14 Calon KPID NTB Jalani Uji Kelayakan dan Kepatutan

id kpid ,ntb,dprd,pansel,fit and proper test

Ketua Panitia Seleksi Calon KPID NTB H Rais Ishak. (Foto Antaranews/Iman).

Insya Allah, kami tidak akan macam-macam, karena kami memiliki idialisme, intergritas dan moral untuk mengawal proses seleksi KPID ini agar berjalan sesuai dengan harapan masyarakat NTB
Mataram (Antaranews NTB) - Sebanyak 14 calon komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Dearah (KPID) Nusa Tenggara Barat menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi I DPRD NTB.

"Uji kelayakan dan kepatutan dilaksanakan selama tiga hari. Dimulai 12-14 Maret," ujar Ketua Panitia Seleksi Calon KPID NTB H Rais Ishak di Mataram, Selasa.

Ia menuturkan setiap hari ada lima calon menjalani proses tersebut. Sedangkan, pada hari ketiga akan ada empat calon yang menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Nantinya, dari 14 orang nama calon akan dipilih tujuh orang.

"Mereka diambil melalui penilaian, tiap-tiap anggota menilai perorangan, lalu nanti siapa yang dipilih mereka, ditulis lalu kita bacakan untuk selanjutnya kita plenokan di Komisi 1," jelasnya.

Politisi Demokrat itu mengaku lambatnya pelaksanaan seleksi calon KPID selama ini dikarenakan padatnya agenda di kantor DPRD.

Meski demikian, lantaran sudah sempat molor selama enam bulan, maka pihaknya menyepakati akan bekerja marathon untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Untuk itu, setiap pelaksanaan seleksi, pihaknya didampingi oleh tiga orang tim ahli yang kompeten di bidang masing-masing.

"Insya Allah, kami tidak akan macam-macam, karena kami memiliki idialisme, intergritas dan moral untuk mengawal proses seleksi KPID ini agar berjalan sesuai dengan harapan masyarakat NTB," tegas Rais Ishak.

Anggota Komisi I DPRD NTB ini mengungkapkan selama dua hari pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan itu, hampir seluruh peserta yang lolos pada tahapan ini memenuhi kriteria yang dicari oleh tim pansel.

"Sejauh ini semua memenuhi kriteria, bahkan kekuatan antarcalon ini hampir berimbang. Tapi kalaupun ada kekurangan manusiawilah, karena tidak semuanya akan sempurna," jelasnya.

Ia menegaskan, sebanyak 12 orang panitia seleksi ditambah tiga orang tim ahli akan bekerja profesional tanpa adanya tudingan embel-embel membekingi calon tertentu.

Hal itu ditunjukkan, saat proses seleksi, justru calon petahana yang lebih tajam dikorek informasinya terkait kinerja mereka selama menjabat.

"Yang jelas, kami bekerja transparan. Bahkan dalam proses ini kita persilahkan siapapun untuk masuk agar bisa melihat proses yang sedang berlangsung, sehingga proses seleksi ini benar-benar terbuka," kata Rais. (*)
Pewarta :
Editor: Nur Imansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar