Jumat, 20 Oktober 2017

Wamen ESDM Meninjau Lokasi Proyek PLTMG Sumbawa

id Wamen ESDM
Wamen ESDM Meninjau Lokasi Proyek PLTMG Sumbawa
Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar berdiskusi dengan jajaran PLN di lokasi proyek PLTMG Sumbawa. (Foto ANTARA NTB/Awaludin)
"Dari hasil presentasi tadi, kemajuan proyek ini sesuai dengan rencana"
Sumbawa Besar (Antara NTB) - Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Arcandra Tahar meninjau lokasi proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Sumbawa, di Labuan Badas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Minggu (24/9).

"Proyek pembangkit besar seperti ini tentu harus sesuai dengan perencanaan. Dari hasil presentasi tadi, kemajuan proyek ini sesuai dengan rencana, namun tentu harus terus dijaga agar dapat selesai tepat waktu," kata Arcandra, ketika mengadakan diskusi dengan jajaran PLN di lokasi proyek.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Direktur PLN Regional Bisnis Jawa Timur, Bali-Nusa Tenggara Djoko R Abumanan, Anggota Komisi VII DPR RI Dr Zulkiflimansyah, dan Bupati Sumbawa H M Husni Djibril.

Pembangunan PLTMG Sumbawa berkapasitas 50 megawatt (MW) masuk ke dalam program pembangunan pembangkit 35.000 MW yang diusung oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Proses pembangunan PLTMG Sumbawa dimulai sejak Juni 2017, dan ditargetkan akan selesai pada akhir 2018.

Pembangkit listrik itu akan memperkuat sistem kelistrikan Sumbawa dan merupakan upaya percepatan peningkatan rasio elektrifikasi, serta pertumbuhan ekonomi NTB.

"Pembangkit listrik itu diperkirakan mampu melistriki hingga 110 ribu keluarga," katanya.

PLN menyadari bahwa listrik menjadi kebutuhan utama masyarakat. Oleh karena itu, PLN terus berupaya agar pembangkit listrik tersebut bisa selesai tepat waktu, sehingga bisa memperkuat sistem kelistrikan Sumbawa dan listriknya bisa dinikmati oleh masyarakat.

Untuk diketahui, rasio elektrifikasi NTB hingga Juli 2017 mencapai 81,14 persen, sementara khusus di Pulau Sumbawa telah mencapai 85,3 persen.

Dengan masuknya PLTMG Sumbawa diharapkan rasio elektrifikasi di NTB, dapat meningkat hingga di atas 95 persen pada 2019.

Pulau Sumbawa saat ini masih terbagi menjadi dua sistem kelistrikan, yaitu Sistem Bima dan Sistem Sumbawa.

Sistem Bima memiliki kapasitas pembangkit mencapai 50 MW dengan beban puncak sebesar 42 MW. Sementara, untuk Sistem Sumbawa saat ini memiliki kapasitas terpasang sebesar 56 MW dengan beban puncak sebesar 38,6 MW.

Arcandra mengatakan dengan tambahan 50 MW dari PLTMG Sumbawa, maka pasokan listrik di Sumbawa akan bertambah hampir dua kali lipat.

"Kalau PLTMG Sumbawa selesai, cadangan daya akan tercukupi, minimal 30 persen lebih besar dari beban puncak. Tugas selanjutnya, tentu kita harus mendorong pertumbuhan bisnis atau industri agar listrik ini dapat terserap," ujarnya.

Tidak hanya PLTMG Sumbawa, PLN juga sedang melakukan pembangunan beberapa pembangkit baru di Pulau Sumbawa, antara lain PLTMG Bima dan PLTU Bima yan ditargetkan dapat beroperasi pada akhir tahun 2018.

Untuk memperkuat keandalan, PLN juga sedang membangun jaringan interkoneksi Sumbawa-Bima secara bertahap dan ditargetkan selesai pada 2018.

Jika Sumbawa dan Bima sudah terinterkoneksi dengan jaringan transmisi, maka pasokan daya dari seluruh pembangkit dapat disalurkan ke seluruh pelanggan yang berada di Pulau Sumbawa, mulai dari Sumbawa Barat, hingga Kabupaten Bima.

Direktur PLN Bisnis Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Djoko R Abumanan, mengatakan pembangunan infrastruktur tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan daya listrik, khususnya di Pulau Sumbawa.

"Harapannya, ini akan mengundang investor untuk bangun usaha di Sumbawa. Apalagi ada potensi pariwisata di sini. Jadi, mau bangun hotel atau kawasan wisata tidak perlu takut. Masalah listrik, PLN siap memenuhi kebutuhannya," ujar Djoko.

Ia mengatakan munculnya investasi ini diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian daerah. (*)

Editor: Awaludin

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga