Tim gabungan menggelar operasi penertiban di Gunung Rinjani

id Tim gabungan,Gunung Rinjani,Lombok,Tim gabungan menggelar operasi penertiban di Gunung Rinjani

Tim gabungan menggelar operasi penertiban di Gunung Rinjani

Foto satelit kawasan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani seluas 111 hektare di Pesugulan (panah merah) yang diduduki warga Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, NTB. ANTARA/Awaludin

Mataram (ANTARA) - Tim gabungan dari unsur Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), TNI-Polri, dan Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar operasi simpatik revitalisasi fungsi hutan Pesugulan, Gunung Rinjani.

Kepala BTNGR Sudiyono dihubungi dari Mataram, Senin menjelaskan tujuan operasi tersebut untuk mengembalikan fungsi kawasan hutan ke fungsi semula dan sebagai upaya perlindugan terhadap tata air, iklim dan satwa.

"Ada 111 hektare lahan di dalam kawasan hutan Pesugulan Desa Bebidas yang diduduki oknum masyarakat sejak 2015. Hutan yang diduduki tersebut masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani," katanya.

Ia memperkirakan jumlah penggarap yang melakukan penggunaan kawasan tanpa izin (PKTI) sebanyak 100 orang atau sekitar 1,5 persen dari jumlah penduduk Desa Bebidas. Penggarap berasal dari Dusun Burne, Jurang Koak, dan Erot.


Luasan areal terbuka di PKTI Pesugulan telah bertambah menjadi 111 hektare dari sebelumnya 105 hektare dan masih ditemukan sebanyak 130 gubuk semi permanen milik penggarap.

Kondisi tersebut, lanjut Sudiyono, telah menimbulkan pro kontra di antara masyarakat yang dipicu adanya oknum warga setempat dan pihak luar yang salah satunya diduga dari lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang agraria.

"Adanya pendudukan hutan kawasan taman nasional tersebut juga menjadi perhatian 42 desa di sekitar kawasan TNGR.Mereka menghendaki supaya ada penertibatan. Kalau tidak dilakukan mereka akan ikut masuk ke dalam kawasan," ucap Sudiyono.


Ia mengatakan operasi simpatik revitalisasi fungsi hutan Pesugulan, Gunung Rinjani, digelar mulai 16 hingga 18 September 2019. Setelah itu, akan dilakukan penjagaan kawasan hingga akhir Desember 2019.

Selain menertibkan gubuk liar, kata Sudiyono, pihaknya juga juga melakukan sosialisasi tentang pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan. Sosialisasi juga dilakukan bersamaan dengan penanaman bibit pohon dan pembagian bibit buah-buahan kepada warga desa.

BTNGR juga akan bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Dodokan Moyosari, NTB, untuk melakukan penanaman pohon di dalam kawasan taman nasional pada 2020. Lokasi penanaman difokuskan pada kawasan yang sebelumnya diduduki oknum warga untuk kegiatan menanam sayuran dan tanaman semusim.

"Sampai dengan siang ini. Operasi berjalan lancar. Dan tim masih bergerak ke dalam kawasan. Tidak ada aktivitas masyarakat, tanaman sebagian besar sudah panen sehingga lahan sudah kosong di musim kemarau ini," katanya.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar