PERAN INDONESIA DAN TANTANGAN KERJASAMA ASEAN-PBB

id

F.X. Lilik Dwi Mardjianto

Hanoi (ANTARA) - Kerjasama antara perhimpunan negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah salah satu kerjasama strategis, walaupun belum terlalu matang.

Bermitra dengan PBB merupakan prioritas bagi sejumlah negara anggota ASEAN. Oleh karena itu, ASEAN selalu menyisipkan pertemuan puncak dengan PBB dalam setiap pertemuan puncaknya.

Pertemuan puncak dengan PBB diharapkan bisa mematangkan kemitraan yang saling menguntungkan.

Konferensi Tingkat Tinggi ke-17 ASEAN di Hanoi, Vietnam, merupakan bentuk niat sejumlah pimpinan negara anggota ASEAN untuk memetik keuntungan melalui kerjasama dengan organisasi negara sedunia itu.

Indonesia juga tidak tinggal diam. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir pada sesi pertemuan puncak dengan PBB yang diselenggarakan pada hari kedua KTT ke-17 ASEAN tersebut.

Yudhoyono tidak hadir dalam sesi awal KTT tersebut karena harus kembali ke Indonesia untuk memantau penanganan dampak bencana di Kepulauan Mentawai

Dalam pertemuan puncak ASEAN-PBB itu, Presiden Yudhoyono didampingi oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Sebelum memulai pertemuan, para pimpinan negara anggota ASEAN dan Sekjen PBB Ban Ki-moon sebagai mitra wicara melakukan sesi foto bersama.

Pada sesi foto itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdiri di antara Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung dan Sultan Brunei Sultan Hassanal Bolkiah.

Sesuai tradisi sesi foto, kepala negara yang akan menjadi ketua ASEAN akan berdiri di samping kepala negara yang sedang menjabat sebagai Ketua ASEAN. Ketua ASEAN adalah jabatan bergilir bagi negara-negara anggota organisasi regional Asia Tenggara itu.

Indonesia, yang akan menerima tampuk kepemimpinan ASEAN dari Vietnam, memiliki tugas berat dalam menyelesaikan berbagai masalah di kawasan.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, Indonesia optimistis dengan kemampuan diri sendiri dalam memimpin ASEAN pada 2011 mendatang.

Bahkan, dalam pertemuan puncak ASEAN-PBB di Hanoi, Vietnam, Indonesia telah berinisiatif untuk mengajukan usulan model baru kerjasama ASEAN-PBB. Usulan itu disampaikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Presiden mengemukakan konsep untuk meningkatkan hubungan ASEAN dan PBB menjadi yang sifatnya komprehensif karena selama ini sifatnya sektoral," kata Marty ketika ditemui setelah mendampingi Presiden Yudhoyono dalam pertemuan puncak ASEAN-PBB yang digelar di National Conventional Center, Hanoi, Vietnam.

Marty mengatakan, selama ini negara-negara anggota ASEAN hanya bekerjasama dengan badan-badan utusan PBB secara terpisah. Menurut dia, belum pernah ada kerjasama antara negara anggota ASEAN dengan seluruh badan PBB secara terintegrasi.

Untuk itu, katanya, Indonesia mengusulkan kerjasama terpadu. Dengan begitu, ASEAN dan PBB akan dapat membangun kerjasama di berbagai bidang secara komprehensif atau menyeluruh.

Menurut Marty, kerjasama yang komprehensif dan lintas sektoral itu akan mempermudah proses penilaian atau evaluasi terhadap setiap kemajuan atau bahkan kelemahan kerjasama yang sedang dilakukan.

Marty menjelaskan, kerjasama yang terintegrasi juga merupakan usulan Indonesia yang akan diusung selama menjabat sebagai Ketua ASEAN pada 2011.

"Tadi hal ini oleh Sekjen PBB disambut positif, jadi kita akan bekerja untuk mencapai hal tersebut," kata Marty.

Tantangan kerjasama

Salah satu fokus pertemuan puncak ASEAN-PBB di Hanoi adalah membicarakan sejumlah tantangan, berupa kerjasama yang belum terselesaikan, antara lain kerjasama penanggulangan bencana dan pencapaian sasaran pembangunan milenium (MDGs).

Lagi-lagi, dalam dua bidang itu, Indonesia memiliki peran mencolok.

Terkait penanganan bencana, pertemuan puncak ASEAN-PBB secara khusus membicarakan dampak dan penanggulangan bencana di sejumlah negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Hal ini sangat kontekstual karena Indonesia sedang berduka setelah Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, disapu tsunami dan sejumlah warga Yogyakarta terpanggang awan panas Gunung Merapi.

"Tadi ditekankan bahwa pengalaman negara seperti Indonesia, yang telah berhasil bekerjasama dengan PBB untuk mengatasi ancaman bencana alam seperti itu," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

Marty menjelaskan, mekanisme penanggulangan bencana alam adalah salah satu fokus pembicaraan dalam pertemuan puncak yang juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon itu.

Semua pimpinan negara anggota ASEAN yang hadir dan Sekjen PBB sepakat untuk memperkuat kerjasama kedua organisasi itu dalam penanggulangan bencana dan dampaknya.

Dalam pertemuan puncak itu, Ban Ki-moon juga menyampaikan duka cita mendalam kepada warga negara Indonesia, khususnya yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

"Saya sampaikan duka cita yang mendalam kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas bencana tsunami yang sangat tragis," kata Ban Ki-moon.

Ban Ki-moon menyampaikan hal itu pada bagian awal sambutan di pertemuan di Vietnam, sebelum dia mulai mengulas substansi pertemuan puncak antara negara-negara di Asia Tenggara dan PBB itu.

Pernyataan duka cita itu disampaikan langsung di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sembilan pimpinan negara-negara anggota ASEAN lainnya.

Pertemuan pimpinan ASEAN dan PBB juga membahas percepatan pencapaian MDGs.

MDGs merupakan kesepakatan dunia untuk menanggulangi atau mengurangi kemiskinan, kelaparan, kematian ibu dan anak, penyakit, buta aksara, diskriminasi perempuan, penurunan kualitas lingkungan hidup serta kurangnya kerjasama dunia bagi pembangunan.

Marty mengatakan, secara umum, beberapa negara di Asia Tenggara telah mencapai tujuan milenium itu. Namun, pencapaian itu belum merata di semua negara di kasawan tersebut.

Kelemahan kerjasama di bidang MDGs itu, kata Marty, juga menjadi catatan PBB ketika menggelar KTT Majelis Umum MDGs di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.

"Karena itu ditekankan untuk mengidentifikasi kekurangan itu, jadi bisa bekerja sama dengan ASEAN untuk membantu pencapaian MDGs itu," kata Marty.

Pada kesempatan itu Marty juga menekankan, dalam usaha mencapai pemenuhan kerjasama yang belum rampung, negara-negara ASEAN tidak selalu menjadi pihak yang menerima bantuan.

Pada saat tertentu, negara-negara anggota ASEAN juga berkontribusi untuk membantu perkembangan negara lain, baik di Asia Tenggara maupun di luar kawasan itu.

"Indonesia juga selalu menampilkan bahwa sebenarnya ASEAN bukan pihak yang selalu menerima bantuan. ASEAN selama ini memberikan kontribusi untuk menciptakan perdamaian dan pembangunan," katanya.

(*)