Ir Syarif MM, eks Direktur Operasi I PT Brantas Abipraya: Saya percaya pada keberuntungan

id Brantas

Ir Syarif MM, eks Direktur Operasi I PT Brantas Abipraya: Saya percaya pada keberuntungan

Ir. Syarif, MM (Dok. pribadi)

Mataram (ANTARA) - “Saya terkesan dengan kepribadian Umar bin Khattab yang menolak diberi jabatan. Tetapi ketika amanah tetap harus diterimanya, maka amanah itu tidak disia-siakan, namun dijalankan dengan sebaik-baiknya”.  

Demikian kutipan yang disampaikan Ir. Syarif, MM, mantan Direktur Operasi I PT Brantas Abipraya (Persero), salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor jasa konstruksi, dalam perbincangan di Jakarta belum lama berselang.     
        
Pria kelahiran Trenggalek Jawa Timur itu menunjuk pada kepemimpinan Umar bin Khattab, khalifah kedua kaum Muslimin yang melanjutkan estafet kepemimpinan Abu Bakar As Shidiq semenjak wafatnya Rasulullah Muhammad SAW.
       
Umar bin Khattab tidak pernah mencari-cari jabatan, selain juga tetap sederhana serta tetap berani dan tegas dalam mengambil keputusan untuk menghadirkan keadilan bagi orang banyak.
       
Menurut Syarif, dari kisah perjalanan kepemimpinan Umar bin Khattab juga dapat dilihat bahwa seorang pemimpin itu harus menjadi “role model” (teladan) bagi yang dipimpinnya.
        
Role model adalah seseorang yang pantas untuk dijadikan teladan karena banyaknya prestasi yang ia raih dan perilakunya mencerminkan sikap positif untuk orang banyak.
       
Oleh karena itu Syarif mengaku selalu berusaha meniru kepemimpinan Umar bin Khattab yang tidak pernah mencari-cari jabatan, apalagi dengan tujuan untuk kepentingan atau keuntungan pribadi.  
       
“Alhamdulillah saya tidak pernah mencari-cari jabatan. Saya juga memegang prinsip ‘jangan menghargai diri sendiri terlalu tinggi’, tetapi berusaha optimal menjalankan amanah yang dipercayakan pimpinan,” katanya.
       
Menurut Syarif, karena mendapatkan kepercayaan dari pimpinan, meski selalu menolak jabatan, ternyata ia malahan tetap diminta menduduki beberapa jabatan strategis di lingkungan PT Brantas Abipraya hingga menjadi Direktur Operasi I di BUMN tersebut. 
        
Pria yang beristrikan Cicik Dwi Noveni Rosasi SE dengan dua anak (Raisa Anastasya Umama SE dan Ivand Azriel Hekmatiar) itu menjelaskan beberapa jabatan yang pernah diembannya di PT Brantas Abipraya sejak 1990.
       
Jabatan pertamanya adalah Staf Divisi I Kantor Pusat Malang. Kemudian secara berturut-turut antara lain Kepala Proyek Tambak Maranak Maros Sulawesi Selatan, Kepala Proyek Pembuatan Sistem Penyediaan Air Bersih Sederhana (Sipas) Kendari, dan Kepala Bagian Operasi Cabang IV Makassar.
Ir. Syarif, MM saat berwisata bersama keluarga di Golden Gate Bridge, San Francisco California Amerika Serikat, Desember 2018 (Dok. pribadi)

       
Sedangkan di Kantor Pusat, Syarif antara lain pernah mendapatkan amanah sebagai Kepala Bagian Teknik Biro Pengendalian Operasi dan Kepala Bagian Pengendalian Proyek pada Biro Perencanaan dan Pengendalian Proyek. 
       
Jabatan lain yaitu Kepala Bagian Pengendalian Produksi Biro Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Kepala Divisi Produksi II, Kepala Divisi, Senior Manager Divisi 2, Senior Manager Produksi, dan terakhir Direktur Operasi I (sejak Juli 2015 hingga Juli 2020).  
       
“Meski selalu menolak, pimpinan yang mengetahui kinerja saya selalu meminta saya untuk menerima jabatan-jabatan tersebut, dan pada akhirnya saya menerima serta tidak menyia-nyiakan amanah tersebut,” kata Syarif. 
       
Setelah selesai mengabdi bagi negara melalui BUMN PT Brantas Abipraya, ia sementara ini diberikan amanah untuk membantu PT Brantas Energi, anak perusahaan PT Brantas Abipraya.
       
PT Brantas Energi terlibat dalam investasi energi terbarukan, khususnya Hydro Power. Perusahaan itu berdiri dengan didukung oleh daya, potensi, dan pengalaman dari PT Brantas Abipraya dalam industri konstruksi dan sektor listrik. 
       
Berdasarkan motto Brantas Energi, "Eco Responsible" (ramah lingkungan), anak perusahaan Brantas Abipraya itu selalu mendasari semua kegiatannya dengan berfokus pada pelestarian lingkungan.
       
Brantas Energi diharapkan dapat tumbuh dan berperan mendukung kebijakan pemerintah yang strategis, yaitu dalam penyediaan pasokan listrik terbarukan dan berkelanjutan.
       
Sementara itu, induk perusahaan, Brantas Abipraya sebagai BUMN dan agen pembangunan terus berupaya memperkenalkan kepada masyarakat sejumlah proyek strategis nasional yang ditanganinya seperti bendungan, jalan tol, perumahan, dan infrastruktur lainnya.
       
Brantas Abipraya tercatat telah menggarap sejumlah proyek infrastruktur di Tanah Air, antara lain Jembatan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah yang megah di Riau,  Underpass Cibubur Jawa Jawa Barat, normalisasi Kali Sunter di Jakarta, dan  jalan Bomberai-Hurimber di Papua.
       
Proyek lain di antaranya bendungan Bili-Bili di Kabupaten Goa Sulawesi Selatan, bendungan Marangkayu di Kalimantan Timur, Gedung Pendidikan IPB di Bogor Jawa Barat, Gedung Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta, dan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang Sumatera Selatan.
       
Syarif lebih lanjut mengemukakan, jika dirunut ke belakang, kepribadian dan karakternya banyak dibentuk oleh pengalaman masa kecilnya, terkait didikan keluarga (orangtua) dan lingkungan masyarakat di desanya.
       
Ia dilahirkan dari keluarga petani pada 15 Mei 1962 di lingkungan pesantren di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur. Orangtuanya, almarhum H. Marzuki dan almarhumah Hj. Fatimah bermata pencaharian sebagai petani.
       
Syarif adalah putera kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya, laki-laki, berprofesi sebagai guru yang menjelang pensiunnya mendapat amanah sebagai kepala sekolah, sedangkan adiknya ibu rumah tangga. 
       
“Kami hidup dengan kesederhanaan. Pada masa kecil, saya dengan saudara-saudara saya sering membantu orangtua mengantarkan hasil panen seperti kedelai, padi, atau sayur-mayur ke penjual di pasar,” kenangnya. 
       
Meski relatif sibuk, orangtuanya selalu menekankan arti pentingnya menuntut ilmu, baik ilmu umum maupun ilmu agama, terlebih mereka hidup di lingkungan pondok pesantren. 
        
Itu pula sebabnya, meski di tengah keterbatasan, Syarif bisa menamatkan pendidikan di SD Negeri Kamulan dan SMP Islam Durenan di Trenggalek serta SMA Negeri 3 Kediri, dilanjutkan studi di Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Malang di Kota Malang Jawa Timur.
       
Kemudian, saat mendapatkan tugas dari PT Brantas Abipraya di Makassar, ia memanfaatkan kesempatan dengan melanjutkan studi di Pasca Sarjana Magister Manajemen Universitas Hasanuddin. 
       
“Karena orangtua kami hanya petani sederhana, waktu belajar di SD, saya mengalami pergi ke sekolah tidak memakai sepatu, sementara waktu kuliah, saya mengerjakan skripsi dengan mesin ketik pinjaman, bahkan waktu ujian skripsi, saya memakai baju pinjaman,” tuturnya. 
       
Ia menyatakan bersyukur, masa kecil dan remaja serta masa tugasnya di Brantas Abipraya yang penuh rintangan dan tantangan dapat dilaluinya dengan baik, sementara silaturahim dengan berbagai pihak terus dibina, terutama dengan tujuan untuk berbagi kebaikan bagi sesama.
       
“Saya tidak pernah mempromosikan diri sendiri untuk meraih jabatan seperti yang dianjurkan para motivator, tetapi saya berusaha meniru apa yang dicontohkan Umar bin Khattab, dan saya pun percaya pada keberuntungan atau nasib baik, berkat do’a kedua orangtua,” katanya menambahkan.   

*Biografi singkat Ir. Syarif, MM ini ditulis oleh Wartawan Senior/Konsultan
 Komunikasi/Penasehat Forum Akademisi Indonesia (FAI) Aat Surya Safaat.
       
   
  


       


     




         
 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar