Mataram (Antara NTB) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar kegiatan "Sastrawan bicara siswa bertanya" (SBSB) di SMA Negeri 3 Mataram, Senin, sebagai upaya memotivasi pelajar menggemari sastra Indonesia.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengundang sebanyak 1.500 siswa dan guru dari sejumlah SMA di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk mendengarkan petuah dari sejumlah sastrawan nasional.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kemendikbud Sutanto menjelaskan kegiatan SBSB bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa membaca dan mencintai sastra Indonesia.
"Sastra itu banyak mengandung nasehat tentang kebajikan, kesantunan dan ajaran positif lainnya yang bisa menjadi bekal membentuk karakter siswa," katanya.
Menurut dia, kebiasaan dan kecintaan membaca dan menulis harus tumbuh di kalangan siswa.
Membaca tidak hanya terbatas di lingkup pelajaran, tetapi meluas di lingkup materi lain yang dapat mempengaruhi peningkatan pemahaman siswa tentang ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
"Bangsa yang malas dan menulis akan menghambat kualitas bangsanya dalam menghadapi persaingan global," kata Sutanto.
Kemendikbud menggelar SBSB di delapan provinsi pada 2015, termasuk di Kota Mataram, NTB. Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Selain SBSB, Kemendikbud juga melaksanakan berbagai program yang terkait pendidikan karakter, seperti memasyarakatkan membaca dan menulis, apresiasi sastrawan, membuat berita remaja dan program membuat sekolah sehat.
"Sekolah harus dapat mengambil manfaat maksimal dari SBSB ini," harap Sutanto.
Staf Ahli Bidang Sumber Daya Manusia Pemerintah Kota Mataram H Ruslan Effendy juga mengharapkan para siswa dan guru memanfaatkan kesempatan SBSB sebagai ajang memotivasi diri untuk meningkatkan pemahaman tentang bahasa dan sastra Indonesia.
Menurut dia, pemahaman siswa tentang Bahasa Indonesia masih perlu untuk ditingkatkan lagi agar hasil ujian nasional bisa menjadi lebih baik lagi, terutama untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.
"Saya pernah dengar anak-anak dapat nilai 10 pada mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), tapi Bahasa Indonesia tidak dapat nilai 10. Saya harapkan Bahasa Indonesia tidak jadi mata pelajaran sulit," katanya. (*)