Penjual sayur jadi korban penyiraman cairan kimia

id Teror penyiraman air keras, penyiraman cairan keras, penyiraman penjual sayur, cairan kimia, meruya utara, kembangan

Penjual sayur jadi korban penyiraman cairan kimia

Sakinah (60) bersama adik iparnya, Indy (kiri) menceritakan cairan kimia yang menyiram dirinya di kediamannya kawasan Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat, Senin (11/11/2019). (ANTARA/DEVI NINDY)

Jakarta (ANTARA) - Penjual sayur Sakinah (60) mengungkapkan ciri-ciri cairan kimia yang mengakibatkan luka bakar di sekitar wajah, leher dan tangannya.

Sakinah mengatakan cairan tersebut seperti air dingin, namun sekitar sepuluh menit kulit yang terkena siraman cairan tersebut menjadi gatal dan akhirnya perih.

"Baunya juga langu, seperti kotoran kambing," ujar lansia yang akrab disapa Enah di kediamannya kawasan Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat, Senin.

Cairan tersebut membuat kulit tubuhnya menimbulkan luka. Selain itu, bagian rambutnya juga rontok akibat tersiram cairan tersebut.

Selain itu, cairan kimia yang tersisa merontokkan cat lapis besi di gerobak sayur Sakinah.
 
Sakinah menunjukkan cat gerobak yang terkelupas akibat penyiraman cairan kimia di Jakarta, Senin (11/11/2019). (ANTARA/DEVI NINDY)

Adik ipar Sakinah, Indi mengatakan, cairan tersebut berbau sangat menyengat sehingga tidak bisa hilang hanya dengan dibasuh air saja.

"Saya sampai tutup hidung membersihkan lukanya (Sakinah), langu sekali baunya," ujar Indi.

Setelah penyiraman tersebut, Sakinah dibawa ke RSUD Kembangan guna keperluan visum. Hingga kini belum dapat diketahui jenis cairan yang melukai Sakinah.

Sakinah menjadi korban ketiga dalam peristiwa penyiraman cairan keras yang terjadi di Jakarta Barat akhir-akhir ini.

Sebelumnya, terungkap cairan kimia untuk menyiram dua siswa SMP, yakni AE dan PN di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, adalah cairan lilin dan soda api.

Orang tua PN, Hesti (35) beberapa hari lalu mengungkapkan hasil pemeriksaan dari dokter Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk.

"Ada bekas lilin, yang kalau digosokkan, lilinnya jadi masuk ke kulit, kata dokternya," ujar Hesti.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar