamanan pasokan listrik (security), dan keberlanjutan (sustainability)," kata Darmawan.

Ia juga menekankan, transisi energi juga penting untuk mempercepat pertumbuhan, membangun kapasitas nasional dengan menciptakan lapangan kerja. Di saat bersamaan, hal ini juga akan memberikan kesejahteraan pada masyarakat dan mengentaskan kemiskinan, serta mampu menjaga lingkungan.

Baca juga: Dirut PLN Darmawan Prasodjo kembali dinobatkan jadi CEO Of The Year
Baca juga: Gelar apel siaga Nataru 2023, PLN NTB siap pasok listrik andal


"Transisi energi ini sangat penting kita lakukan dalam menyediakan energi berkelanjutan bagi masyarakat kita. Di sini saya ingin menyampaikan bahwa kami berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca untuk memperlambat pemanasan, jika memungkinkan, untuk mendinginkan bumi," ujar Darmawan.