Dinkes Mataram mencatat 11 kasus gizi buruk

id Dinkes Mataram,NTB,11 Kasus Gizi Buruk

Ilustrasi gizi buruk.

Dari 11 kasus itu, sebanyak lima kasus sudah kami tangani dan kondisinya mulai membaik. Secara bertahap mereka mulai lepas dari pengawasan petugas kami
Mataram (Antara)- Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, sejak Januari hingga saat ini mencatat 11 kasus gizi buruk.

"Dari 11 kasus itu, sebanyak lima kasus sudah kami tangani dan kondisinya mulai membaik. Secara bertahap mereka mulai lepas dari pengawasan petugas kami," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Kamis.

Sementara, sisanya sebanyak enam kasus masih ditangani intensif karena masing-masing penderita gizi buruk ini memiliki penyakit bawaan, yakni penyakit jantung, gangguan ginjal, dan penyakit langit-langit sehingga perlu upaya maksimal dalam penanganannya.

"Karena itu, petugas kami secara rutin aktif memberikan perawatan, pembinaan dan bimbingan terhadap orang tuanya," katanya.

Termasuk, orang tua yang anaknya sudah pulih dari kasus gizi buruk terus dipantau agar kondisi berat badan anaknya tidak turun lagi, akibat kelalaian orang tua.

"Kasus gizi buruk dipicu banyak faktor, tetapi faktor yang mendominasi adalah faktor salah asuh karena itulah dalam hal ini peran orang tua sangat penting," katanya.

Para penderita gizi buruk ini secara berkala mendapatkan bantuan makanan dan sembako yang disebut formula 100 dan formula 75 yang berisi susu, minyak goreng, biskuit, margarin dan lainnya untuk mendukung peningkatan gizi keluarga.

"Usia penderita gizi buruk ini rata-rata di bawah lima tahun, dan saat ini mereka sedang menunggu usia cukup untuk dilakukan operasi penanganan penyakit bawaan agar bisa bebas dari status gizi buruk," katanya.

Sementara menyinggung tentang gizi kurang, Usman mengatakan berdasarkan data sementara kasus gizi kurang di Mataram tercatat sekitar 60 kasus.

"Data ini masih data awal yang belum divalidasi lagi," katanya.

Untuk penanganan balita gizi kurang, Dinkes Mataram menerapkan budaya "bekerayanan" atau makan bersama. "Penerapan `bekerayanan` ini cukup efektif meningkatkan nafsu makan anak yang secara otomatis meningkatkan gizi balita," katanya.

Ia mengatakan, pola mengatasi anak dengan gizi kurang atau balita dengan status gizi di bawah garis merah (BGM), dengan "bekerayanan" yang merupakan salah satu tradisi di Pulau Lombok, telah dicoba di tiga puskesmas.

Tiga puskesmas itu adalah Puskesmas Karang Pule, Pejeruk dan Puskesmas Mataram, yang sudah berjalan dan hasil evaluasi cukup bagus.

Bahkan untuk di Puskesmas Karang Pule mereka memiliki program tambahan sendiri, yakni "beriok tinjal meriri gizi" yang artinya bersama saling dukung memperbaiki gizi.

Menurut Usman, dalam pelaksanaan kegiatan "bekerayanan" ini, anak-anak BGM, hasil identifikasi di posyandu dikumpulkan pada hari tertentu untuk makan bersama (bekerayanan).

"Untuk makanan tidak kami siapkan, tapi mereka membawa sendiri-sendiri dari rumah dan hanya datang untuk makan bersama, bahkan anak-anak bisa sambil bermain," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Nur Imansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar