Sopir Ambulans Desa di Kaki Bukit Ketejer

id Ambulans Desa

Sopir Ambulans Desa di Kaki Bukit Ketejer

Abdus, sopir ambulans di Desa Suka Makmur, Gerung, Lombok Barat (Vivi)

Sejak tahun 2005, saya mulai aktif membantu orang-orang sakit dengan mengantarkan mereka berobat di rumah sakit atau puskesmas, yang jaraknya sekitar 5-10 kilometer dari kampung kami
Bertahun-tahun menjalani aktivitas sosial sebagai pengantar orang sakit di wilayah Desa Suka Makmur, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, kian merekatkan ikatan batin antara H Abdu Salamudin dengan warga sekitarnya.

"Sejak tahun 2005, saya mulai aktif membantu orang-orang sakit dengan mengantarkan mereka berobat di rumah sakit atau puskesmas, yang jaraknya sekitar 5-10 kilometer dari kampung kami," kata lelaki yang akrab dipanggil Abdus, yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun Egok, Desa Suka Makmur, Kecamatan Gerung.

Pengantaran warga yang sakit untuk berobat, mula-mula dilakukan dengan menggunakan angkutan umum yang disewa penduduk. Pada tahun 2011, akhirnya ada bantuan program PNPM Generasi Sehat Cerdas (GSC) berupa sepeda motor roda tiga, yang digunakan sebagai ambulans desa. Ambulans itu dilengkapi tempat tidur sederhana, yang digunakan bagi penderita untuk berbaring dalam perjalanan ke rumah sakit.

Keberadaan sepeda motor itu, membuat pengantaran orang sakit menjadi efektif, dikarenakan tidak perlu memesan atau menunggu waktu lama bagi warga yang membutuhkan kendaraan saat hendak berobat. Abdus kemudian menjadi sopir ambulans yang dalam 24 jam, selalu siap mengantar warga yang membutuhkan pertolongan untuk berobat.

Jika musim pancaroba tiba, Abdus sering kali bolak-balik mengantar warga ke rumah sakit, sampai-sampai nyaris tidak sempat beristirahat. Namun, semua itu dijalani Abdus dengan keikhlasan yang mendalam, terdorong keinginannya menolong sesama tanpa pamrih.

"Bahkan, kalau sedang musim pancaroba dan harus berkali-kali melakukan pengantaran, beberapa kali sepeda motor sampai mogok kehabisan bensin. Terpaksa saya harus menunggu teman yang lewat, dan kemudian mendapatkan pertolongan untuk mendapatkan bensin agar dapat melanjutkan perjalanan," ujar Abdus, yang tinggal di kaki Bukit Ketejer.

Sebenarnya, Abdus tidak jarang pula mengeluarkan uang pribadi untuk membeli bensin sebagai bahan bakar sepeda motor. Lama-kelamaan, warga menjadi terketuk perasaannya sehingga sekarang telah diberlakukan biaya penggantian bahan bakar minyak (BBM). Bagi warga yang hendak berobat ke Mataram dikenakan biaya Rp45 ribu untuk dua kali pengantaran, sedang yang ingin diantar ke rumah sakit di Gerung diharapkan membayar Rp40 ribu.

Terkait posisinya sebagai tokoh masyarakat, beberapa orang pernah mengingatkan Abdus supaya menghentikan aktivitasnya sebagai pengantar orang sakit. Kegiatan itu, bagi sebagian orang, dianggap sebagai aktivitas yang tidak pantas atau tak selevel dengan kedudukan Abdus sebagai seseorang yang ditokohkan masyarakat.

"Tapi saya tidak mengindahkan peringatan untuk berhenti menjadi pengantar orang sakit. Bagi saya, ini kegiatan mulia dan merupakan ibadah. Apalagi sekarang orang yang meminta diantarkan ke rumah sakit, bukan hanya warga Egok, tapi telah meluas hingga masyarakat Dusun Kedatuk, Ketejer, Kebon Kongok dan Mengkok," ujar ayah yang memiliki lima anak ini.


                                                   Kopiah dan Batu Bata

Kegiatan lain yang menyibukkan hari-hari Abdus adalah menjalankan usaha batu bata, untuk menopang perekonomian keluarganya. Usaha batu bata itu belum lama ditekuni Abdus, tetapi telah banyak dipesan pembeli dari Mataram dan Lombok Tengah. Dalam sebulan, Abdus bisa memproduksi 25 ribu batu bata.

Usaha batu bata, lanjutnya, prospeknya bagus dikarenakan permintaan pasar tidak pernah turun. Batu bata, yang dibuat dari bahan tanah liat yang dibakar, dikenal memiliki ketahanan yang kuat sebagai bahan untuk membuat bangunan.

Pembakaran batu bata membutuhkan waktu dua hari dua malam, dengan membutuhkan kayu keling atau `sebetan` mahoni sebagai bahan bakar. Pembelian kayu keling atau mahoni untuk bahan bakar, memerlukan biaya Rp1,5 juta - Rp2 juta.

"Harga batu bata Rp450/buah jika mengambil di tempat. Kalau ingin diantarkan sampai tujuan, maka harganya menjadi Rp500 per buah," kata Abdus.

Terdorong keinginan untuk meningkatkan keterampilan para pemuda desa serta mempersiapkan kemandirian warga, maka Abdus beberapa kali menyelenggarakan pengajaran pembuatan batu bata, yang dipadukan dengan kegiatan berantas buta aksara.

Melalui pengajaran pembuatan batu bata, diharapkan membuat warga akan menekuninya sebagai lahan usaha yang bisa menjadi pilihan mencari rejeki, dan tidak bergantung pada pihak lain dalam bidang finansial.

"Saya juga memiliki kemampuan membuat kopiah, selain membikin batu bata. Keterampilan membuat kopiah saya dapatkan ketika tinggal dan bekerja di Arab Saudi pada tahun 1995 hingga 2000, sewaktu menjadi pekerja pembuat kopiah dengan majikan dari Thailand," ujarnya.

Setelah kembali ke Tanah Air, Abdus sempat bekerja sebagai pembuat kopiah di Mataram, dan sudah terpikir untuk mendirikan usaha sejenis dengan menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan. Akan tetapi, belum sampai kerja sama itu terjalin, Abdus diminta warga untuk mencalonkan diri sebagai kepala dusun.

Besarnya harapan warga yang menginginkan ada pemimpin yang mengerti dan dekat dengan masyarakat, membuat Abdus tidak kuasa menolak keinginan itu. Abdus pun maju dan akhirnya terpilih menjadi Kadus Egok sejak tahun 2009.

"Saya tidak tahu, apakah setelah masa jabatan saya berakhir, saya akan kembali mencalonkan diri kembali sebagai kadus atau jabatan lainnya. Yang jelas, jika tidak lagi menjabat, saya akan kembali intens menekuni usaha batu bata dan kopiah, tapi tidak akan meninggalkan kegiatan mengantar orang sakit untuk berobat," ucap lelaki tamatan sekolah menengah atas ini, dengan nada teguh.

*) Penulis buku dan artikel

Pewarta :
Editor: Yanes
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar