KPID-Unram mengkaji potensi pelanggaran lagu Sasambo

id KPID NTB,Universitas Mataram,Pelanggaran,Lagu Sasambo

Penandatangan MOU antara Ketua KPID NTB dan Dekan FKIP Unram, disaksikan Dinas Kominfotik NTB. (ANTARA/Nur Imansyah).

Mataram (ANTARA) - Komisi Penyiaran Informasi Daerah (KPID) bersama Universitas Mataram (Unram) mengadakan kajian potensi pelanggaran lagu-lagu berbahasa Sasak Samawa Mbojo (Sasambo) di televisi dan radio untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap konten-konten yang berbahaya bagi masyarakat di Nusa Tenggara Barat.

Ketua KPID NTB Yusron Saudi di Mataram, Selasa, mengatakan dalam amanat UU 32 tentang Sistem Stasiun Jaringan (SSJ). Di dalam salah satu ayatnya, kata Yusron mengatur negara menguasai spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk penyelenggaraan penyiaran guna sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

"Tapi pelanggaran-pelanggaran cenderung lebih banyak didapati pada lagu," ujarnya.

Menurutnya, masyarakat cenderung menikmati lagu namun tidak mempedulikan apa isi dari lagu tersebut. Karenanya, ia berharap dengan adanya kegiatan ini para produser bisa lebih berhati-hati dalam memilih bahasa yang akan dicantumkan dalam lagu.

"KPID berkepentingan atau turut serta karena lagu-lagu tersebut disiarkan dengan melalui frekuensi yang ada," ucap Yusron.

Diharapkan kegiatan-kegiatan seminar seperti ini akan banyak dilakukan dan tentu saja akan menjadi awal untuk Sasambo tercinta dan tentu saja NTB Gemilang.

"Ini sesuai tagline KPID, siaran sehat untuk NTB Gemilang," tegasnya.

Dekan FKIP Unram Prof Wahab Jufri, mengatakan peran media sangatlah penting di jaman ini, antara konten dengan bahasa pengantar informasi. Terkadang konten yang diberikan benar namun bahasa pengantar yang diberikan kurang tepat maka konten tersebut akan menjadi tidak benar/tidak baik.

"Di sinilah peran literasi diperlukan dimana kita bisa menyatukan makna antara konten, gambar dan bahasa," terangnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB I Gede Putu Aryadi menyatakan saat ini pihaknya dihadapkan perkembangan teknologi informasi yang pesat. Sehingga sajian informasi sangat mudah didapatkan. Termasuk anak-anak usia belia sekalipun sudah sangat familier dengan beragam informasi media sosial dan hiburan yang mudah diakses melalui mobile handphone dan fasilitas komunikasi lainnya.

Namun di tengah perkembangan teknologi digital yang cepat itu, menurut Aryadi media televisi dan radio masih menjadi salah satu media komunikasi dan informasi yang efektif.

"Radio dan TV banyak menyajikan hiburan dan entertaiment lainnya," ujarnya.

Menurutnya, satu hal yang patut disyukuri saat ini telah muncul kecintaan kaum milenial terhadap seni budaya daerah, termasuk lagu-lagu daerah (Sasambo). Terbukti dengan makin banyaknya lagu-lagu Sasambo yang digandrungi dan disiarkan di radio maupun TV lokal.

Di tengah semangat berkreativitas seni itu, kata Gde sapaan akrabnya, tentu terkadang muncul ekspresi atau kata-kata dan ungkapan dalam lagu dan seni tersebut yang kurang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal, budaya dan agama.

"Di sinilah peran KPID yang bertugas mengawasi kontens penyiaran untuk mengingatkan lembaga penyiaran publik agar tidak menyiarkan kontens-kontens yang mengandung muatan dan potensi merusak karakter bangsa," tegas Aryadi

Meski demikian, lanjutnya tugas ini tentu tidak mudah, karena setiap daerah memiliki nilai kearifan lokal yang relatif berbeda. Misalnya pada masyarakat Mbojo, sebagai wujud penghormatan kepada orang tua atau orang yang dituakan, seringkali mengganti namanya. Sebut saja misalnya nama Muhamad, akan lebih sopan di panggil memo. Namun sebaliknya bagi masyarakat di tempat lain, hal semacam itu malah dianggap tidak sopan.




Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar