POLRI: TERORIS DARI NTB TERKAIT JARINGAN POSO

id

     Mataram, 18/11 (ANTARA) - Mabes Polri menyatakan, sejumlah teroris yang teridentifikasi berasal dari wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait jaringan terorisme di Poso, Sulawesi Tengah.

     "Muhammad Khairi itu jenazahnya sudah diantar ke kampung halamannya di Bima, iateridentifikasi terkait jaringan Poso. Ada satu lagi temannya yang ditangkap juga dari NTB," kata Kepala Biro (Karo) Penerangan Masyarakat (Penmas) Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar, di Mataram, Minggu.

      Boy mendampingi Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo, saat menghadiri upacara pembukaan  Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) ke-33, yang dipusatkan di Pulau Lombok, NTB, 17 November hingga 16 Desember 2012.

      Latsitardanus 2012 itu diikuti oleh 1.292 orang peserta dan 247 orang pengasuh. Sebanyak 1.292 orang peserta Latsitadanus itu, berasal dari para taruna Akademi Militer, Kadet Akademi Angkatan Laut (AAL), Karbol Akademi Angkatan Udara (AAU), Taruna-taruni Akademi Kepolisian (Akpol) calon praja Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), dan mahasiswa.          

     Peserta dari Akademi Militer sebanyak 239 orang, AAL sebanyak 105 orang, AAU sebanyak 109 orang, Akademi Kepolisian (Akpol) sebanyak 293 orang terdiri dari taruna sebanyak 244 orang dan taruni 45 orang.

      Peserta dari unsur praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sebanyak 200 orang, terdiri dari 150 orang praja laki-laki dan 50 orang praja wanita, dan mahasiswa sebanyak 162 orang, terdiri dari mahasiswa sebanyak 102 orang dan mahasiswi sebanyak 60 orang.

      Boy mengatakan, Khairi teridentifikasi beraktivitas di Poso, melakukan aktivitas yang mengarah kepada tindak pidana terorisme, seperti perencanaan dan pelatihan. Hal itu terbukti dari barang bukti yang disita petugas dari kediamannya di Poso.

      "Bahkan, Khairi diketahui mengajak teman-temannya dari NTB untuk bergabung dalam jaringan Poso. Salah satu yang ditangkap itu temannya Khairi, yang juga dari NTB," ujar Boy.

       Khairi yang sebelumnya berprofesi sebagai guru di Pondok Pesantren Umar bin Khattab (UBK) Bima, menjadi korban penembakan Densus 88 saat penangkapan di Desa Karola, Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, 31 Oktober 2012.

       Bersamaan dengan itu, Densus 88 juga menangkap MR dan RH yang kini berada di Markas Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok. Salah satunya merupakan rekan Khairi yang juga berasal dari NTB.

       Jenazah Khairi lalu dibawa Densus 88 ke Rumah Sakit Polri, di Kramat Jati, Jakarta, untuk diidentifikasi, dan beberapa pekan kemudian dipulangkan ke kampung halamannya di Desa Rato, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, NTB, hingga dimakamkan, pada 14 November 2012.

      Menurut Boy, Polri terus berupaya memberantas jaringan terorisme Poso dan jaringan lainnya, agar para teroris tidak semakin bertambah.

      "Kita berharap kondisi seperti itu tidak semakin bertambah. Bagi kita dari mana pun yang ada di Poso ditelusuri satu peorsatu. Asalnya beda-beda, ada yang dari Jawa, Sulawesi, Maluku, dan daerah lainnya. Intinya mereka yang melakukan aksi terorisme dilakukan penyelidikan, dan disikapi sesuai ketentuan hukum," ujarnya.

      Mabes Polri beserta jajarannya di daerah, tambah Boy, juga terus berupaya menjalin komunikasi dengan pemuka masyarakat, tokoh agama, dan semua pihak yang berpeluang diajak kerja sama memberantas terorisme. (*)


Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar