Mataram (ANTARA) - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatatkan kinerja impresif dalam sektor perbankan dengan pertumbuhan kredit tertinggi di kawasan Bali dan Nusa Tenggara (Bali Nusra) pada triwulan I-2025.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan kredit di NTB mencapai 8,15 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Capaian tersebut menunjukkan geliat ekonomi NTB yang terus membaik, didorong oleh ekspansi kredit yang agresif dari sektor perbankan. Total kredit yang disalurkan di NTB per Maret 2025 tercatat sebesar Rp74,33 triliun.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) seperti tabungan, deposito, dan giro mencapai Rp47,97 triliun, meskipun mengalami penurunan pertumbuhan sebesar 1,93 persen (yoy).
Direktur Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi Perlindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Bali, Irhamsah, menyampaikan bahwa sektor perbankan di Bali Nusra terus menunjukkan daya tahan dan peran penting dalam mendukung perekonomian wilayah.
"Sektor perbankan masih mencatatkan kinerja positif. Pertumbuhan kredit yang tinggi di NTB menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha di wilayah tersebut terus bergerak dinamis," kata Irhamsah.
Baca juga: Penyaluran kredit program pemerintah di NTB capai Rp3,41 triliun
Untuk wilayah Bali, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 7,25 persen (yoy) dengan total kredit yang disalurkan sebesar Rp113,82 triliun. DPK di Bali mencapai Rp192,72 triliun, tumbuh signifikan sebesar 10,47 persen (yoy).
Adapun NTT mencatatkan pertumbuhan kredit yang lebih rendah, yakni 1,80 persen (yoy), dengan total kredit Rp48,12 triliun dan DPK Rp36,32 triliun yang hanya tumbuh 0,27 persen (yoy).
Dari sisi kualitas aset, perbankan di wilayah Bali Nusra secara umum masih berada dalam kondisi sehat. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) secara keseluruhan tercatat di angka 3,47 persen per Maret 2025. Rinciannya, NPL Bali sebesar 2,62 persen, NTB 1,58 persen, dan NTT 1,37 persen.
"Angka NPL yang tetap rendah ini mencerminkan kualitas penyaluran kredit yang cukup baik. Artinya, meskipun terjadi ekspansi kredit, risiko kredit macet masih dalam batas wajar dan terkendali," ujar Irhamsah.
Dari sisi distribusi kredit, mayoritas penyaluran di kawasan Bali Nusra dialokasikan untuk modal kerja, yaitu mencapai 57,20 persen, dan sisanya 42,80 persen untuk investasi. Ini mengindikasikan bahwa perbankan aktif mendukung kelangsungan usaha dan ekspansi bisnis di berbagai sektor.
Baca juga: Kejati NTB tingkatkan penanganan kasus korupsi aset LCC ke tahap penyidikan
Di NTB, sektor konsumtif masih mendominasi dengan porsi kredit mencapai 43,87 persen, diikuti oleh sektor perdagangan dan penyediaan pangan sebesar 20,64 persen, serta sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan sebesar 17,81 persen. Sektor-sektor ini menunjukkan peran pentingnya konsumsi rumah tangga dan sektor primer dalam menopang ekonomi daerah.
Sementara di Bali, distribusi kredit lebih tersebar. Sekitar 33,88 persen kredit disalurkan ke sektor konsumtif, 28,42% untuk perdagangan besar dan eceran, dan 11,83 persen untuk sektor penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman yang menunjukkan dominasi sektor pariwisata dalam struktur ekonomi Bali.
Adapun di NTT, sektor konsumtif mendominasi lebih besar lagi, yaitu 58,76 persen, diikuti oleh perdagangan besar dan eceran 24,17 persen, serta pertanian, perburuan dan kehutanan 4,75 persen.
Baca juga: Bank Mandiri catat pertumbuhan kredit UMKM di NTB 25,55 persen
Melihat tren ini, OJK optimistis pertumbuhan kredit di Nusa Tenggara Barat, akan terus berkontribusi positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Irhamsah menekankan pentingnya kolaborasi antara perbankan, pelaku usaha, dan regulator agar momentum pertumbuhan ini bisa dijaga.
"Kami harap kinerja ini bisa terus ditingkatkan, terutama dengan mendorong kredit produktif di sektor-sektor strategis agar pertumbuhan ekonomi di NTB dan wilayah Bali Nusra bisa lebih merata dan berkelanjutan," ucapnya.
OJK menilai bahwa dengan tren positif yang ditunjukkan NTB, kawasan Bali Nusra memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur, khususnya melalui penguatan sektor keuangan dan inklusi ekonomi yang lebih merata.
Baca juga: Kredit program pemerintah di NTB sentuh 26.326 debitur