Festival Lakey: Dari pasang ombak ke gelombang optimisme Dompu

id Festival Lakey,Dari pasang ombak ke gelombang ,Dompu Oleh Johan Rosihan *)

Festival Lakey: Dari pasang ombak ke gelombang optimisme Dompu

Festival Lakey 2025 (ANTARA/HO-Dinas Pariwisata Dompu)

Dompu (ANTARA) - Ketika Ombak Bercerita

Di ujung timur Pulau Sumbawa, Pantai Lakey berdiri megah. Bukan sekadar hamparan pasir dan air laut, melainkan ruang spiritual dan ekonomi yang hidup bagi masyarakat Dompu. Di sinilah ombak berbicara dalam bahasa alam yang menggugah. Ia tidak hanya menggulung, tetapi juga mengundang. Mengajak siapa pun yang melihatnya untuk datang, tinggal, dan merasakan denyut kehidupan pesisir.

Festival Lakey 2025 hadir sebagai wujud dari semangat besar itu. Di tengah tantangan zaman yang serba cepat dan kompetitif, Dompu dengan bangga menghadirkan sebuah perayaan budaya dan wisata yang menyatu dengan kearifan lokal. Festival ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi momentum penting dalam membangun citra dan identitas daerah di hadapan publik nasional bahkan global.

Ombak Lakey menjadi metafora yang hidup. Setiap gelombangnya adalah simbol kekuatan, ketekunan, dan kesinambungan. Masyarakat Dompu telah membuktikan bahwa mereka bukan hanya pewaris tanah yang subur dan laut yang kaya, tetapi juga penjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.

Melalui festival ini, Dompu tidak hanya ingin dilihat, tetapi juga ingin didengar dan dikenang. Ia tidak meminta dikasihani, tetapi mengundang untuk dihargai. Semangat ini tertanam dalam setiap detik gelaran Festival Lakey yang kian matang dan profesional.

Ketika festival ini digelar, yang hadir bukan hanya peselancar dan wisatawan, tetapi juga harapan dan keyakinan bahwa Dompu mampu bersaing, tumbuh, dan menjadi pelopor pembangunan wisata berbasis lokalitas di Indonesia Timur.

Dompu dan Lakey: Warisan Alam, Warisan Perjuangan

Pantai Lakey telah lama menjadi legenda di kalangan peselancar dunia. Ombaknya yang konsisten dan arah gulungannya yang unik menjadikannya spot langka yang banyak diburu atlet selancar profesional. Namun keindahan ini tidak hadir begitu saja. Ia tumbuh dari kerja keras masyarakat Dompu dalam menjaga kawasan, membangun fasilitas dasar, hingga mempromosikannya ke dunia.

Dahulu, akses ke Lakey sangat terbatas. Jalan berlubang, penginapan seadanya, dan promosi yang nyaris tak terdengar. Namun perlahan, dengan tekad bersama, wajah Lakey berubah. Pemerintah daerah bersama masyarakat bahu-membahu membangun infrastruktur dasar dan memperluas jejaring promosi wisata.

Kini, Lakey bukan hanya dikenal sebagai destinasi selancar, tetapi juga sebagai kawasan yang hidup secara sosial dan budaya. Penginapan lokal, rumah makan, homestay, dan toko oleh-oleh menjadi penggerak ekonomi baru yang memperkuat struktur sosial masyarakat pesisir.

Yang membanggakan, pertumbuhan ini bukan didorong oleh modal besar dari luar semata, tetapi juga oleh peran aktif masyarakat lokal. Anak-anak muda Dompu belajar menjadi pemandu wisata, barista, konten kreator, hingga pengelola event. Inilah transformasi yang berbasis dari bawah.

Warisan Lakey adalah warisan kolektif. Ia bukan milik satu lembaga atau satu generasi, melainkan milik bersama yang harus dijaga dan diwariskan kepada anak cucu. Dan Festival Lakey menjadi alat penting untuk menjaga kesinambungan warisan ini.

Festival Lakey 2025: Merangkai Warna, Merawat Jati Diri

Festival Lakey tahun ini hadir dengan format yang lebih matang, terstruktur, dan inklusif. Tidak hanya menggelar kompetisi surfing, tetapi juga menampilkan kekayaan budaya Dompu: tarian tradisional, parade seni, lomba perahu hias, hingga pertunjukan musik lokal dan kuliner khas.

Ini adalah ajang yang membangun rasa bangga. Festival ini bukan hanya tontonan, tetapi ruang pembelajaran dan penguatan identitas. Setiap stan UMKM, setiap panggung seni, dan setiap aktivitas masyarakat menjadi cerminan dari semangat gotong royong dan inovasi.

Kehadiran generasi muda Dompu sebagai penggerak festival menandakan bahwa regenerasi berjalan. Anak-anak muda bukan hanya penonton, tetapi juga produsen konten, pengelola stan, pengisi acara, bahkan kurator program. Ini penting agar Festival Lakey tidak menjadi event yang usang, tetapi terus relevan dan segar.

Dinas Pariwisata dan Budaya Dompu bersama OPD terkait telah berperan strategis dalam mengoordinasikan kegiatan. Namun yang paling menonjol adalah bagaimana semua pihak—masyarakat, pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha—bersatu dalam satu semangat: memajukan Lakey sebagai wajah terbaik Dompu.

Setiap tahun, Festival Lakey semakin menjadi kalender budaya yang dinanti. Bukan hanya karena kemeriahannya, tetapi karena makna dan visinya yang membumi dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Gelombang Optimisme: Potret Dompu Masa Depan

Lakey bukan hanya pantai, ia adalah masa depan. Di sinilah model pembangunan lokal yang berbasis potensi dan budaya sedang diuji dan dibuktikan. Setiap festival yang digelar adalah proses belajar kolektif: tentang manajemen, kreativitas, dan komitmen.

Dampaknya pun terasa nyata. Okupansi penginapan meningkat, transaksi UMKM melonjak, dan eksposur media sosial Dompu meluas. Bahkan, kehadiran wisatawan asing membawa semangat baru dan peluang jaringan internasional bagi anak muda Dompu.

Sektor lain ikut terdorong: transportasi lokal, penyedia jasa, pemasok produk lokal, dan bahkan komunitas sekolah. Festival ini adalah lokomotif kecil yang mampu menarik gerbong pembangunan daerah secara luas.

Tak hanya itu, Festival Lakey memberi pesan moral penting: bahwa kita tidak harus menjadi kota besar untuk bisa bermakna. Dengan semangat, kreativitas, dan sinergi, daerah seperti Dompu bisa menjadi inspirasi nasional.

Optimisme ini harus terus dirawat. Ia tidak boleh berhenti di euforia event. Ia harus menjadi strategi jangka panjang yang dijalankan dengan keberanian dan ketekunan.

Melampaui Event: Tantangan dan Harapan Kita Bersama

Tentu, semua capaian ini tidak berarti tanpa tantangan. Infrastruktur masih perlu diperbaiki. Akses jalan, kebersihan kawasan, dan ketersediaan fasilitas umum masih harus ditingkatkan. Apalagi jika Lakey ingin benar-benar menjadi destinasi unggulan di kawasan timur Indonesia.

Kapasitas SDM lokal juga menjadi perhatian. Dibutuhkan pelatihan berkelanjutan bagi pelaku wisata agar pelayanan semakin profesional. Perlu juga strategi promosi digital yang lebih agresif, termasuk kerja sama dengan influencer dan media nasional.

Di sisi kebijakan, Festival Lakey perlu didorong masuk dalam program prioritas provinsi dan nasional. Dengan begitu, dukungan anggaran, promosi, dan infrastruktur bisa diperkuat.

Harapan ke depan, Festival Lakey bisa menjadi bagian dari kalender resmi event nasional, bahkan masuk dalam jejaring pariwisata ASEAN. Jika dikelola dengan serius, bukan tidak mungkin Dompu akan dikenal dunia melalui Lakey seperti Bali dikenal karena Kuta.

Lebih dari semua itu, tantangan terbesar kita adalah menjaga semangat kolektif ini tetap hidup. Jangan sampai Festival Lakey hanya jadi agenda seremonial tahunan. Ia harus tetap menjadi gelombang harapan dan jalan pembangunan yang nyata bagi Dompu dan sekitarnya.

Penutup: Ombak yang Membangunkan Daerah

Pantai Lakey adalah anugerah Tuhan untuk Dompu. Tapi yang menjadikannya bernilai adalah semangat masyarakatnya dalam merawat dan menghidupkannya. Festival Lakey adalah puncak dari semangat itu, yang hari ini bukan hanya dinikmati, tapi juga dibanggakan.

Kita percaya, dari setiap pasang ombak yang menyentuh pantai, lahir semangat baru untuk terus bergerak maju. Lakey bukan hanya menyapa dunia, tetapi juga menyadarkan kita bahwa kekuatan daerah ada pada keunikan dan keseriusan kita menjaganya.

Mari kita jadikan Festival Lakey sebagai momentum memperkuat kolaborasi, memperluas mimpi, dan memperteguh tekad membangun Dompu dengan cara kita sendiri—berdikari, berbudaya, dan berdaya.

Dari Lakey, kita belajar bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari pusat. Kadang, ia datang dari pinggir yang tak pernah lelah membangun diri.

Dan dari Lakey, kita tahu: ketika ombak datang, ia membawa pesan. Bukan tentang ketakutan, tapi tentang harapan. Bukan tentang kegaduhan, tapi tentang kehidupan.

*) Penulis adalah Anggota DPR RI, Dapil NTB 1 (Pulau Sumbawa)



COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.