Polisi buru pembegal turis Jerman di Lombok Tengah

id Polres Lombok Tengah,Buru Begal

ilustrasi pembegelan (ANTARA News Bangka Belitung)

Para pelaku masih dalam pengejaran
Mataram (Antaranews NTB) - Kepolisian Resor Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, masih memburu para pelaku pembegalan terhadap Alexandra Tiomirova Alexieva (30), seorang turis asal Jerman.

"Para pelaku masih dalam pengejaran," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lombok Tengah AKP Rafles P Girsang ketika dihubungi dari Mataram, Senin.

Turis asal Jerman itu dibegal di Desa Mekar Sari, Kecamatan Praya Barat, oleh dua orang yang berboncengan sepeda motor pada Jumat (8/6) sekitar pukul 15.30 WITA.

Korban yang berboncengan dengan rekannya Michel Schodder (32), hendak pulang dari pantai Selong Belanak, ke salah satu penginapan di Kuta, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah.

Para pelaku memepet korban dan berhasil merampas tas milik Alexandra Tiomirova Alexieva. Tas tersebut berisi dua unit telepon genggam, kartu kredit, uang tunai Rp2 juta, dua satu unit "ipod" serta "tablet book".

Kedua wisatawan asing tersebut tidak mengalami luka, namun kerugian akibat kehilangan harta benda mencapai puluhan juta rupiah.

"Kondisi kedua wisatawan itu tidak mengalami luka serius. Dan kami berupaya menangkap pelakunya," kata Rafles.

Kasus pembegalan wisatawan asing di destinasi wisata Lombok Tengah bagian selatan sudah kesekian kalinya. Terakhir dua orang wisatawan asal Jerman dibegal di jalan Raya Meresek, Dusun Ebangha, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, pada 2 Maret 2018.

Pembegalan juga terjadi pada 18 September 2017. Korbannya adalah dua orang warga Jerman yang melintas menggunakan sepeda motor di Jalan Dusun Sereneng, Desa Mertak, Kecamatan Pujut.

Menanggapi masalah tersebut, anggota Komisi II DPRD NTB yang membidangi pariwisata dari Fraksi PDI Perjuangan Made Slamet, menyayangkan masih terjadinya aksi pembegalan terhadap turis yang berkunjung ke destinasi wisata.

"Sangat disayangkan pariwisata yang sudah berkembang luar biasa dan menjadi andalan untuk penerimaan daerah. Dengan proses penyelesaian yang berliku-liku di KEK Mandalika, seharusnya sudah `on the track`, tetapi masih ada hal klasik persoalan keamanan," katanya.

Menurut dia, aksi kejahatan tersebut mungkin saja terjadi karena masih ada masyarakat yang merasa belum menikmati dari hasil pariwisata. Selain karena faktor kebiasaan.

Kondisi tersebut harus memperoleh dukungan dari semua pihak, terutama tokoh agama. Slamet berharap tokoh agama bisa memberikan pencerahan melalui berbagai ceramah yang didalamnya ada mater tentang keamanan dan kenyamanan bagi orang luar yang berkunjung ke daerah.

"Tamu yang datang memberikan efek luar biasa kepada ekonomi daerah. Kita lihat Bali, Yogyakarta dan Jawa Timur. Itu `kan luar biasa. Kami berharap tokoh agama melakukan pendekatan lewat berbagai cara termasuk dalam ceramah," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar