Kasus DBD di Mataram terus meningkat

id puskesmas,DBD,Mataram,NTB

Kasus DBD di Mataram terus meningkat

Seorang petugas Dinas Kesehatan Kota Mataram melakukan pengasapan (Fogging) guna mencegah penyebaran demam berdarah di Kelurahan Karang Baru, Mataram, NTB.FOTO ANTARA/Ahmad Subaidi.

Mataram (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan, kasus demam berdarah dengue (DBD), terus mengalami peningkatan dari 43 kasus di akhir Januari, saat ini sudah tercatat 121 kasus.

"Sampai hari ini, data jumlah kasus DBD tercatat sebanyak 121 kasus. Dari 121 kasus itu, 82 dinyatakan positif sementara sisanya diduga dan menyerupai," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Kamis.

Menurutnya, sebanyak 121 kasus DBD awal tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 pada bulan yang sama dan kasus DBD diprediksi akan terus meningkat hingga bulan Maret seiring dengan perubahan cuaca.

Dikatakannya bahwa kasus DBD yang tercatat 121 itu tersebar pada hampir 50 kelurahan yang ada di Kota Mataram, kecuali Kelurahan Ampenan Utara yang dari tahun lalu nol kasus DBD.

"Kelurahan dengan kasus DBD nya tinggi dari tahun ke tahun adalah Kelurahan Monjok dan Saptamarga. Untuk data jumlah rincian ada di kantor," katanya saat ditemui di seputar Kantor Wali Kota Mataram.

Oleh karena itu, berbagai kegiatan penanganan DBD terus digencarkan dan dioptimalkan pada kelurahan yang memiliki jumlah kasus DBD terbanyak dengan melibatkan aparat di kelurahan dan lingkungan.

"Peran serta kepala lingkungan untuk menggerakkan warganya melakukan upaya pembersihan dan penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sangat penting," katanya.

Selain itu, pihaknya setiap hari melakukan kegiatan pengasapan atau "fogging" fokus pada kelurahan yang warganya positif terjangkit DBD.

"Setiap hari kalau tidak hujan, pengasapan kami lakukan pagi dan sore. Hari ini saja kami melakukan pengasapan di tempat lokasi di wilayah Cakranegara," katanya.

Di samping itu, kegiatan penyuluhan tentang gerakan 3M plus (menguras bak air, menutup dan mengubur barang bekas), plus melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) terus digalakkan.

Selain itu, dilaksanakan juga pemberian bubuk abate kepada semua masyarakat untuk ditaruh pada wadah penampungan air guna mencegah adanya jentik nyamuk. Dinkes juga tetap aktif melakukan berbagai upaya antisipasi melalui sosialisasi dan penyuluhan PHBS dengan menggunakan mobil keliling.

"Dari upaya itu, PSN menjadi gerakan paling efektif karena mampu memusnahkan jentik nyamuk. Kalau pengasapan hanya mampu membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentiknya akan tetap berkembang biak," demikian Usman Hadi .

 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar